Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Blog Resmi DPC PKS Beringin Deli Serdang - Provinsi Sumatera Utara. www.pks-beringin.blogspot.com. Jika ada pertanyaan dan saran harap di kirimkan ke Email DPC PKS Beringin di.. pks.beringin.deliserdang@gmail.com

Jumat, 01 Juli 2011

Jumat, 01 Juli 2011

Pesona Jiwa Raga


Pada mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menantikan pandanganmu. Jiwa membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang magnetiknya. Jiwa meniupkan kebajikannya.

Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga.

Tapi selalu ada bias disini. Ketika ketertarikan fisik disebut cinta tapi kemudian kandas ditengah jalan. Atau ketika cinta tulus pada kebajikan jiwa tak tumbuh berkembang sampai waktu yang lama. Bias dalam jiwa ini terjadi karena ia selalu merupakan senyawa spritualitas dan libido. Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas kehidupan yang panjang. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara.

Biasnya adalah ketidakjujuran yang selalu mendorong kita memenangkan salah satunya: jiwa dan raga. Jangan pernah pakai “atau” disini. Pakailah “dan”: kata sambung yang menghubungkan dua pesona itu. Sebab kita diciptakan dengan fitrah yang menyenangi keindahan fisik. Tapi juga dengan fakta bahwa daya tahan pesona fisik kita ternyata sangat sementara. Lalu apakah yang akan dilakukan sepasang pecinta jika mereka berumur 70 tahun? Bicara. Hanya itu. Dan dua tubuh yang tidur berdampingan di atas ranjang yang sama hanya bisa saling memunggungi. Tanpa selera. Sebab tinggal bicara saja yang bisa mereka lakukan. Begitulah pesona jiwa perlahan menyeruak di antara lapisan-lapisan gelombang magnetik fisik: lalu menyatakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa apa yang membuat dua manusia bisa tetap membangun sebuah jangka panjang sesungguhnya adalah kebijakan jiwa mereka bersama.

Seperempat abad lamanya Rasulullah saw hidup bersama Khadijah. Perempuan agung yang pernah mendapatkan titipan salam dari Allah lewat malaikat Jibril ini menyimpan keagungannya begitu apik pada gabungan yang sempurna antara pesona jiwa dan raganya. Dua kali menjanda dengan tiga anak sama sekali tidak mengurangi keindahan fisiknya. Tapi apa yang menarik dari kehidupannya mungkin bukan ketika akhirnya pemuda terhormat, Muhammad bin Abdullah, menerima uluran cintanya. Yang lebih menarik dari itu semua adalah fakta bahwa Rasulullah saw sama sekali tidak pernah berpikir memadu Khadijah dengan perempuan lain. Bahkan ketika Khadijah wafat, Rasulullah saw hampir memutuskan untuk tidak akan menikah lagi.

Bukan cuma itu. Bahkan ketika akhirnya menikah setelah wafatnya Khadijah, dengan janda dan gadis, beliau tetap berkeyakinan bahwa Khadijah tetap tidak tergantikan. “Allah tetap tidak menggantikan Khadijah dengan seseorang yang lebih baik darinya,“ kata Rasulullah saw.

Terlalu agung mungkin. Tapi memang begitu ia ditakdirkan: menjadi cahaya keagungan yang menerangi jalan para pecinta sepanjang hidup. Pengalaman di sekitar kita barangkali justru selalu tidak sempurna. Karena biasanya selalu hanya ada “atau” bukan “dan” dalam pesona kita. Atau bahkan tidak ada “dan” apalagi “atau”. Ketika pesona terbelah seperti itu, cinta pasti berada di persimpangan jalan, selamanya diterpa cobaan, seperti virus yang menggerogoti tubuh kita. Dalam keadaan begitu penderitaan kadang tampak seperti buaya yang menanti mangsa dalam diam.

Anis Matta
Posted By : PKS Beringin

PKS: Indonesia Benar-benar Mengalami Krisis Kepemimpinan


Dinamika politik dan hukum Indonesia semakin runyam. Para tokoh dan pimpinan nasional saling serang.
Saat ini, Ketua DPR dan Ketua DPD saling hantam soal pembangunan gedung DPD. Ketua MK dan mantan hakim MK saling tuding melanggar kode etik. Sementara ada mantan menteri yang memperolok para menteri, ada juga menteri yang sedang menjabat malah membohongi publik.
“Ini pertanda Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan,” kata anggota Komisi III dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Aboe Bakar Al Habsy kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 30/6).


Karena itu, Aboe menyarankan Marzuki Alie dan Laode Ida segera menghentikan serangan di berbagai media. Aboe juga mendesak Mahfud MD dan Arsyad Sanusi tidak lagi saling melontarkan tudingan.
“Pak Marzuki dan Pak Laode bisa duduk bersama. Pak Mahfud dan Pak Arsyad juga sama-sama membesarkan MK, jadi tak perlu saling memojokkan. Soal surat palsu, serahkan saja pada proses hukum,” kata Aboe.
Aboe juga mengingatkan Yusril Izha Mahendra agar melakukan komunikasi politik dengan baik dan tidak perlu mencaci para pejabat negara yang menurutnya salah.
“Tak elok lah kalo beliau (Yusril) bilang goblok ke Patrialis Akbar dan Basrief Arief,” harap Aboe.
Saran lain juga diberikan Aboe kepada Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa terkait kabar permintaan maaf fiktif Dubes Arab Saudi untuk Indonesia dalam kasus pemancungan Ruyati binti Satubi.
“Pak Menlu harus menunjukkan kredibilitasnya, bila tidak bohong sebaiknya segera buat klarifikasi. Kalo tidak segera minta maaf dan mundur,” demikian Aboe.
 
Posted By : PKS Beringin

At Ta’shil At Tarbawi

Sering sekali kita mempertentangkan antara ta’shil (upaya kembali kepada ashalah atau keorisinilan) dengan tathwir (upaya pengembangan). Seakan dua hal itu adalah dua kutub yang selalu bersebarangan dan berlawanan. Hal ini terjadi dalam segala hal; dalam masalah makanan, tempat tinggal, pakaian, pendidikan, kebudayaan, dan lain sebagainya.
Dalam tataran da’wah dan tarbiyah, pertentangan dua hal itu seringkali juga terbawa-bawa. Bahkan terkadang membentuk dua arus yang saling berhadapan, istilah arabnyawajhani mu-tadhaddzani (dua wajah saling berhadapan). Repotnya lagi terkadang hal ini berdampak kepada munculnya dua kubu yang tidak bisa bertemu. Kubu pengusung panjiashalah dan kubu pendukung tathawwur. Lebih berbahaya lagi kalau masing-masing kubu itu berusaha membangun jaringan pengikut fanatik, dan masing-masing pihak mengklaim bahwa dirinyalah yang berada dalam pihak kebenaran, sementara pihak satunya telah berada pada kesalahan. Pendukung panji ashalah mengatakan bahwa para pendukung tathawwur adalah orang-orang yang telah inhiraf (menyimpang) dari al khath al mustaqim (garis lurus dan istiqamah). Sehingga tidak layak mereka membangun jaringan pengikut, pendukung dan klaim tarbiyah dan da’wah. Sementara kubu tathawwur mengatakan bahwa para pengusung panji ashalah adalah orang-orang yang jumud (kaku) dan tidak bisa muwakabatuz-zaman (mengikuti perkembangan zaman), apa-lagi men-saitharah-inya (menguasainya).
Kasus seperti ini telah benar-benar terjadi di salah satu negeri muslim, dan bisa saja terjadi di negeri-negeri lainnya, jika tidak segera diambil langkah-langkah antisipasi, baik dalam tataran tashawwurat (persepsi), mafhum (konsepsi), dan khuthuwat ‘amaliyah (langkah-langkah operasional).
Kalau begitu, bagaimana sih sebenarnya duduk perkara, atau meminjam istilah ‘ulama’ fiqih asbabul khilaf (penyebab perbe-daannya)?
Jika kita telah mampu mendudukkan dua tadi secara tepat, insyaallah wa bi-idznihi, pertentangan seperti itu tidak akan ter-jadi, insyaallah. Atau minimal kita bisa meminimalisir wilayah dan dampak-dampak negatifnya.
Ikhwati fillah …
Hubungan antara ashalah dan tathawwur ibarat hubungan antara tahu dan cara meyuguhkan tahu itu kepada konsumen.
Suatu kali saya bertemu dengan salah seorang ikhwah. Dia bercerita bahwa baru saja ia mengkritik istrinya. “Mi, kenapa sih lauk kita dari hari ke hari tahu, tempe dan ini-ini saja?” kata seorang ikhwah tadi kepada istrinya.
Mendapat kritikan tajam begini, sang istri pun tidak mau mengalah. “Habis, uang belanja yang abi berikan cuman segini-gini saja, coba abi kasih yang agak besaran dikit, kita bisa gonta-ganti menu”. Jawaban sang istri tidak kalah serunya.
“Kalau begitu, gini aja deh mi, boleh ummi tetap konsisten dengan menu yang hanya tempe tahu saja, karena memang hanya inilah -sampai saat ini- kesanggupan abi, tapi kan bisa saja bentuknya, modelnya, cara mengolahnya, dan menampilkannya dan semacamnya bisa ummi rubah!”.
Mendengar tanggapan balik suaminya, sang istri mikir-mimir juga. “betul juga kata suami”, katanya dalam hati.
Sang suamipun segera pergi dari rumah untuk melakukan tugas ibadah mu’amalah-nya.
Sang istri yang di rumah, pusing juga memikirkan bagaimana cara menampilkan dan mengolah tempe tahu dalam format-nya yang baru. Setelah lama memeras otak, ketemu juga satu ide yang layak dicoba.
“Ini tahu bentuk aslinya segi empat, gimana kalau saya rubah agar bentuknya menjadi bulat kayak telur”. Katanya dalam hati. “Terus gimana caranya ya?”. “Oh ya, bisa saja tahu ini saya blender, lalu saya campur dengan sedikit telur, lalu bentuknya saya rubah menjadi bulat”.
“OK, kenapa tidak dicoba, biar suami tambah kesengsem sama yang di rumah (maksudnya sama makanan dalam format baru ini, tentunya sama yang membuat juga, he he)”. Kata sang istri dalam hati.
Fikrah-pun segera berubah menjadi harakah, ambil tahu, ambil blender, masukkan tahu ke blender, colokkan ke listrik, dan ” weeerrr, harakah-pun beranjak ke tanfidz.
Siangnya, saat sang suami pulang untuk menyantap makan siang, iapun senyum-senyum simpul mengacungkan jempol di hadapan istrinya atas fikrah-nya yang brilian, dan yang tentunya telah beranjak kepada harakah dan tanfidz, dengan husnul ada’ (kualitas pelaksanaan yang prima). “Ini nih baru OK punya”, kata sang suami kepada sang istri.
Gambaran cerita di atas menujukkan bahwa ashalah sebenarnya membutuhkantathawwur agar mampu mengikuti perkembangan zaman, dan tathawwur tidak boleh ngawur, akan tetapi harus berangkat dari ashalah agar tetap berada pada ash-shirath al mustaqim.
Dalam contoh kasus tahu tadi, tahu dengan segala komponennya, bisa kita anggap sebagai cermin ashalah, sedangkan cara mengolah, cara menyuguhkan, bentuk, dan sebagainya, bisa kita istilahkan sebagai refleksi dari tathawwur.
Wallohu A’lam

Posted By : PKS Beringin

PKS: Soal BBM, Jangan Jadikan Ulama Tameng


Awal minggu ini, Majelis Ulama Indonesia berkunjung ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk membahas budaya hemat energi. Usai kunjungan tersebut, MUI mengkaji fatwa haram bagi pengguna BBM bersubsidi atau premium.
Ketua MUI Amidhan menyatakan, dilihat dari segi hak, tidak etis apabila subsidi untuk orang miskin diambil oleh orang mampu. “Mengambil jatah orang miskin itu bisa mengarah ke pelanggaran HAM. Setahu saya, orang kaya yang mempunyai mobil mewah juga tidak mau membeli BBM jenis premium,” kata Amidhan.
Namun kajian fatwa haram BBM bersubsidi tersebut langsung mendapat reaksi keras dari sejumlah masyarakat. MUI dinilai tidak pada ranahnya apabila mengeluarkan fatwa soal BBM. Hal itu dipandang sebagai ranah kebijakan pemerintah yang tidak seharusnya dicampuradukkan dengan persoalan agama.
PKS, salah satu partai koalisi pendukung pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lantas meminta pemerintah untuk menempatkan ulama secara bijak dalam menghadapi persoalan bangsa. “Ulama diperlukan untuk memberi masukan bagi substansi kebijakan pemerintah, tapi pemerintah harus bertanggung jawab penuh untuk kebijakan yang akan mereka ambil,” kata Ketua Fraksi PKS Mustafa Kamal kepada VIVAnews, Rabu 29 Juni 2011.
“Jangan sandarkan kebijakan pada ulama. Jangan jadikan ulama tameng bagi kebijakan pemerintah. Itu merendahkan ulama,” ujar Mustafa lagi. Ia meminta pemerintah menempatkan ulama pada proporsinya. Pemerintah, lanjut Mustafa, harus mengambil kebijakan secara mandiri.
“Soal BBM, ini kok malah seperti menaruh ulama di depan. Seharusnya pemerintah yang berada di depan,” tegas Mustafa. MUI sendiri belum resmi memutuskan fatwa soal BBM. “Itu hanya usulan, belum ditetapkan sebagai fatwa,” kata Amidhan.


Posted By : PKS Beringin

Oleh-oleh Utama Isra’ Mi’raj


Beruntunglah orang-orang yang kekasihnya kembali dari perjalanan panjang, lalu ia mendapatkan oleh-oleh istimewa. Sepanjang sejarah manusia, tak pernah ada perjalanan yang lebih panjang jaraknya melebihi isra’ mi’raj. Tiada pula oleh-oleh yang lebih istimewa daripada oleh-oleh utama perjalanan spiritual itu. Maka, tidak ada orang yang lebih beruntung melebihi mereka yang mendapatkan oleh-oleh utama isra’ mi’raj itu lalu menikmatinya.


Shalat lima waktu adalah oleh-oleh utama isra’ mi’raj. Bahkan, banyak orang yang hafal bagaimana perjuangan Rasulullah mondar-mandir dari langit keenam ke Sidratul Muntaha dan sebaliknya; demi mengurangi jumlah kewajiban shalat untuk umatnya. Perjuangan itu akhirnya berhasil, umat Muhammad hanya diwajibkan shalat lima waktu, dari lima puluh waktu sedianya.
Oleh-oleh utama isra’ mi’raj itu dibagikan begitu saja oleh Rasulullah SAW kepada seluruh sahabatnya. Semua kebagian, semua mendapatkan. Lalu semua menikmati. Sebab mereka sadar ini bukan oleh-oleh biasa. Ini adalah metode Rabbaniyah bagi manusia untuk berhubungan dengan Rabbnya. Saat-saat khusyu’ dalam shalat menjadi saat-saat paling nikmat dalam kehidupan para sahabat. Saat-saat khusyu’ dalam shalat lima waktu merupakan saat-saat yang paling mereka rindu. Mereka begitu menikmati oleh-oleh isra’ mi’raj itu.
“Apabila Abdullah bin Az-Zubair sudah mendirikan shalat,” tutur Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin, “maka seakan-akan ia adalah sebatang pohon, karena khusyu’nya. Saat dia sujud lalu ada beberapa ekor burung yang hinggap di punggungnya, maka hal itu tak membuatnya terusik.”
Ali bin Abu Thalib tak kalah khusyu’nya. Ketika suatu saat ia terkena panah, sahabat lain hendak membantunya mencabut anak panah itu. Saat itu belum ada obat bius yang bisa meringankan sakit. Sudah tentu mencabut anak panah akan sangat menyakitkan rasanya. Namun Ali punya kiat tersendiri. “Biarkan aku shalat,” katanya, “ketika aku di tengah shalat nanti, cabutlah anak panah ini. Ia takkan terasa apa-apa.” Begitulah. Sungguh luar biasa.
Sewaktu Rasulullah kembali dari peperangan Dzatur Riqa’, beliau beristirahat bersama seluruh pasukan muslim pada suatu jalan di atas bukit. “Siapa yang bertugas kawal malam ini?,” Tanya Rasulullah.
“Kami, ya Rasulullah!” jawab Abbad bin Bisyr dan Ammar bin Yasir. Mereka lalu membagi jadwal, Ammar bin Yasir istirahat dulu sementara Abbad bin Bisyr berjaga, lalu sebaliknya.
Suasana malam sunyi, tenang, dan angin yang berhembus sepoi serta suara alam membuat Abbad juga ingin menikmati penjagaan itu bersama Rabbnya. Ia pun shalat. Dan dalam sekejap ia telah khusyu’ menikmati berduaan dengan Rabbnya.
Tiba-tiba, dari sebuah arah melesatlah anak panak tepat mengenai Abbad. Abbad mencabut panah itu sambil terus tenggelam dalam shalat. Panah datang lagi mengenai tubuh Abbad, dan ia mencabutnya lagi. Darah telah bercucuran namun Abbad tetap nikmat dalam shalatnya. Kemudian panah melesat lagi mengalirkan darah lebih deras. Setelah mencabutnya, tibalah giliran jaga Ammar bin Yasir. “Bangun, aku terluka parah dan lemas!”
Melihat Ammar bangun, si pemanah segera pergi. Ammar menyaksikan darah Abbad mengucur dari tiga lubang luka. “Subahanallah! Mengapa engkau tidak membangunkan ketika panah pertama mengenaimu?” Tanya Ammar.
“Aku sedang membaca surat dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Allah! Kalaulah tidak karena takut akan menyia-nyiakan tugas yang dibebankan Rasulullah, menjaga mulut jalan tempat kaum muslimin berkemah, biarlah tubuhku putus daripada memutuskan bacaan dan shalat.” Subhaanallah. Begitulah generasi sahabat sangat menikmati oleh-oleh utama isra’ mi’raj.
Kini giliran kita. Zaman kita. Oleh-oleh itu tetap ada. Yang menjadi persoalan, apakah kita menerima oleh-oleh itu dengan gembira lalu menikmatinya, atau kita bermuka masam lalu membuangnya. Apakah kita berusaha khusyu’ dalam shalat atau justru menganggapnya sebagai beban.
Oleh-oleh itu tetap ada. Apakah kita akan menjadi kebalikan dari para sahabat Nabi? Mereka tidak merayakan isra’ mi’raj namun begitu luar biasa menikmati oleh-oleh utamanya; sementara kita? Banyak diantara kita yang merayakan isra’ mi’raj tetapi justru terbebani dengan oleh-oleh utamanya. [Muchlisin]

Posted By: PKS Beringin

 

"Terima Kasih Atas Kunjungannya dan Sebelumnya Meminta Maaf, Apabila ada Kesalahan dan Kekhilafan dalam Menyajikan Informasi Serta terdapat Link-Link yang belum Aktif". Jazzaakallah Khairan Katsiran, Assalamu'alaikum Wr, Wb. ^_^

Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates