Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Blog Resmi DPC PKS Beringin Deli Serdang - Provinsi Sumatera Utara. www.pks-beringin.blogspot.com. Jika ada pertanyaan dan saran harap di kirimkan ke Email DPC PKS Beringin di.. pks.beringin.deliserdang@gmail.com

Selasa, 09 Oktober 2012

Selasa, 09 Oktober 2012

Pelopor Pertama Indonesia, Ciptakan Desa Bebas Asap Rokok

 Oleh : Muhammad Samin SS 

Sosok Inspiratif dari Ranah Minang, Wali Nagari (Kepala Desa) Sitiung Syarifuddin
Ciptakan Nagari Bebas Asap Rokok dan Nagari Berlandaskan Islam


Pepatah bilang, lain lubuk lain pula ikan nya, seperti hal nya di Sumatera Barat sebutan Wali Nagari sama dengan Kepala Desa dipedesaan atau Lurah di daerah Kota di daerah lain di Indonesia.Di Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Dharmasraya Kecamatan Sitiung tak ada yang tak kenal dengan Wali Nagari (Kepala Desa) Sitiung , yakni Syarifuddin, salah seorang Wali Nagari yang memiliki visi dan misi untuk membangun nagari berlandaskan agama Islam.

Senin, 01 Oktober 2012

Senin, 01 Oktober 2012

Istriku....Aku Mencintaimu

Islamedia :

Don't go changing, to try and please me

You never let me down before
Don't imagine your too familiar

And I don't see you anymore
I wouldn't leave you in times of trouble

We never could have come this far
I took the good times, Ill take the bad times

Ill take you just the way you are
Billy Joel - I Love You Just The Way You Are

------+
Dalam sebuah rumah seorang istri terlihat sedang mempersiapkan segala kebutuhan suaminya untuk berkerja. Mulai dari menyiapkan pakaian hingga sarapan paginya. Begitu sibuknya ia mulai sejak sebelum subuh hingga pagi itu. Belum lagi, tangis bayi buah hati mereka yang menambah suasana bahagia.

Dan ketika suami berangkat untuk mencari rahmat Alloh. Sang istri masih juga di sibukkan untuk memandikan si kecil yang masih berusia bulanan. Menyusui sambil memberikan pelukan hangatnya agar si kecil tertidur dengan nyenyak. Lalu, barulah ia mencuci sisa makanan suaminya tadi pagi hingga mencucikan pakaiannya.

--------+
Subhanalloh. Sahabat, itulah sosok istri yang ada di rumah kita saat ini. Semua keringat, dan rasa keluh yang hadir setiap hari dijalaninya dengan rasa suka dan ikhlas. Saat malam sebelum tidur ia tersenyum. Pagi hari saat membangunkan kita pun ia penuh senyum. Disetiap aktifitasnya ia tersenyum untuk kita, suami yang di cintainya.

Masalah dalam rumah. Ketika ia datang, istri kita adalah orang pertama yang menghadapinya dan menjaganya hingga kita (suaminya) pulang dari kantor. Dan senantiasa menyambut kehadiran kita, penentram, penjaga dirinya dan anak-anaknya dengan senyum terbaiknya.

Subhanalloh. Indahnya istri kita
Lalu saat masalah, dan cobaan datang kepada kita (suami) di kantor. Sesampainya di rumah pernah kah kita membantah istri yang indah itu, hanya karena tidak ada masakan untuk kita makan? Pernahkah kita mengeluhkan masakannya yang tidak sesuai dengan selera kita? Atau bahkan memarahinya karena kurang garam, atau yang lainnya?

Pernahkah kita memarahinya karena baju yang disetrika masih kurang rapi? Atau baju yang hendak kita pakai esok, masih belum juga dicucinya?  Dan masalah lain yang kita timpakan kepadanya karena kelemahan dan kekurangan kita, suaminya!

Sahabat. Pernahkah kita sebagai suami membayangkan kehidupan yang di laluinya setiap hari? Kesibukan dan kerepotan apa saja yang dihadirkan kepadanya? Sementara kita, yang lemah dan penuh dengan kekurangan ini memberikan satu lagi beban kepadanya, saat dia mengharapkan perkataan lembut dan peluk mesra sebagai obat bagi keluhnya di hari ini dengan amarah dan penolakan!

Apa yang menjadikan kita hingga begitu berhaknya mengatakan bahwa semua kesalahan yang terjadi adalah perbuatannya? Apa yang sudah kita berikan untuknya hingga menjadikan kita merasa berhak untuk memakinya dan menyakiti perasaannya? Apa, sahabat?

Sahabat. Apakah kita secara sadar tahu bahwa dia butuh ucapan cinta dan sayang dari kita. Dan sudahkah kita berikan kata itu kepada setiap hari? Apakah kita tahu bahwa dia butuh dipeluk dan di cium dengan penuh kasih sayang. Dan sudahkah kita berikan itu kepadanya setiap hari?

I Love You, Because I Love YOU (Alloh)
Sahabat. Yuk..., kita mulai menghargai apa yang sudah ada. Apa yang sudah diberikan oleh istri-istri kita untuk kita. Untuk anak-anak kita.

QuoteDia yang mampu untuk mengerahkan sebuah kasih sayang yang besar, sudah mencapai keberhasilan besar, karena syarat mencapai keberhasilan besar adalah melakukan hal – hal kecil dengan kasih sayang yang besar. Apalagi, bila yang dilakukannya adalah hal besar dengan kasih sayang yang besar. Dan kebersamaan Anda dengan "pasangan" Anda adalah hal yang besar. (by Mario Teguh)

So, berbahagialah dengan dia yang akan mengisi hari-hari kita. Bergahagialah bersamanya dengan senyum. Bersamanya mari kita bangun keluarga yang penuh dengan kasih sayang, pengertian, pengorbanan, dan senyum ikhlas dalam setiap perilaku kita. Semoga Alloh Yang Maha Indah menjadikan berkah atas apa yang kita usahakan. Karena tiada satupun yang kita lakukan tanpa mengharapkan Cinta-Nya yang Maha Agung.

-MasGagah-
 
Posted By : PKS Beringin DS

Ayah....Dengarkan Kami....

IslamediaSeperti biasa, sesaat sebelum tidur, kupandangi satu-persatu wajah buah hati ku tercinta yang sudah tertidur pulas. Pikiranku melayang jauh ke satu masa , + 14 th yl, saat diri ini melantunkan sejuta doa kepada Dia Yang Maha Mengabulkan agar dianugerahkan anak yang akan menjadi tumpuan kasih sayang dan harapan.


Kini, dua orang ksatria dan dua bidadari kecil menemani dan menghiasi indahnya surga mahligai rumah tangga dengan berbagai polah, gaya, canda, tawa, dan turut serta berbagai masalah yang mengiringinya.

Ku tatap wajah anakku yg tertua (kelas 1 SMP). "Bang, ayah berharap semoga engkau dapat menjadi kebanggaan ayah, perhatikan sikap dan prestasi belajar mu agar terjaga nama baik ayah", perlahan ku ucapkan di telinganya.
Lalu kuhampiri putraku yg kedua dan ku bisikkan padanya. " Nak, mulai sekarang kamu harus mandiri, jangan menyusahkan ayah dan ibumu. Jangan usil dan mengganggu adik-adikmu".
Selanjutnya kepada kedua putriku yang kini duduk di kelas 1 dan TK." Nak, semangat ya belajarnya. Ayah ingin kamu menjadi putri cantik yang cerdas seperti Aisyah ra", ku ucap harapanku yg semoga sampai ke dalam mimpinya.
Sesaat setelahnya.... aku tertidur......dan bermimpi...
Dalam mimpiku ini. aku melihat keempat anakku berdiri di sisiku yang sedang tertidur.
" Ayah, mengapa selalu melihat masalah dari harapan ayah. Sehingga ketika kami tidak mampu mewujudkan harapan itu, ayah berubah sikap kepada kami ?", ungkap anakku yg tertua.
" Pernah ayah menanyakan harapan kami kepada ayah ?. Tidak pernah.... Ayah tidak pernah menanyakan bahkan tidak mau tahu harapan kami kepada ayah..!", isak anakku yg kedua menahan emosinya.
" Aku cuma mau ditemenin ayah tiap hari maen kejar-kejaran sama nari-narian kayak dulu.."
" iya, aku juga mau ayah gak marah-marah lagi..."
" aku mau ayah nyediain waktu untuk ngajarin kita.."
" aku juga. aku mau ayah yang memperhatikan kami"
" aku mau ayah tahu jadwal pelajaran kami "
" aku mau ayah tahu masalah kami di sekolah "
" aku mau ayah yg baca surat dari sekolah "
" aku mau ayah menepati janji-janji ayah...."
Lalu anakku yg tertua menghampiriku sambil berkata , " Ayah, tanpa ayah minta pun , di dalam hati ini kami berharap menjadi kebanggaan ayah. Walaupun jarang sekali ayah memberikan penghargaan dan kebanggaan saat kami berhasil mencapai prestasi-prestasi kecil dalam hidup kami. Berhentilah sejenak ayah dan dengarkan harapan kami. Harapan kami sederhana. Cintailah kami, bimbinglah kami,dan perhatikan kami.."
Aku tidak dapat bergerak dan berkata-kata saat keempat anakku memelukku dan sambil menangis mereka berkata, " maafkan kami ayah, karena belum mampu membuatmu bangga - hingga kami tak pantas mendapat senyummu, perhatianmu, dan kebanggaanmu.."
Sesak dadaku...... seakan ada batu besar yg menghimpit diriku. Aku pun terbangun dalam keadaan malu karena keegoisanku dan kecewa akan sikapku..
Ku tatap kembali wajah mereka dan ku ciumi satu persatu sambil berkata, "Maafkan ayah mu nak, yang tak pernah mau tahu harapan kalian. Doakan ayah dapat membimbing kalian dengan penuh keimanan dan cinta...."
 
Bintaro, 02;30 WIB
Pak Eri 
  
 
Posted By : PKS Beringin DS

Masa Lalu Izinkan Aku Untuk Berdakwah

Islamedia - Setiap insan pastilah memiliki masa lalu. Sebuah masa dimana hal-hal yang telah dilalui yang tidak akan mungkin kita dapat mengulanginya kembali. Berbagai macam masa lalu yang dilalui oleh seseorang tak sedikit mempengaruhi perjalanan masa depannya. Ada penyesalan dan ada kebahagiaan. Penyesalan ketika masa lalu itu tak bisa diulang kembali karena seluruh isinya penuh dengan kegelapan dan kemudian ada kebahagiaan ketika masa lalu bisa dimanfaatkan secara baik dengan visi dan misi masa depan.
Masa lalu yang disi dengan kegelapan banyak membuat pesimis ketika akan berbicara tentang visi dan misi masa depan, apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan dakwah keislaman watawatsaubil haq watawatsaubil shabar. Tidak akan sedikit cela dan cemooh yang datang “sudahlah, kami tau masa lalu kamu bagaimana!” “udah jadi ustadz yah sekarang!” “baru belajar islam kemaren sore aja udah belagu!” dan akan banyak cemoohan lainnya.
Kemudian akan timbul pertanyaan “haruskah kita menyalahkan masa lalu?”
Syeikh Abdur Rahman Bin Nasir As-Sa’di dalam bukunya yang berjudul “Meraih Hidup Bahagia” mengatakan bahwa Rasulullah saw berlidung dari Al-Hamm dan Al-Hazn.Al-Hazn adalah perkara-perkara yang telah lalu yang tidak mungkin diulang dan didapati kembali, sedangkan Al-Hamm adalah sesuatu yang diakibatkan oleh ketakutan pada masa yang akan datang. Sehingga Syeikh Abdur Rahman Bin Nasir As-Sa’di memberikan pejelasan maka hendaklah seseorang menjadi manusia hari ini, mengerahkan sekuat tenaga kesungguhannya dalam memperbaiki hari dan waktunya saat ini.
Tak ada masa lalu yang harus disalahkan dalam perjalan ini. Yang kemudian harus disalahkan adalah ketika kita terfokus pada cemoohan dan celaan sehingga timbul sikap pesimis yang menyebabkan tak ada amal pengganti atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.
Dalam sebuah hadist Rasulullah saw dikatakan bahwa :
“Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat untukmu, mintalah pertolongan Allah dan janganlah engkau lemah. Jika ada sesuatu yang menimpamu, maka jangan engkau katakan: Seandainya saya kerjakan ini niscaya akan jadi begini dan begitu, akan tetapi katakanlah bahwa Allah yang telah menetapkannya, apa yang Dia kehendaki Dia perbuat. Karena sesungguhnya (kata-kata) “seandainya” membuka peluang bagi perbuatan setan.” (HR. Muslim)
Syeikh Abdur Rahman Bin Nasir As-Sa’di  menjelaskan hadist ini bagaimana Rasulullah saw dalam hadits diatas menggabungkan antara perintah untuk berupaya mendapatkan manfaat dalam setiap keadaan dengan perintah meminta pertolongan kepada Allah serta tidak tunduk terhadap kelemahan, yaitu kemalasan yang merugikan dan menyerah terhadap perkara-perkara yang telah berlalu serta menyaksikan ketetapan Allah dan ketentuannya.
Tentunya kita harus fokus pada amal yang kita lakukan pada hari ini, dengan mengabaikan setiap cemoohan dan setiap celaan dari orang-orang yang tidak paham akan jalan kebaikan.
"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang-orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia." (QS. al Furqan: 27-29).
Bagaimana kemudian kita bisa mencontoh Rasulullah saw dalam menyampaikan kebaikan-kebaikan sehingga mereka orang-orang yang melakukan cemooh atau celaan akan tau kemanfaatan hingga nanti di akhir zaman dan munculah penyesalan-penyesalan karena masih berteman dengan masa lalu yang telah kita lakukan.
Hal-hal yang kita lakukan hari memiliki urgensi yang sejalan dari sebuah perjalanan perubahan. Imam al Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumuddin” menyampaikan bahwa taubat adalah sebuah makna yang memiliki 3 buah unsur, yaitu Ilmu, Hal, dan Amal. Dimana ada proses keterkaitan diantara ketiganya yang saling mewajibkan ketika menjalani sebuah perjalanan perubahan.
Imam Al Ghazali menyampaikan dalam bukunya : "Sedangkan ilmu adalah, mengetahui besarnya bahaya dosa, dan ia adalah penghalang antara hamba dan seluruh yang ia senangi. Jika ia telah mengetahui itu dengan yakin dan sepenuh hati, pengetahuannya itu akan berpengaruh dalam hatinya dan ia merasakan kepedihan karena kehilangan yang dia cintai. Karena hati, ketika ia merasakan hilangnya yang dia cintai, ia akan merasakan kepedihan, dan jika kehilangan itu diakibatkan oleh perbuatannya, niscaya ia akan menyesali perbuatannya itu. Dan perasaan pedih kehilangan yang dia cintai itu dinamakan penyesalan. Jika perasaan pedih itu demikian kuat berpengaruh dalam hatinya dan menguasai hatinya, maka perasaan itu akan mendorong timbulnya perasaan lain, yaitu tekad dan kemauan untuk mengerjakan apa yang seharusnya pada saat ini, kemarin dan akan datang. Tindakan yang ia lakukan saat ini adalah meninggalkan dosa yang menyelimutinya, dan terhadap masa depannya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan dosa yang mengakibatkannya kehilangan yang dia cintai hingga sepanjang masa. Sedangkan masa lalunya adalah dengan menebus apa yang ia lakukan sebelumnya, jika dapat ditebus, atau menggantinya”.
Jadi tak seharusnya kita melahirkan sikap-sikap pesimis atas sebuah perjalanan perubahan. Sikap optimis untuk menghasilkan amal sebagai jalan penggugur kesalahan-kesalahan harus di pupuk terus-menerus sehingga memudarkan masa lalu yang cukup itu menjadi munajad beserta tetes-tetes air mata di setiap hening malam.
Saudaraku, setiap orang memiliki jalan perubahan menuju kebaikan. Janganlah timbulkan sikap-sikap pesimis di hati mereka. Jikau engkau tak dapat menerima seruannya maka syukurilah bahwa hari ini telah hadir calon baru penduduk surga. Doakan mereka, sikapi mereka dengan bijaksana. Ajarkan mereka tentang dunia tapi jangan ajak mereka terperosok kembali kedalam jurang kegelapan maya.
Wallahualam

Oleh : Faguza Abdullah 
 
Posted By : PKS Beringin DS

Ya Allah, Alangkah Bahagianya Calon Suamiku Itu…

Islamedia - Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid. Umurnya 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya, tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku, kenapa selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa ke rumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.
“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan, yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?.”
Dalam suasana yang seperti itu, Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini? Bukankah lebih baik disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya, semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.
Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama Rasul?”
Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”
Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”
Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan kujual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”
Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS 3: 169-170).
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia, izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”
HIKMAH
Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, “Untuk Allah di atas segalanya, and die as syuhada.”
 
Jazakumullah.
Sumber : akhwatmuslimah.com
 
 
Posted By : PKS Beringin DS 

 

"Terima Kasih Atas Kunjungannya dan Sebelumnya Meminta Maaf, Apabila ada Kesalahan dan Kekhilafan dalam Menyajikan Informasi Serta terdapat Link-Link yang belum Aktif". Jazzaakallah Khairan Katsiran, Assalamu'alaikum Wr, Wb. ^_^

Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates