Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Blog Resmi DPC PKS Beringin Deli Serdang - Provinsi Sumatera Utara. www.pks-beringin.blogspot.com. Jika ada pertanyaan dan saran harap di kirimkan ke Email DPC PKS Beringin di.. pks.beringin.deliserdang@gmail.com

Rabu, 12 September 2012

Rabu, 12 September 2012

Dakwah Harus Mampu Memberikan Alternatif








Dalam kehidupan keseharian, kita sering menyaksikan berbagai hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keimanan. Banyak kerusakan, penyimpangan, kejahatan yang terjadi setiap hari di depan mata kita. Sebagai aktivis dakwah, kita sangat ingin mengubah seluruh kondisi yang tidak baik dan menyimpang tersebut, dan mengarahkan kepada nilai-nilai keimanan dan kesalihan.
Namun persoalan dakwah bukan semata-mata bagaimana menghilangkan kemaksiatan atau bagaimana  menghapuskan kemunkaran. Lebih dari itu, yang harus diusahakan dalam proses dakwah adalah menghadirkan alternatif yang lebih baik dan lebih layak bagi kehidupan masyarakat. Dengan demikian, kemanfaatan dan kontribusi dari dakwah bisa dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Aktivis dakwah tidak hanya bisa melarang dan mencegah, namun juga bisa memberikan alternatif solusi.
Banyak orang berkubang dalam kehidupan yang buruk karena keterpaksaan keadaan. Mereka memerlukan solusi nyata untuk keluar dari keburukan tersebut, bukan semata-mata dilarang dan –apalagi—dimarahi dan dilecehkan, namun tanpa ada solusi yang berarti. Masyarakat memerlukan solusi agar mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih sesuai nilai-nilai keimanan.

Misalnya, masih banyak warga masyarakat yang menganggur, tidak memiliki pekerjaan yang bisa menghasilkan penghidupan. Karena harus menghidupi anak isteri, akhirnya mereka berpikir jalan pintas, bagaimana bisa mendapatkan uang untuk makan dan menyambung hidup. Sebagian dari mereka memilih menjadi pengemis, meminta-minta dari rumah ke rumah, atau di pinggiran jalan. Sebagian yang lain memilih menjadi pemulung, pengamen, pengasong dan lain sebagainya.
Namun ada pula yang memilih jalan sangat pintas, dengan mencuri, merampok, merampas harta orang lain, di kereta api, di bus kota, di terminal, di pasar, supermarket dan lain sebagainya. Mereka ini “melegalkan diri” melakukan perbuatan tercela itu dengan alasan keterpaksaan kondisi, dan karena ada contoh banyaknya pejabat yang korupsi, padahal hidup mereka berkecukupan.
Yang diperlukan bukan sekedar melarang mengamen, melarang mengemis, melarang mencuri, dan lain sebagainya. Namun diperlukan langkah yang lebih nyata, yaitu memberikan alternatif pekerjaan yang halal dan bisa membuat mereka hidup layak. Inilah dakwah yang akan memberikan solusi bagi berbagai kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Bukan dakwah yang berhenti pada melarang, mencegah, dan menyuruh berbuat baik, namun tidak disertai solusi jalan keluar atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Dakwah harus mampu menghadirkan alternatif penyelesaian permasalahan masyarakat, bangsa dan negara.
Perhatikan kisah Nabi Nuh berikut:
“Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal” (DS. Hud : 78).
Ayat di atas memberikan beberapa pelajaran fiqih dakwah sebagai berikut:

1.   Kerusakan selalu ada di tengah masyarakat
Realitas adanya kerusakan atau penyimpangan adalah sesuatu yang menyejarah. Sejak zaman dulu sudah ada, dan akan selalu ada. Di zaman Nabi Luth, masyarakat melakukan penyimpangan seksual yang serius. Digambarkan, kerusakan tersebut bukan hanya terjadi pada masa itu, namun sudah terjadi dalam kurun waktu yang lama. “Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji“.
Itulah sebabnya, dakwah tidak pernah selesai. Karena selalu saja ada kerusakan, selalu saja ada penyimpangan yang harus diluruskan dan diperbaiki. Para aktivis dakwah tidak boleh berputus asa melihat banyaknya kemungkaran dan kerusakan yang terjadi di sekitarnya. Merasa sia-sia melakukan dakwah, karena usaha memperbaiki keadaan sudah dilakukan, namun serasa tidak ada perbaikan. Aktivis dakwah harus selalu bersemangat dan bergairah dalam menjalankan amanah dakwah, walau kerusakan selalu datang silih berganti.

2.   Dakwah bukan hanya melarang, namun memberikan alternatif solusi
Ketika dakwah dihadirkan di tengah masyarakat hanya dalam bentuk melarang dan mencegah, maka akan muncul kesan bahwa dakwah tidak memiliki kemampuan kecuali sekedar melarang. Padahal masyarakat memerlukan solusi yang kongkrit atas berbagai persoalan yang mereka hadapi. Jika masyarakat selalu bertemu dengan larangan tanpa ada alternatif solusi, maka dakwah tidak mampu membawa perubahan seperti yang diharapkan.
Nabi Nuh melarang kaumnya melakukan perbuatan keji, namun sekaligus memberikan alternatif solusi yang sehat bagi mereka. “Luth berkata: Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal”.
Sebagian mufasir menjelaskan, bahwa yang dilakukan oleh Nabi Luth adalah menawarkan pernikahan yang sah dengan puteri-puteri yang ada di negeri itu sendiri. Namun sebagian mufasir menjelaskan, bahwa yang ditawarkan oleh Nabi Luth kepada kaumnya itu benar-benar puteri beliau sendiri. Ini adalah sebuah alternatif solusi yang kongkrit yang ditawarkan oleh nabi Luth kepada kaumnya.

3.   Gerakan dakwah harus berusaha mencari berbagai alternatif penyelesaian masalah kehidupan
Sangat banyak persoalan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Gerakan dakwah bersama para aktivisnya, harus selalu berusaha mencari dan menemukan berbagai alternatif penyelesaian persoalan kehidupan tersebut. Inilah pekerjaan yang sangat besar bagi gerakan dakwah. Masyarakat, bangsa dan negara memerlukan alternatif solusi bagi setiap persoalan klehidupan yang mereka hadapi.
Sering kita mendapati orang-orang yang mengkritik, mencela, dan mencaci maki suatu kondisi yang menyimpang dalam kehidupan, namun hanya berhenti pada kritikan, celaan dan caci maki saja. Tidak memberikan alternatif solusi. Maka tidak akan ada perubahan yang berarti jika tidak bisa menghadirkan solusi. Dakwah bukan hanya berhenti pada melarang, namun harus memberikan berbagai alternatif solusi.

4.   Perbaikan harus disertai jalan keluar
Berbagai upaya perbaikan kondisi masyarakat, bangsa dan negara, harus disertai dengan jalan keluar. Perhatikan persoalan masyarakat di sekitar anda. Ketika anda menjumpai permasalahan yang ingin anda perbaiki, maka cara melakukan perbaikan adalah dengan memberikan jalan keluar yang nyata bagi mereka. Mungkin saja anda belum mampu memberikan jalan keluar dengan segera, namun harus ada upaya yang bersungguh-sungguh untuk memberikan alternatif solusi.
Perbaikan tidak akan terjadi jika tidak ada solusi. Itulah sebabnya, gerakan dakwah harus bersungguh-sungguh mencari dan menemukan jalan keluar atas setiap persoalan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, agar terjadi perubahan dan perbaikan.

Referensi :
Muhammad Haniff Hassan, Fiqh Dakwah dalam Al Qur’an, IIFSO Malaysia – Singapore, 2004
Sumber : http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2704


PPosted By : PKS Beringin DS

Menguasai Perasaan untuk Menunaikan Amanah Dakwah







Dalam realitas medan dakwah, setiap aktivis akan berhadapan dengan berbagai macam kondisi dan situasi yang tidak semuanya sesuai dengan yang diharapkan. Saat menunaikan amanah dakwah, kader harus menghadapi situasi yang sulit bahkan rumit. Secara manusiawi, bisa muncul perasaan khawatir –bahkan takut—ketika menghadapi resiko atau situasi yang tidak dikehendaki.
Perasaan takut atau khawatir yang muncul pada diri aktivis dakwah adalah sesuatu yang bersifat manusiawi, namun harus mampu dikendalikan dan dikuasai agar tidak menghalangi penunaian amanah dakwah. Perasaan seperti itu pernah dimiliki pula oleh Nabi yang sangat kuat dan perkasa, Musa As. Perhatikan ungkapan ayat-ayat berikut :

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): “Datangilah kaum yang zalim itu, (yaitu) kaum Fir’aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?” Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.” Allah berfirman: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan)” (Asy Syu-ara’ : 10 – 15).

Dalam ayat-ayat di atas, Musa merasa takut atau khawatir bahwa dirinya akan didustakan bahkan dibunuh. Musa mengatakan dia berdosa terhadap orang-orang Mesir (walahum ‘alayya dzanbun) adalah menurut anggapan orang-orang Mesir itu, karena sebenarnya Musa tidak berdosa sebab dia membunuh orang Mesir itu tidak dengan sengaja. Selanjutnya bisa dilihat pada surat Al Qashash ayat 15.

Beberapa pelajaran Fiqih Dakwah yang bisa diambil dari rangkaian ayat-ayat di atas antara lain:

1.   Nabi Musa pun memiliki perasaan takut atau khawatir dalam menunaikan amanah dakwah
Perhatikan curhat Nabi Musa kepada Allah Ta’ala dalam ayat di atas. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku”. Dalam penggalan ayat berikutnya, Nabi Musa mengatakan, “…maka aku takut mereka akan membunuhku”.
Nabi yang dikisahkan memiliki fisik yang kuat, memiliki kekuatan yang hebat, namun masih memiliki perasaan khawatir atau takut ketika hendak menjalankan perintah dari Allah. Sesungguhnya perasaan seperti ini memang sangat manusiawi, namun tidak boleh digunakan sebagai pembenar untuk tidak melaksanakan tugas dakwah. Perasaan khawatir dan takut itu harus segera diatasi dan dikuasai agar tidak melalaikan amanah dakwah.

2.   Nabi Musa mampu menguasai perasaan takut dalam dirinya
Kendati Nabi Musa menyatakan perasaan takut dan khawatir, namun tidak ada ungkapan permakluman atau meminta izin kepada Allah agar diberikan keringanan untuk tidak melaksanakan perintah Allah. Kadang dijumpai sebagian aktivis menolak melaksanakan suatu amanah dakwah, hanya dengan pertimbangan perasaan takut dan khawatir. Hal seperti ini tidak boleh dibiarkan, karena berarti sang aktivis tidak mampu menguasai perasaannya.
Justru Nabi Musa meminta kepada Allah agar diberi teman, yaitu Harun, untuk bersama-sama menunaikan perintah Allah. Artinya, perasaan takut dan khawatir dalam dirinya tidak dibiarkan berkembang menjadi sifat pembangkangan dan penolakan terhadap perintah Allah. Sudah selayaknya para aktivis dakwah mengambil pelajaran penting dari sikap Nabi Musa ini. Tidak pantas bagi aktivis dakwah untuk mengelak dari amanah dakwah hanya karena pertimbangan ketakutan atau kekhawatiran.
Perasaan semacam itu wajar dan manusiawi, namun harus dikuasai dan diarahkan agar tidak menyebabkan lalai dari amanah dakwah.

3.   Pentingnya teman yang menguatkan pelaksanaan amanah dakwah
Ketika Nabi Musa mendapatkan perintah untuk menghadapi Fir’aun sendirian, terbayang betapa kesulitan akan menghadang dirinya yang memiliki keterbatasan. Ungkapan Nabi Musa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku” menandakan kekhawatiran Nabi Musa bahwa dirinya akan didera emosi atas pengingkaran Fir’aun, sehingga membuat Musa tidak lancar berkomunikasi menyampaikan peringatan kepadanya.
Selanjutnya Nabi Musa meminta kepada Allah agar diberikan teman untuk menunaikan perintah Allah tersebut sehingga bisa lebih tenang. Ungkapan Nabi Musa “…..maka utuslah (Jibril) kepada Harun…” maksudnya agar Harun diangkat menjadi Rasul untuk membersamainya dalam menunaikan perintah Allah. Ini memberikan pelajaran tentang pentingnya teman dan kebersamaan yang akan menguatkan pelaksanaan amanah dakwah.

4.   Pentingnya pendekatan kepada Allah untuk mendapatkan kekuatan jiwa
Ketika menghadapi perasaan yang takut dan khawatir menghadapi Fir’aun dan kaumnya, Nabi Musa segera memohon kekuatan kepada Allah. Munajat dan pendekatan kepada Allah sangat penting dilakukan setiap saat oleh para aktivis dakwah, karena hanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Seluruh makhluk adalah lemah, hanya Allah yang memiliki kekuasaan dan kekuatan yang tidak terbatas dan tidak tertandingi.
Mendekat kepada Allah akan menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran. Untuk itu para aktivis dakwah harus memiliki aktivitas ruhaniyah untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, agar Allah memberikan kekuatan, kemampuan dan kelancaran dalam menjalankan amanah dakwah. Suksesnya dakwah bukan semata ditentukan oleh kehebatan sang aktivis, namun yang menentukan kesuksesan hanyal Allah Ta’ala.

Referensi :
Muhammad Haniff Hassan, Fiqh Dakwah dalam Al Qur’an, IIFSO Malaysia – Singapore, 2004
Sumber : http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2711


Posted By : PKS Beringin DS

Sur’atul Istijabah (Respon Kilat Terhadap Panggilan Dakwah)



Islamedia - “ Wahai orang-orang yang beriman ! Penuhilah seruan Allah dan Rasul Nya, apabila dia menyeru kepadamu sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksanya.’(Qs. Al-Anfal:24-25)
***
Seorang al-akh pernah datang kerumah. Ia bercerita kepada saya dengan gurat wajah yang tanpak gelisah. Banyak hal yang ia ceritakan di sana. Salah satu di antaranya adalah tentang dakwah dan para pelakunya. Atau yang lebih popular kita sebut dengan aktivis dakwah.
“Akhi, ana sedih melihat kondisi saat ini.” tuturnya memulai cerita.” Tatsqif sore ini kok minim sekali pesertanya ya? Kemana ikhwah yang lain?” lanjutnya dengan nada bertanya.
“Mungkin mereka belum dapat taklimat akhi. Sehingga mereka gak tahu ada tatsqif hari ini.”
“Iyya akh, mungkin begitu. Tapi apakah harus menunggu taklimat dulu baru datang ngaji?” katanya.” Tidak cukupkah dengan pengumuman yang di sampaikan oleh panitia, di setiap akhir acara, bahwa setiap dua pekan sekali ada kajian di sini. Di tempat ini. di masjid ini?” Protesnya lagi
“Ana heran saja sih. Ternyata sur’atul Istijabah aktivis dakwah hari ini, ana lihat mulai kendor. Respon mereka  dengan kegiatan-kegiatan seperti ini perlahan melemah. Seharusnya kita, yang manyebut diri aktivis dakwah, memiliki respon yang cepat dengan segala seruan-seruan dakwah. Bukan mencari-cari alasan pembenaran untuk menjustifikasi kemalasan kita.”
“Menurut antum, dimana akar permasalahan yang sebenarnya?” tanya saya menyelidiki.
“Ana gak tahu persis dimana letak persoalannya. Yang jelas menurut ana, ta’shil ilminya yang kurang. Semangat untuk menuntut ilmunya yang payah. Sehingga semangat yang dulunya berkobar dan menyala-nyala, perlahan mulai padam. Dan kini hanya tinggal kenangan. Aktivis dakwah itu harus punya iltizam yang kuat dengan ilmu akhi. Bicaranya ilmu. Tindakannya berlandaskan ilmu, semangatnya pun juga begitu. Karena dengan ilmu inilah kita bisa me ri’ayah semangat kita. Bukan dengan yang lainnya. Ini menurut ana sekali lagi yang perlahan mulai di tinggalkan. Semangat mengaji, menambah kafaah syar’I, untuk menjaga semangat yang kita miliki.”
Apa yang di katakan akh kita ini, benar juga fikirku. Semangat menuntut ilmunya yang kurang. Padahal amanah yang dipikul tidak lah pernah berkurang. Amanah akan terus bertambah, seiring dengan ekspansi dakwah yang mulai merambah ke berbagai wilayah dan tentu dengan dinamikanya yang berbeda-beda. Di butuhkan pundak-pundak kekar dan dada-dada yang di penuhi dengan ilmu dan pemahaman, agar ia tetap tegak dengan mengibarkan bendera perjuangan. Demikian, potongan diskusi saya dengan salah seorang akh sore itu, selepas pulang dari menghadiri kajian di Masjid Raya at-Taqwa mataram.
***
Apa yang dimaksud dengan sur’atul istijabah? Biarlah Asy-Syahid Sayyid Quthb rahimahullah menjelaskannya,
“ Sur’atul istijabah adalah tindakan pemenuhan fitrah yang bersih untuk memenuhi seruan da’wah yang haq dan lurus. Di sana ada kejujuran, kelapangan, kekuatan semangat, pengetahuan yang benar dan sambutan akan cetusan qalbu yang hebat atas kebenaran yang nyata.”
Tentang sur’atul Istijabah ini, imam asy-Syahid Hasan Al-banna menggambarkan,“ Dapat kugambarkan profil mujahid sejati dalam diri seseorang yang siap mengambil bekal dan memenuhi perlengkapannya. Seluruh dirinya (seluruh sudut jiwa dan hatinya) didominasi pemikiran seputar perjuangan. Ia dalam pemikiran yang selalu, perhatian yang besar dan kesiapan yang senantiasa.”
Beliau juga mengatakan,”Keimanan mujahid yang terjewantah dalam kesigapannya melaksanakan kebaikan, tugas dan kewajibannya adalah refleksi dari jiwa yang bertanggung jawab yang akan mampu menghindari penyesalan, kerugian dan penderitaan. Ia pun bersegera menuntut ihsan dan itqonul ‘amal sehingga membuahkan natijah yang kongkret.”
Bersemangat, bertanggung jawab, responsif, bersiap siaga, dan bersegera memenuhinya. Mungkin itulah yang dapat kita simpulkan dari paparan dua tokoh dakwah ini. Tokoh dakwah yang telah menjual nyawa satu-satunya kepada dakwah, di jalan dakwah dan untuk Allah Swt. Kata-katanya layak di dengar. Pendapatnya patut untuk di renungkan serta perjalan dakwahnya sungguh bertebaran hikmah untuk kita ambil pelajaran.
Jauh sebelum mereka berdua, Abu Dujana r.a telah mencatatkan dirinya sebagai Ruhul Istijabah, jiwa-jiwa yang merespon panggilan dakwah dengan segera. Jiwa-jiwa yang memenuhi panggilan Jihad, kemudian menjualnya dengan kemewahan surga. “Wahai Rasulullah, apa yang akan aku dapatkan dari jihad bersamamu? Tanyanya suatu ketika. Rasulullah menjawab ,” Syurga”. Lalu seketika ia pun merespon : “ Kalau begitu aku akan berperang sampai aku syahid dengan luka di sini.“ Kata Abu Dujana sambil menunjuk ke lehernya. Rasulullah kemudian mengapresiasi semangatnya itu dan berkata,“ Engkau akan mendapatinya, karena engkau jujur kepada Allah.”
Tak lama kemudian, berkumandanglah panggilan jihad. Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk segera berangkat ke Uhud. Dan berangkatlah abu Dujana dengan semangat yang menyala-nyala. Dengan segera ia merangsek ke dalam barisan Uhud dan mengatakan, “Sesungguhnya aku mencium wanginya syurga di balik Uhud !” Dan benar, ketika para syuhada Uhud dimakamkan, para sahabat mendapati tubuh Abu Dujana penuh dengan 70 luka pedang, dan luka panah persis seperti yang dia tunjukkan. Allahu akbar!
Respon yang luar biasa dari kisah para sahabat dalam perang Khaibar juga sudah kita pelajari. Perang yang paling lama dan melelahkan. Dipuncak kelelahan, ketika pasukan Muslim berhasil menguasai benteng Ash Sha’b bin Mu’adz, benteng yang paling kaya dengan sumber makanan dan senjata. Di sana mereka telah memasak seekor himar untuk mengisi perut mereka yang digerogoti rasa lapar. Di saat masakan telah siap disajikan, tiba-tiba turun wahyu tentang pengharaman himar. Apa yang terjadi kemudian?
Seketika kuali yang berisi harum daging himar dibalik dan tumpahlah isinya. Tak ada permohonan toleransi atau pembantahan. Nyaris diluar ketaatan kita yang didominasi logika. Mungkin jika kita menjadi meraka akan mengatakan,”Mengapa wahyu itu tidak turun sebelumnya? Tentunya tak akan membuat kecewa perut yang telah keroncongan berhari-hari itu.” Itulah ketaatan dan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul Nya. Yang menembus batas-batas logika.
Dalam era kontemporer seperti saat ini, sur’atul istijabah itu seakan menguap. Bisa dilihat dari jumlah peminat tatsqif kader, kajian ilmiah mahasiswa, bedah buku, atau aksi turu ke jalan. Seharusnya layar HP mendadak buram ketika mendapat jawaban sms, “ afwan ana tidak bisa hadir, ada kuliah…ada urusan ke sini….ada bla…bla…bla…..
Entahlah, berbicara hajat, urusan, kepentingan, semua kita, bahkan para nabi dan para sahabat punya banyak kepentingan. Namun, Allah dan Rasul Nya lebih utama. Kiranya cukuplah kisah Ka’ab bin Malik menjadi teguran dan pelajaran untuk kita semua yang mengaku aktivis dakwah.
Lantas apa sebenarnya yang melunturkan kekuatan sur’atul istijabah itu ? Seharusnya, introspeksi jiwa menjadi kebiasaan, hingga kita dapat mengevaluasi beberapa hal :

1. Keimanan. 

 
Keimanan yang dalam sangat mempengaruhi kekuatan sur’ah. Ia akan melahirkan sensitifitas hati para jundi dakwah dalam memenuhi seruannya. Bila mana kekuatan iman itu melekat di dalam hatinya, maka seperti itu pula kekuatan responnya terhadap panggilan dakwah. Tabiat iman itu sendiri fluktuatif, suatu saat bertambah dan di saat yang lainnya bisa berkurang. Bertambahnya dengan ketaatan, berkurangnya dengan kemaksiatan. Semua tergantung dengan kondisi amaliyah kita sehari-hari. Untuk itu cara kita me ri’ayah sur’ah itu adalah dengan melakukan amaliyah dakwah yang berkesinambungan. Amaliyah yang berkesinambungan akan melahirkan keimanan yang kuat dan bertambah kuat, sehingga setiap junudud dakwah akan memilki ruhul istijabah yang kuat pula.

2. Ilmu dan Pemahaman

Pengetahuan dan pemahaman yang benar dan mendalam terhadap wahyu (Alqur’an) adalah kunci kedua setelah keimanan. Ia (ilmu dan fahm) adalah rukun pertama sebelum menghidupkan ikhlas untuk menegakkan sebuah amal. Tak ada amal tanpa keikhlasan dan tak ada keikhlasan tanpa pemahaman. Seorang da’i tidak mungkin dapat mendistribusikan nilai-nilai Islam kepada orang lain, jika ia sendiri tidak memahaminya. Selama seseorang tidak memahami prinsip yang diyakininya, ia tidak akan bisa berinteraksi dengan prinsip tersebut dan ruh yang terkandung di dalamnya.
Dua hal ini, yang Allah perintahkan kepada Rasulullah Saw. untuk selalu di panjatkan dalam doanya,”Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu dan berilah aku kefahaman.” Olehkarenanya, Beliau Saw. selalu mendorong para sahabat untuk memberikan pemahaman kepada orang-orang yang baru masuk Islam. Beliau mengatakan kepada mereka : “ Berilah pemahaman pada saudaramu dalam urusan agama ini. Bacakan dan ajarkanlah Alqur’an kepadanya.” ( Hadist riwayat Ath Thabarani).
3. Tajdid An-niyyah
Ketahuilah, dalam jasad ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh amalan kita. Jika ia nya rusak, maka rusak pulalah seluruh amalan kita. Itulah hati. Ia harus di jaga, agar tetap sehat seperti sedianya. Di dalam hati, bersemai padanya niat. Niat yang akan menentukan, apakah amalan kita diterima ataukah sebaliknya. Niat juga sangat mempengaruhi sur’ah yang akan menggerakkan jiwa dan raga seorang da’i untuk memenuhi panggilan dakwah.
Hendaknya niat ini harus terus menerus ditajdid, untuk memastikan apakah orientasinya tetap condong kepada dakwah ataukah dunia yang fana ini? Barang siapa yang berdakwah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dakwahnya untuk Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang berdakwah, karena dunia yang ingin dikuasainya atau wanita yang ingin di nikahinya, maka dakwahnya akan berbuah sesuai dengan niatnya. Ia akan mendapatkan apa yang di cari, tidak lebih dan tidak pula dikurangi.
Oleh karenanya Ibnul qoyyim al-jauziyah rahimahullah pernah berkata,”cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab.” Ya, kecintaan kita terhadap dakwah ini akan lenyap sesuai dengan motivasi awal kita bergabung di dalamnya. Jika orientasi kita hanya karena jabatan, atau kekuasaan, atau harta benda, atau yang lainnya, maka sebatas itulah umur cinta kita terhadap dakwah ini. Namun, jika motivasi kita hanya semata-mata karena Allah, maka ketahuilah Allah itu kekal. Allah itu abadi tak akan pernah berakhir sehingga Allah memenangkan dakwah ini atau kita syahid di jalannya. Untuk itu, tajdidunniyah adalah niscaya adanya.
4. Perbanyaklah Zikir dan Istighfar.
Barangkali kita tak menyadari, setitik noda maksiat telah mewarnai hati kita. Barangkali kita tak menyadari, ada kata-kata busuk yang keluar dari lisan kita. Atau barangkali ada sangka buruk yang terus menerus kita pelihara. Titik noda itu kemudian kian menjalar menutupi sebagian hati kita, atau bahkan menutupi seluruhnya. hingga cahayanya tak mampu lagi membedakan antara kebenaran dan kebathilan. Hati kita kemudian sakit. Lalu kemudian sekarat. Lalu kemudian mati. Jika sudah demikan, masih adakah sur’atul istijabah menyertainya?
Hati yang sakit, tidaklah mungkin menjawab panggilan dakwah dengan segera. Apatah lagi bagi hati yang sudah mati. Hanya hati yang sehat wal afiatlah yang akan merespon dakwah dengan segera. Hanya hati yang hiduplah yang sanggup memikul beban dakwah di pundaknya. Sebelum ia terjangkiti penyakit yang akut dan mejadikannya benar-benar mati, maka tak ada cara lain untuk mengobatinya. Obatilah ia dengan beristighfar. Hidupkanlah ia dengan zikir. Karena hati yang berzikir adalah hati yang hidup, sebaliknya hati yang tak pernah berzikir adalah hati yang mati.
Rasulullah Saw. bersabda,”Perumpamaan hati yang berzikir kepada Allah dan yang tidak berzikir kepada Allah, ibarat hati yang hidup dan hati yang benar-benar mati.”
Aktifkan kembali hati kita dengan berzikir. Bersihkanlah hati kita dengan beristighfar. Sibukkan diri kita dengan tilawah Al-Qur’an, zikir ma’tsurat, dan amaliyah yaumiyah  lainnya,”Penuhilah seruan Allah dan Rasul Nya, apabila dia menyeru kepadamu sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksanya.’ (Qs. Al-Anfal:24-25).
“ Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu, dan mendapatkan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertaqwa.” (Q.S Ali Imron : 133)
Wallahu a’lam.

Posted By : PKS Beringin DS

Rabu, 18 Juli 2012

Rabu, 18 Juli 2012

Anis Matta dan Dahlan Iskan Terbanyak Dipilih 'Capres Alternatif' Poling MetroTV

 
Boleh jadi PKS dianggap kalah dalam pemilihan Kepala Daerah ( Gubernur DKI), disisi lain siaran Metro TV dalam poling pemirsa dapat menjadi seteguk air di tengah dahaga musim kemarau.
Sekjen PKS Anis Matta menempati posisi kedua setelah Dahlan Iskan dalam poling pemirsa.
Apa sebernar nya yang membuat mereka dikenal masyarakat?  Ternyata prestasi saja tidak cukup, tanpa manuver acton. itulah yang di lirik media selama ini. 
Pemilu masih dua tahun lagi. Tetapi sejumlah politikus jauh-jauh hari sudah menyatakan siap menjadi calon presiden pemilu 2014. Dua di antaranya Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie dan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto. Politikus lainnya masih malu-malu. Mereka menunggu waktu tepat.

Hasil survei sejumlah lembaga yang menyigi kandidat telah memunculkan sejumlah nama calon presiden dengan tingkat keterpilihan masing-masing. Sejauh ini Prabowo Subianto berada di peringkat teratas. Ada pula Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Munculnya nama yang "itu-itu saja" seolah mengisyaratkan Indonesia defisit calon presiden. Padahal, di luar mereka ada sejumlah nama yang layak dicalonkan. Metro TV menyebut mereka calon presiden alternatif.

Mereka berasal dari kalangan birokrat, politisi, kepala daerah, pengusaha dan akademisi. Dari masing-masing kalangan dipilih tiga orang. Berdasarkan masukan pelbagai pihak dan kriteria dari Metro TV, ada 15 calon presiden alternatif yang layak berlaga di pemilu 2014.

Metro TV telah membuat poling terbuka untuk MEMILIH Capres Alternatif, dan sampai saat ini (18/7/12) Anis Matta yang merupakan tokoh muda sekaligus Sekjen PKS mendapat suara terbanyak (29,78%) disusul Dahlan Iskan (29,62%).

Bagaimana pendapat Anda? Silahkan Anda memilih di link ini:

http://www.metrotvnews.com/capres/

Link dari PKS Piyungan.

Diposkan kembali oleh : DPC PKS Beringin DS

Mursi, HNW dan Masa Depan PKS


Di tengah euphoria kemenangan Dr Mohammed Mursi dalam pilpres Mesir yang terasa hingga ke Indonesia, muncul sebuah berita menarik. Partai Islam Kritis, kata Koran Tempo dalam judulnya, Rabu, 27 Juni’12. Judul itu dimuat terkait dengan penelitian Lembaga Survey Nasional (LSN) tentang partai Islam di Tanah Air. Menurut hasil survey LSN, partai-partai Islam semakin ditinggalkan konstituennya. Awal Pemilu 1999, konstituen partai-partai Islam sebanyak 36,52 persen. Tahun 2004 meningkat 38,39 persen. Namun, pada Pemilu 2009 menjadi 29,14 persen, hingga survei Juni 2012 menurun menjadi 15,7 persen.
“Dari hasil survei, jika pemilihan umum dilaksanakan hari ini, jawabannya untuk partai Islam, elektabilitasnya rata-rata di bawah 5 persen,” kata Direktur Eksekutif LSN Umar S Bakry dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (26/6/2012).
Berita ini seakan terkonfirmasi secara jelas dalam Pilgub DKI Jakarta, 11 Juli lalu. Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini, cagub dan cawagub yang dicalonkan PKS—partai Islam terbesar di Indonesia dan pemenang pemilu legislative nomor dua di Jakarta—hanya menempati posisi ketiga berdasarkan quick count berbagai lembaga survey dengan perolehan suara sekitar 11%, jauh dibawah Jokowi-Ahok yang diusung PDIP-Gerindra (43%).
Gelembung optimisme awalnya membesar kala PKS mengusung HNW dalam Pilgub DKI Jakarta. Selain ketokohan dan integritasnya, momentum Pilgub tak jauh jarak waktunya dengan kemenangan Mursi dalam Pilpres Mesir. Arab Spring, yang tengah terjadi di Timur Tengah, diyakini akan mempunyai pengaruh di Tanah Air, terlebih partai-partai politik yang berjaya di Mesir, Tunisia, dll, mempunyai akar ideology yang mirip dengan PKS.
Tapi ternyata itu tak terjadi. Raihan suara Hidayat Nur Wahid (HNW) yang notabene tokoh nasional dan relatif telah dikenal publik Jakarta, mencengangkan banyak pihak, utamanya kader PKS sendiri. Mereka seolah tak percaya, ikon PKS tersebut kalah secara telak, di tempat yang diyakini menjadi salah satu basis penting PKS.
Kekalahan HNW memunculkan banyak komentar sinis dari berbagai kalangan, termasuk para pengamat politik. Mereka yang selama ini tak suka dengan PKS atau partai Islam lainnya, beramai-ramai kompak menyimpulkan, bahwa partai Islam sudah tak laku. Benarkah demikian? Inikah tanda-tanda akhir zaman partai Islam, khususnya PKS?
***
Sangat tergesa-gesa. Itulah pendapat saya terkait “ramalan” para pengamat terhadap masa depan partai Islam, khususnya PKS. Menyimpulkan sesuatu dari hanya sebuah kasus atau fenomena, tentu saja memiliki potensi besar untuk menghadirkan kesalahan fatal. Mengatakan bahwa PKS memiliki masa depan suram hanya karena kalah dalam Pilgub DKI, tentu saja sangat tidak pada tempatnya.
Setidaknya ada dua hal yang membantah logika pendek para pengamat tersebut. Pertama, Pilgub Jakarta bukanlah barometer pemilu di Indonesia, seperti yang digembar-gemborkan banyak pihak. Dari sisi demografi, mungkin benar mengatakan Jakarta adalah miniatur Indonesia karena terdiri dari beragam etnis dan agama. Tapi dari sisi lain: akses informasi, tingkat pendidikan, pendapatan, rasionalitas, Jakarta tentu saja berbeda dengan Indonesia.
Perlu diketahui, sekitar 80% penduduk Indonesia hidup di pedesaan. Mereka menjadi pemilih dalam setiap pemilu. Dan mereka ini adalah orang-orang yang relatif kedap informasi. Berita yang menjadi konsumsi publik di Jakarta, belum tentu diketahui mereka. Karena itu, dalam beberapa Pilkada Jakarta, hasilnya tidak linear dengan pemilu. Tahun 2004, PKS menjadi pemenang pemilu legislatif di Jakarta, tapi tak serta merta menjadi juara di tingkat nasional. Hal serupa juga terulang dalam pemilu 2009, dimana PKS meraih posisi nomor 2 di Jakarta, tapi secara nasional menempati peringkat 4. Bahkan, jika memang Pilgub DKI Jakarta menjadi barometer, harusnya PKS menjadi pemenang pemilu legislative 2009 karena pada tahun 2007, PKS meraih sekitar 47% suara dalam Pilgub. Tapi nyatanya itu tak terjadi.
Begitu juga yang terjadi dengan Partai Golkar, PDI-P, PKB, dan lainnya. Suara mereka kerap kali jeblok dalam pemilu legislatif atau Pilgub di Jakarta. Namun, secara nasional, mereka selalu menjadi partai 3 besar. Fenomena ini dengan sangat jelas mematahkan pendapat helatan pilgub DKI Jakarta menjadi ukuran pemilu secara nasional.
Kedua, di tengah gencarnya berita kekalahan PKS di Jakarta, ternyata di tiga daerah: Tasikmalaya, Payakumbuh dan Kendari, PKS berhasil meraih kemenangan dalam pilkada.
Kemenangan PKS di tiga tempat tersebut selain mengkonfirmasi dua hal sekaligus. Pertama, sebagai bukti tak terbantahkan bahwa Pilgub DKI Jakarta bukan sebagai alat ukur sahih perfroma sebuah partai secara nasional. Kedua, sebagai bukti shahih bahwa “ramalan” tergesa-gesa para pengamat bahwa masa depan partai Islam, khususnya PKS, sangat tidak tepat.
Di negeri ini, masa depan PKS terbilang cerah karena mereka memiliki modal memadai untuk menjadi partai masa depan. Apa saja?
1. Ideologis yang Jelas dan Kokoh.
Mengapa PDI-P mampu bertahan hingga hari ini? Selain faktor keturunan trah Soekarno, karena partai ini mempunyai ideologi yang jelas dan kokoh yakni nasionalisme sekuler. PKS sesungguhnya mempunya modal yang jauh melebihi PDI-P, karena ideologinya bersumber dari Islam, yang nilai-nilainya tak akan lekang dimakan zaman.
2. Program Kaderisasi dan Kader yang Militan.
Sudah teramat banyak kisah dan kesaksian betapa militansinya kader-kader PKS. Bahkan, ini diakui oleh pengamat politik CSIS, J. Kristiadi.
“Saya belum pernah menyaksikan pengaderan partai yang memuaskan, kecuali di Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Itu mungkin subyektif, tetapi memang seperti itu. Partai-partai saat ini tak begitu serius merekrut dan menyeleksi anak muda yang berminat berpolitik. Akibatnya, saat hendak pemilu mau mencalonbkan siapa masih bingung. Akhirnya merekrut tokoh dari luar yang punya karisma, daya jual tinggi, punya dana, demi mendapat suara. Saya melihat PKS merekrut orang muda dan mengader dengan baik sehingga punya value, mendalami betul ideologi dan cita-cita partai dan siap memperjuangkan cita-cita itu karena begitu yakin.”
3. Tak Tergantung Figur.
Sejauh ini, satu-satunya partai di Tanah Air yang sangat tidak tergantung pada figure atau ketokohan seseorang adalah PKS. Sebaliknya, justru sistem di PKS berhasil memproduksi calon-calon pemimpin yang selama ini tak dikenal publik. Siapa yang dulu mengenal Anis Matta, Nurmahmudi Ismail, HNW hingga Tifatul Sembiring? Potret ketidaktergantungan pada satu tokoh ini secara mudah bisa terekam dalam spanduk-spanduk yang bertebaran jelang pilkada. Kader partai lain, misal PDI-P, Demokrat, Gerindra selalu memasang spanduk mencari dukungan dengan menampilkan wajah SBY, Megawati, Prabowo di spanduk tersebut. Sangat figuritas dan terkesan tidak percaya diri.
4. Partai Bersih dari Korupsi.
Sejauh ini, PKS adalah partai yang relatif bersih dari praktek korupsi. Dan saya yakin, dengan melihat visi-misi, serta bagaimana nilai-nilai ideologis parta diinternalisasikan ke dalam jiwa kader, praktek korupsi insya Allah sulit terjadi di tubuh PKS.
Keempat modal diatas menjadi bekal sangat penting bagi sebuah partai agar tetap bertahan lama. Dan PKS memiliki itu. Ke depan, modal ini harus dikelola dengan baik terutama dengan terus mendorong kader di akar rumput agar peduli dengan masyarakat sekitarnya, seperti yang selama ini telah dilakukan. Selain itu, kapasitas dan kompetensi kader juga penting untuk ditingkatkan. Hasil pilgub DKI Jakarta membuktikan itu bahwa integritas (tidak korupsi/jujur) ternyata tak cukup untuk meyakinkan masyarakat karena harus diikuti oleh kapasitas dan kompetensi. Singkatnya: bersih saja tak cukup, tapi juga harus profesional, seperti tagline PKS selama ini.
Kemenangan Mursi memberikan pelajaran berharga bagi siapa saja, termasuk PKS, bahwa kejayaan partai Islam itu memerlukan waktu teramat panjang. Butuh 80 tahun bagi Mursi dan kawan-kawan untuk meyakinkan masyarakat Mesir terhadap partai Islam. Dan itu harus dilalui dengan jalan terjal penuh darah, nyawa serta airmata.
Dengan segala modal yang dimiliki PKS, mimpi menghadirkan Arab Spring di Indonesia bukanlah utopia belaka. Saya teramat yakin, PKS mampu menjungkirbalikkan “ramalan” prematur para pengamat bahwa partai Islam dalam keadaan kritis dan sudah tak laku.
Bukankah Allah telah berjanji dalam firmannya:
Jika kamu pada perang Uhud mendapat luka, maka sesungguhnya kaum kafir itupun pada perang Badar mendapat luka yang serupa. Dan masa kejayaan dan kehancuran itu Kami pergilirkan diantara manusia agar mereka mendapat pelajaran. Dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir supaya sebagian kamu dijadikan-Nya gugur sebagai syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ali-Imran ayat 140).

Erwyn Kurniawan

Sumber : Berita PKS.Com

Posted By : DPC PKS Beringin DS

 

"Terima Kasih Atas Kunjungannya dan Sebelumnya Meminta Maaf, Apabila ada Kesalahan dan Kekhilafan dalam Menyajikan Informasi Serta terdapat Link-Link yang belum Aktif". Jazzaakallah Khairan Katsiran, Assalamu'alaikum Wr, Wb. ^_^

Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates