Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Blog Resmi DPC PKS Beringin Deli Serdang - Provinsi Sumatera Utara. www.pks-beringin.blogspot.com. Jika ada pertanyaan dan saran harap di kirimkan ke Email DPC PKS Beringin di.. pks.beringin.deliserdang@gmail.com

Kamis, 06 Oktober 2011

Kamis, 06 Oktober 2011

Anis Matta : Pernyataan Fahri Lebih Kepada Kritik Kinerja 9 Tahun KPK


Pernyataan Fahri Hamzah untuk membubarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), adalah bentuk kritik terhadap kinerja dan capaian 9 tahun terakhir. Terlalu berlebihan bila ditanggapi secara sentimentil seperti yang dilakukan Ketua KPK Busyro Muqoddas.
“Pak Busyro tidak perlu membawa persoalan itu kepada PKS. Lebih bagus beliau menjawab wacana itu secara subtantif. Apa pentingnya itu sikap pribadi dan sikap fraksi?” gugat Sekjen PKS Anis Matta.
“Lebih bagus begitu daripada dibawa ke pendekatan sentimentil,” sambung Anis kepada wartawan usai menghadiri upacara peringatan HUT ke-66 TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (5/10/2011).
Menurutnya, wacana pembubaran KPK yang dilontarkan Fahri Hamzah seharusnya dipandang secara kontekstual. Yaitu evaluasi terhadap kinerja dan capaian KPK sebagai lembaga tinggi negara bidang penegakan hukum sejak dibentuk 9 tahun lalu.
“Konteks besarnya mengevaluasi 9 tahun perjalanan KPK secara keseluruhan. Kita lihat di survei, kredibilitas KPK terus menurun. Kalau dievaluasi pantas saja,” terang Anis.
Lebih lanjut politisi senior PKS ini menegaskan kritik merupakan bagian yang sah dalam praktek negara demokrasi. Sama sekali tidak ada larangan bagi warga negara melontarkan kritik bahwa ide membubarkan lembaga tinggi negara.
“Tiap hari juga DPR dikritik masyarakat. Apa yang salah dengan itu? Presiden juga dikritik. Itulah demokrasi,” ucapnya.
 
Posted By : PKS BERINGIN DS

Pilkada Banten : Jazuli Lebih Visioner Dari Kandidat Lainnya





Seiring dengan waktu pemilihan Gubernur Banten semakin mendekat hanya hitungan hari. Nampaknya atmosfer politik di Banten-pun semakin memanas. Para kader partai sudah merapatkan barisan untuk memenangkan calon yang diusungnya. Beragam usaha untuk menaikkan citra calon sudah dilakukan kendati masih terkesan malu-malu dan terselubung.
Dari ketiga pasangan calon yang akan muncul keluar untuk menjadi orang nomor satu di Banten. Yang layak dan pantas memiliki misi – visi kuat dan jelas untuk memimpin propinsi termuda di Pulau Jawa ini.
Sementara pengamatan Direktur Banten Media Monitoring (BMM), Muhammad Farid, dari ketiga pasangan calon yang layak dan pantas memimpin Banten menurutnya, pasangan usungan partai keumatan JAMU (Jazuli – Zakki). Farid menilai pasangan JAMU memiliki visi yang jelas dan tegas tentang masa depan Banten.
“Kami melihat JJ sanga respon terhadap berbagai persoalan yang muncul di Banten, kami menilai bahwa Jazuli memiliki visi yang jelas dan cepat, jika dibandingkan dengan dua calon rivalnya (Atut-Rano, WH-Irna),” tegasnya.
Selain itu, ditinjau dari segi kapabilitas, cetus Farid, Jazuli bisa dikatakan sudah sangat matang dalam dunia politik. Pengalamannya sebagai anggota DPR-RI bisa menjadi modal berharga. Farid juga menilai bahwa sejauh ini Jazuli tetapt fokus pada program-programnya dan tidak tergoda untuk menanggapi isu politik yang menurutnya tidak penting. Ini nilai lebih Jazuli.
Dijelaskan Farid, Jazuli Juwaini adalah figur yang paling visioner. Ia memiliki konsep pembangunan yang jelas di setiap sektor, baik sektor pendidikan, ekonomi, budaya, dan sektor-sektor vital yang lain.
“Inilah dimensi krusial yang harus dimiliki oleh pemimpin. Jika pemimpin suatu wilayah visioner, maka, peluang wilayah tersebut untuk maju sangat terbuka lebar. Dan itu dimiliki JJ,” tegasnya.
Jazuli menurut Farid memiliki konsep yang sangat kreatif, spesifik, dan logis untuk dituangkan ke dalam ranah praktis. Ia berbeda dengan para calon lain yang lebih banyak berkutat dengan aspek teoritis. Sehingga, konsep-konsepnya sangat sulit untuk diterjemahkan ke dalam bentuk nyata.
Dalam bidang ekonomi misalnya, road map Jazuli sangat jelas berpihak kepada rakyat miskin, “Ketika pakar yang lain menyodorkan razia sebagai solusi untuk menekan angka urbanisasi, Jazuli justru sebaliknya. Ia mengatakan bahwa cara yang paling tepat adalah memeratakan pembangunan. Memperluas jangkauan pembangunan hingga mencapai pedesaan,” cetus Farizd.
Farizd mengungkapkan, arus urbanisasi terjadi karena masyarakat desa melihat pembangunan terpusat di wilayah kota. Akibatnya, kota memiliki magnet yang kuat untuk menarik minat masyarakat desa. Sementara di sisi lain, desa kehilangan daya tariknya dan dianggap tidak memiliki prospek ekonomi yang cerah di masa depan. Justru fenomena seperti ini menjadi prhatian besar bagi JJ.
Bukti kongkrit atas hal ini adalah, Cetus Farizd, meskipun saat ini sudah memiliki kedudukan politik yang tinggi sebagai wakli rakyat, beliau tidak melulu aktif mengomentari isu-isu yang bersifat makro. Akan tetapi, beliau juga sangat serius dalam menanggapi dan menyikapi isu-isu yang bersikap mikro. Khususnya jika isu-isu tersebut berkaitan dengan masalah rakyat kecil, Jazuli cepat tanggap dan cepat meresponnya,” tukasnya. 

Posted By : PKS BERINGIN DS

Belajar kepada Hachiko



Jika kita melawat ke Shibuya di Negeri Sakura, masyarakat di sana akan menganjurkan kita menengok patung Hachiko. Shibuya adalah sebuah kota yang berada di wilayah Tokyo. Kota ini tampak sangat sibuk, dan selalu padat dikunjungi banyak warga masyarakat, baik warga asli Jepang maupun para pendatang dan tentu saja, turis. Banyak orang menyebut Shibuya adalah kotanya anak muda, karena di sini banyak disinggahi anak-anak muda untuk berbelanja dan membuat janji pertemuan.
Saat saya mengunjungi patung Hachiko di Shibuya, rekan yang mengantarkan saya ke tempat itu tidak bisa menceritakan dengan detail, mengapa Hachiko dijadikan simbol kesetiaan, dan menjadi demikian populer kisahnya. Sekarang saja saya baru mengerti, setelah mencoba membaca beberapa postingan di berbagai blog dan milis. Salah satunya saya dapatkan dari Jimmy Bonang di Kompasiana. Tapi ternyata ada beberapa versi yang berbeda tentang kisah hidup Hachiko.
Konon, kisahnya bermula dari kelahiran seekor anjing berjenis Akita, di sebuah desa bernama Odate, provinsi Akita, sekitar bulan November 1923. Saat anjing ini berumur dua bulan, dia dibawa ke Tokyo oleh Prof. Ueno. Sang profesor inilah pemilik anjing dan sekaligus teman setianya. Ia bekerja di Universitas Tokyo di Fakultas Pertanian (agriculture).
Prof. Ueno biasa memanggil anjing ini dengan sebutan “Hachi”, yang berarti delapan. Kata “Ko” yang ada di belakang nama Hachi-Ko, adalah tambahan untuk orang Jepang yang berarti anak. Dengan demikian Profesor mengakui Hachiko sebagai keluarga sendiri, serta teman terbaiknya. Hachiko kecil suka makanan Yakitori (sate ayam).
Hachiko akhirnya tinggal bersama profesor Ueno di kota Shibuya. Saya menemukan nama profesor ini adalah Hidesamuro Ueno, tapi ada yang menyebutnya Eisaburo Ueno. Jadi kita sebut Prof. Ueno saja.
Karena hanya tinggal berdua membuat hubungan mereka sangat dekat. Setiap pergi bekerja, Hachiko selalu setia untuk mengantarkan sang profesor ke stasiun kereta dan juga setia menunggunya di stasiun kereta, tanpa beranjak ke tempat lain. Hachiko setia melakukan hal tersebut setiap hari tanpa bosan.
Pagi itu, merupakan pagi yang sangat dingin di kota Shibuya. Salju turun dengan lebat dan juga menutupi segalanya. Seperti biasa sang profesor berangkat mengajar ke kampus. Inilah keuletan dan etos kerja khas Jepang. Udara yang sangat dingin membeku itu pun tidak mencegahnya untuk pergi. Dengan jaket tebal dan payung, sang profesor berangkat ke stasiun kereta Shibuya ditemani Hachiko, anjing yang setia.
Mereka berdua sampai di stasiun kereta Shibuya, dan seperti biasa kereta tiba tepat waktu. Para pegawai stasiun maupun awak kereta yang sudah sangat mengenal sang profesor dan Hachiko, tampak berbincang-bincang sebentar. Setelah mengelus-elus Hachiko dengan penuh kasih sayang, sang profesor pun masuk ke gerbong kereta. Hachiko hanya melihat dari balkon ke arah kereta, seakan ingin mengucapkan “Aku akan menunggu disini”.
Sesampai di kampus, profesor segera mengerjakan penelitiannya di laboratorium dan mengajar. Saat menuju laboratorium, ia merasa dadanya sesak dan sulit bernafas. Mendadak sang profesor pingsan. Suasana kampus gempar, ternyata Prof. Ueno telah meninggal dunia. Pihak kampus langsung menghubungi keluarga Prof. Ueno dan para sahabat dekat, setelah itu segera membawa jenazah ke kampung halaman sang profesor, bukan ke rumahnya di Shibuya.
Hachiko yang setia menunggu di stasiun kereta tidak mengetahui bahwa tuannya telah meninggal dunia. Malam semakin larut dan Hachiko pun mulai gelisah, ia mondar-mandir untuk menghilangkan kegelisahannya. Orang-orang yang turun dari kereta pun banyak yang mencoba menghiburnya namun ia tetap saja merasa cemas. Hari demi hari pun terlah berlalu namun Hachiko tetap setia menunggu di stasiun, ia pun tidak makan sehingga badannya terlihat kurus.
Seorang tukang kebun profesor bernama Kikuzaburo Kobayashi melihat Hachiko yang setia menunggu sahabatnya di stasiun Shibuya, merasa kagum sekaligus iba. Kikuzaburo setiap hari datang untuk memberi makan kepada Hachiko sesuai dengan apa yang diberi profesor, Yakitori dan Stomach.
Tahun 1928, stasiun kereta Shibuya mengalami perombakan total. Di stasiun baru itu, Hachiko tetap berlarian dan mencari-cari sahabatnya, Prof. Ueno yang telah tiada. Hachiko tetap menunggu Ueno, tidur di salah satu sisi toko di dalam stasiun untuk menunggu sahabatnya.
Di tahun yang sama, seorang peneliti anjing jenis Akita, yang juga salah satu murid Ueno, melihat banyak hal menarik tentang Hachiko. Dia mengamati bagaimana Hachiko menunggu di stasiun, hingga mengikuti Hachiko ke rumah Kobayashi. Dari Kobayashi, murid Ueno itu mendapat banyak informasi tentang Hachiko. Dia pun mulai menulis artikel tentang Hachiko.
Berita tentang Hachiko pun mulai menyebar di negeri jepang. “Faithful Old Dog Awaits Return of Master Dead for Seven Years” adalah berita yang dimuat di harian Asahi pada 4 Oktober 1933. Hachiko pun semakin tenar dan semakin tersohor hingga seluruh pelosok negeri Jepang.
Bulan pun berganti, musim terlewat sudah, namun Hachiko tetap setia menunggu tuannya di stasiun Shibuya. Hingga suatu hari seorang pegawai pembersih menemukan tubuh Hachiko telah kaku dan sudah meninggal. Warga yang mendengar kabar kematian Hachiko pun berbondong-bondong datang ke stasiun Shibuya. Mereka datang untuk menghormati kesetiaan Hachiko yang luar biasa kepada tuannya.
Tahun 1934 didirikan patung Hachiko di depan stasiun Shibuya dan sempat mengalami perombakan pada tahun 1948 karena Perang Dunia II. Konon, Hachiko meninggal pada 8 Maret 1935. Tetapi patung Hachiko masih setia menunggu Profesor Ueno di pintu keluar stasiun Shibuya sampai sekarang, yang kemudian diberi nama Pintu Hachiko Shibuya. Hachiko duduk seperti puluhan tahun lalu menunggu Ueno pulang.
Di sekitar lokasi patung Hachiko ini, sekarang sering digunakan masyarakat Jepang untuk tempat janji bertemu. Patung Hachiko pun dijadikan simbol kesetiaan. Ya, sebuah kesetiaan yang tulus sampai mati.
Patung Hachiko kini terdapat di tiga tempat, di Shibuya, di Akita serta tempat kelahiran Hachiko, di Odeta.
 
Sumber : http://cahyadi-takariawan.web.
 
Posted By : PKS BERINGIN DS

Wacana Pembubaran KPK Tak Jadi Sikap PKS



Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq menegaskan, tiap pihak harus menyadari KPK tidak mungkin menyelesaikan seluruh kasus korupsi yang ada sendirian. Karena itu KPK harus menetapkan skala prioritas berdasarkan kepentingan nasional secara obyektif, bukan berdasarkan kepentingan pihak-pihak yang memiliki akses kuat ke KPK.
“Banyak kasus-kasus besar yang harus dituntaskan KPK, di antaranya kasus Bank Century yang telah direkomendasikan lembaga tinggi negara seperti DPR dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai kasus yang dinyatakan terdapat indikasi kuat pelanggaran. Namun KPK belum juga bergerak. Hal ini tentunya menimbulkan tanda tanya besar,” kata Lutfi Hasan, Rabu (5/10/2011).
Belakangan, ujar Lutfi, muncul kontroversi mengenai pernyataan anggota Fraksi PKS Fahri Hamzah yang mewacanakan pembubaran KPK. Sementara F-PKS merasa belum membahasnya. Jika pendapat itu disampaikan dalam rangka pengawasan dan dalam kapasitas Fahri sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI, sambung Lutfi, hal itu sah-sah saja.
Luthfi menuturkan pernyataan itu tak lantas menjadi sikap dari partainya. Ia menegaskan PSK tetap concern pada pemberantasan korupsi,termasuk penguatan seluruh instansi yang mendapatkan mandat konstitusi untuk menjadi bagian dari perjuangan pemberantasan korupsi
“Dan itu tidak harus dihubung-hubungkan dengan sikap FPKS,” kata Luthfi.
DPP PKS akan mengajak Fraksi PKS untuk mendalami wacana tersebut secara objektif dan tidak emosional. Karena PKS sendiri saat ini tidak dalam posisi mengkaji secara khusus posisi KPK, di antara institusi penegak hukum lainnya dalam pemberantasan korupsi.
Ke depan, karna banyaknya permasalahan nasional yang belum tuntas, Luthfi menyarankan pada semua kalangan untuk selalu mendiskusikan bersama secara cermat dan utuh tema-tema yang dilontarkan para politisi berikut latar belakang gagasannya.
Dikatakan, anggota dewan memiliki hak konstitusi untuk menyampaikan pendapat. Dan pendapatnya tersebut tidak harus selalu dimaknai sebagai pendapat struktur partai atau fraksi di mana anggota dewan bersangkutan bernaung.
“Di negara demokrasi setiap orang bebas menyatakan pendapat. Dan itu dilindungi oleh konstitusi, apalagi anggota DPR. Pernyataannya tidak harus selalu dimaknai mewakili lembaga tempat dia berafiliasi. Sebagai politisi dia berhak mewakili dirinya sendiri,” ujar Luthfi.
Apalagi jika yang disampaikannya berkait dengan fungsi dan tugasnya sebagai anggota dewan, yang meliputi fungsi anggaran, legislasi, dan pengawasan.


Posted By : PKS BERINGIN DS

Fahri, KPK dan Bangsa yang Tak Hobi Mengunyah





Betapa dahsyatnya pengaruh media terhadap pembentukan opini publik kian tak terbantahkan, Senin, 3 Oktober lalu. Kala itu, dalam pertemuan antara Komisi III DPR, KPK, Kejagung dan Polri, sebuah pernyataan untuk membubarkan KPK dilontarkan Wakil Ketua Komisi III Fahri Hamzah. Usai itu, berbagai media cetak dan online ramai memberitakan. Fahri menjadi newsmaker. Bahkan, di www.detik.com, berita Fahri bersaing dengan Ayu Ting-Ting, pelantun lagu Alamat Palsu.
PKS pun terkena imbasnya. Keberadaan Fahri sebagai wakil sekjen PKS membuat media mengopinikan jika wacana pembubaran KPK didukung PKS. Simak beberapa judul berikut ini. Busyro: Silakan Kalau PKS Mau Membubarkan KPK (www.detik.com), Tifatul Sembiring: Tidak Benar PKS Anti KPK (www.vivanews.com), “Jika PKS Tak Membantah, Usul Fahri Mewakili Partai” (www.okezone.com), Busyro Persilakan F-PKS Bubarkan KPK (www.kompas.com).
Seketika, publik pun menghakimi PKS. Kata-kata makian, hinaan yang tak pantas memadati ruang publik. Pembunuhan karakter terhadap Fahri dan PKS berlangsung massif. Publik percaya bahwa PKS kini telah berubah. PKS sudah menjadi pembela koruptor, tak ada bedanya dengan partai lain. “Yang harus dibubarkan PKS, bukan KPK,” tulis seseorang di dunia maya.
Publik begitu mudah tergiring opininya. Hanya dengan satu dan dua berita, masyarakat segera percaya dengan apa yang diwartakan media. Fenomena ini sungguh mengkhawatirkan karena tak cuma Fahri dan PKS yang mengalaminya. Mengapa bisa terjadi?
Salah satu sebabnya karena kita yang tak hobi mengunyah. Setiap informasi yang kita dengar dan baca, langsung ditelan mentah-mentah. Bahkan, oleh orang yang terpelajar (well educated) sekalipun. Dalam konteks kasus Fahri, jika publik mau mengunyah berita sedikit saja, pasti tak serta merta berpikiran negatif terhadap PKS. Sedikitnya ada dua hal yang dapat membuat kita beropini positif seandainya kita hobi mengunyah.
Pertama, ibarat abjad A-Z, statement Fahri tentang pembubaran KPK adalah Z. Sebelum sampai Z, Fahri menjelaskan alasannya mengapa KPK perlu dibubarkan, dan itulah A sampai Y. Media hanya memuat pernyataan Fahri sepotong-sepotong; tak utuh. Dalam acara Jakarta Lawyers Club, bulan lalu, Fahri secara baik menjelaskan tentang persoalan KPK. Paparannya sangat runut, sistematis dan detail. Bahkan Karni Ilyas yang biasanya memotong pembicaraan, terlihat diam menyimak penjelasan Fahri.
Kedua, jika publik langsung memvonis bahwa PKS mendukung korupsi dan takut pada KPK, tentu saja sebuah kekeliruan besar. Kesimpulan itu berangkat dari data dan fakta yang keliru. Pangkalnya karena kita yang tak suka mengunyah.
Benarkah PKS takut KPK? Benarkah PKS mendukung koruptor? Itu semua terbantahkan dengan mudahnya. Pertanyaannya, adakah kader PKS yang menduduki jabatan publik menjadi koruptor dan menginap di hotel prodeo? Kalaupun ada, berapa persentasenya jika dibandingkan dengan kader partai lain?
Sejauh ini, kalaupun ada kader PKS yang menjadi terdakwa korupsi, sangat semerbak aroma politiknya. Kasus Misbakhun, misalnya. Kegigihannya mengusung kasus Century membuat ia harus berhadapan dengan penguasa. Muaranya, ia pun menjadi pesakitan.
Adakah kader PKS yang tertangkap tangan sedang menerima suap? Adakah yang tertangkap basah KPK? Adakah yang secara terang-benderang maupun tersembunyi melakukan korupsi seperti yang dilakukan kader partai lain? Sejauh ini nihil. Dan saya mengamati, insya Allah kader PKS akan istiqomah.
Data dan fakta ini sesungguhnya dengan sangat mudah mematahkan kesimpulan jika PKS anti KPK. Logikanya, partai yang kadernya paling banyak ditangkap KPK-lah yang seharusnya berteriak pembubaran KPK. Lalu mengapa Fahri mewacanakan hal tersebut?
Saya melihat ini cerminan partai yang punya karakter kuat; jati diri yang kokoh dan berani mengambil resiko karena tak populer. Fahri dan PKS berani menentang arus. Betapa saat ini jutaan orang berada di belakang KPK. Tak kecuali kader partai dan orang-orang yang bermasalah. Dengan cara itu, mereka berharap dicitrakan sebagai pembela kebenaran, orang bersih dan jujur. KPK seolah menjadi sarana bagi mereka untuk melakukan personal dan institution laundring. Tapi PKS justru berbeda. Dan bukan asal beda karena memang ada banyak hal yang harus dikritisi dari KPK.
KPK memiliki tugas antara lain:
1) Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi;
2) Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi;
3) Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi;
4) Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi; dan
5) Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.
Sudah delapan tahun KPK berdiri, tapi tugas-tugas tersebut masih belum maksimal dilaksanakan. Bangsa ini masih menjadi juara korupsi baik tingkat ASEAN maupun Asia Pasifik. Mengapa? Karena KPK sibuk dengan tindakan “tangkap basah”. Negeri ini menjadi gaduh. KPK seakan seperti polisi yang bersembunyi dibalik pohon agar bisa menilang pengendara motor atau mobil yang tak mentaati rambu lalu lintas.
Sejatinya, inilah yang hendak disampaikan oleh Fahri dan PKS. Partai ini siap menerima kecaman demi pembelajaran politik bagi masyarakat. Partai ini siap menerima hujatan demi pencerdasan bangsa. Dan partai ini siap menerima resiko terburuk agar publik mau mengunyah setiap berita yang diterimanya; bukan langsung ditelan mentah-mentah.
Wallahu a’lam.

Erwyn Kurniawan, S.IP Pemerhati Media) 

Posted By : PKS BERINGIN DS

 

"Terima Kasih Atas Kunjungannya dan Sebelumnya Meminta Maaf, Apabila ada Kesalahan dan Kekhilafan dalam Menyajikan Informasi Serta terdapat Link-Link yang belum Aktif". Jazzaakallah Khairan Katsiran, Assalamu'alaikum Wr, Wb. ^_^

Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates