Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Blog Resmi DPC PKS Beringin Deli Serdang - Provinsi Sumatera Utara. www.pks-beringin.blogspot.com. Jika ada pertanyaan dan saran harap di kirimkan ke Email DPC PKS Beringin di.. pks.beringin.deliserdang@gmail.com

Jumat, 04 Januari 2013

Jumat, 04 Januari 2013

Masyarakat Respon Positif Sosialisasi 4 Pilar Bangsa, Pendidikan Politik, dan Bela Negara

Kerjasama Program Bakesbangpol Linmas Sumut dengan LSM dan Lembaga Nirlaba Sangat Efektif

03 January, 2013

Harian Sumut Pos. Atas prakarsa dan ide strategis Plt Gubernur Sumut H Gatot Pujo Nugroho ST, Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpol Linmas) Provinsi Sumut ditugaskan memberdayakan lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan (orkemas) dan lembaga nirlaba lainnya untuk diikutsertakan mengoptimalkan tugas bangsa dan negara dalam bentuk kerjasama program.

BAWAH POHON: Plt Gubsu H Gatot Pujo Nugroho ST berinteraksi  LSM, Orkemas  Lembaga Nirlaba lainnya tidak hanya  gedung atau  aula melainkan juga berdialog  bawah pohon rambutan sebagaimana  komunitas petani  nelayan bersama Sekdaprovsu H Nurdin Lubis, Kepala Badan Kesbangpol Linmas Sumut H Eddy Syofian, Kadis PU Bina Marga H Effendi Pohan  Kabiro Keuangan Pemprovsu H Baharuddin Siagian.
DIBAWAH POHON: 
Plt Gubsu H Gatot Pujo Nugroho ST berinteraksi dengan LSM, Orkemas dan Lembaga Nirlaba lainnya tidak hanya di gedung atau di aula melainkan juga berdialog di bawah pohon rambutan sebagaimana dengan komunitas petani dan nelayan bersama Sekdaprovsu H Nurdin Lubis, Kepala Badan Kesbangpol Linmas Sumut H Eddy Syofian, Kadis PU Bina Marga H Effendi Pohan dan Kabiro Keuangan Pemprovsu H Baharuddin Siagian.

Di Kantor Bakesbangpol Linmas Sumut di Jalan Jenderal Gatot Subroto Medan kemarin, Kepala Badan Kesbangpol Linmas Sumut Drs H Eddy Syofian MAP mengemukakan tugas bangsa dan negara yang dikerjasamakan programnya untuk optimalisasi tersebut mencakup pembentukan karakter (nation building), penguatan cinta tanah air, revitalisasi nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme, memperkokoh jatidiri dan daya saing bangsa.
“Hal itu dilakukan melalui kegiatan penguatan empat pilar bangsa, pendidikan politik dan bela negara yang ternyata setelah ditelusuri melalui paket sekira 150 kerjasama program terindikasi bahwa masyarakat masih membutuhkan sosialisasi empat pilar, pendidikan politik maupun bela negara dan masyarakat sangat respon terhadap materi ini. Itulah sebabnya kerjasama program ini sangat efektif,” jelas Eddy yang pernah menjadi Pj Wali Kota Tebingtinggi dan Kepala Dinas Komonfo Sumut.
Secara garis besar kerjasama program ini dilandasi oleh Permendagri Nomor 39 Tahun 2011 sebagai perubahan atas Permendagri Nomor 44 Tahun 2009 yang intinya mengamanahkan kepada pemerintah daerah dapat melakukan kerjasama program dengan ormas dan lembaga nirlaba lainnya dalam bidang kesatuan bangsa dan politik dalam negeri.
“Adanya Permendagri ini membuat Bapak Plt Gubsu menugaskan Badan Kesbangpol Linmas Sumut melakukan kerjasama program dalam upaya optimalisasi penguatan empat pilar bangsa, pendidikan politik dan bela negara yang dirasakan masih lemah di kalangan masyarakat maupun kalangan birokrat,” jelas Eddy Syofian.

Fondasi Strategis
Plt Gubsu H Gatot Pujo Nugroho ST menilai, kata Eddy Syofian, kelemahan empat pilar bangsa dapat memperburuk kondisi bangsa karena empat pilar itu merupakan fondasi strategis yang sangat penting bagi mewujudkan karakter dan identitas bangsa dan bagi bangsa Indonesia empat pilar tersebut merupakan harga mati.
“Melepaskan atau melalaikan salah satu dari empat pilar bangsa sama artinya dengan pembubaran bangsa ini,” tegas Eddy Syofian seraya memaparkan empat pilar bangsa itu digali dan dirumuskan oleh para pendiri bangsa dari nilai-nilai kearifan lokal yang sudah terbentuk sejak ratusan tahun sebagai wujud tingginya kebudayaan leluhur bangsa Indonesia.
Sejarah mencatat kejayaan zaman kerajaan dulu seperti Kerajaan Majapahit, Singosari dan kerajaan lain yang mereka lakukan saat itu adalah menerapkan kearifan-kearifan lokal tersebut. Dan nilai-nilai itu yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa Indonesia yang kemudian melahirkan Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Masyarakat perlu diberi pemahaman tentang ini karena disaat semakin tingginya persaingan atau daya saing antar bangsa di era globalisasi, rendahnya semangat nasionalisme, munculnya berbagai konflik di daerah, salah satunya adalah akibat masyarakat tidak memahami secara benar tentang sejarah perjalanan bangsanya,” ujar Eddy Syofian.
Padahal kalau ditelusuri nyatalah bahwa empat pilar bangsa sesungguhnya perekat, pendorong, pemacu dan pemicu bagi terwujudnya bangsa yang bermartabat.
Nilai Budaya
“Pancasila yang terdiri dari lima sila misalnya digali dari nilai-nilai budaya bangsa yang menggambarkan bahwa bangsa Indonesia harus beragama, harus mengenal Tuhan,” ujarnya.
Rakyat Indonesia, lanjutnya, harus memahami bahwa beragama merupakan salah satu jalan utama mewujudkan rakyat Indonesia yang cinta damai, menghargai keberagaman, karena keberagaman itu adalah ciptaan Tuhan.
Sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab menggambarkan bangsa dan rakyat Indonesia menjunjung tinggi hak azasi manusia. Sila ketiga menggambarkan berbagai ragam suku, Agama dan budaya pada sekitar 13 ribu pulau di nusantara bisa disatukan dengan kebhinnekaan tersebut.
Sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan menggambarkan bahwa rakyat Indonesia sudah lama diajarkan untuk berdemokrasi.
Bangsa Indonesia sudah lama diajarkan bahwa untuk menyelesaikan perbedaan pendapat, pandangan atau masalah adalah melalui musyawarah yang dilandasi nilai-nilai persaudaraan.
Sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menggambarkan bahwa kemakmuran dan kesejahteraan itu harus ditujukan secara berkeadilan karena keadilan merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab negara, sehingga tercipta masyarakat yang makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran.

Kandungan UUD 1945
Terkait dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pilar Kedua yaitu Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menggambarkan bahwa bangsa Indonesia harus menghargai mekanisme kepemimpinan dan kepemerintahan, mulai dari Presiden, gubernur, bupati dan wali kota hingga kepala desa dan kelurahan.
“UUD 1945 juga menentukan dan mengatur hak dan kewajiban rakyat Indonesia serta apa tanggung jawabnya dalam melaksanakan dan ikut memajukan bangsa dan negara ini,” tuturnya.
Pilar ketiga yakni Bhinneka Tunggal Ika menggambarkan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, etnik dan golongan semuanya harus bersatu.
“Keberagaman ini adalah sebuah rahmat dan keberagaman ini kekuatan bagi bangsa Indonesia karena dari keberagaman itulah Bangsa Indonesia bisa saling melengkapi dan menyempurnakan,” kata Eddy Syofian.
Pilar keempat yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menggambarkan seluruh wilayah nusantara adalah satu kesatuan yang kokoh dan tidak dipisah-pisahkan. “Dewasa ini Republik Indonesia terdiri dari provinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah kabupaten dan kota otonom sebanyak 524. Ini semua merupakan satu kesatuan yang disebut NKRI,” tuturnya.
NKRI juga menggambarkan kepemimpinan nasional merupakan pusat dari kepemimpinan di daerah-daerah dan sebaliknya kepemimpinan di daerah harus memperkokoh terhadap kepemimpinan nasional. “Oleh sebab itu sistem pemerintahan presidential ini menggambarkan negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke yang tidak boleh dipisah-pisahkan,” ujarnya.

Pendidikan Politik
Selanjutnya tentang pendidikan politik, Eddy Syofian mengemukakan ini adalah tugas bangsa. Keberadaan partai politik (parpol) adalah dalam rangka mendidik masyarakat agar tidak buta dalam berpolitik.
“Politik itu penting. Oleh sebab itu di masa transisi pembangunan politik dewasa ini terlihat banyak kemajuan yang signifikan dalam berdemokrasi karena rakyat telah diberikan tempat untuk menentukan nasib bangsanya, untuk menentukan kepemimpinannya,” ujarnya.
Tetapi, diakui Eddy Syofian, bahwa parpol yang sesungguhnya diberikan peran yang besar untuk mendidik masyarakat, mendidik konstituennya, ternyata dirasakan belum optimal. Ini terindikasi, pada masa transisi pembangunan politik dan demokrasi dewasa ini, ternyata dalam pelaksanaannya banyak yang dirasakan belum sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Terbukti, indikasi politik transaksional dirasakan masih terjadi, pemerintahan yang korup masih menjadi bahasan masyarakat di sana-sini, di beberapa daerah isu kepala daerah terpilih karena ‘money politics’ masih menjadi topik yang membetot perhatian publik, penegakan hukum masih harus diperjuangkan dan ongkos demokrasi yang sangat mahal.
Selain itu pemilihan kepala daerah banyak yang menimbulkan konflik, banyak hasil politik yang tidak memuaskan rakyat dan sejumlah indikator dan parameter lainnya.
Semua ini menunjukkan masih banyak yang memerlukan perbaikan dan rakyat masih sangat perlu lebih diintensifkan pendidikan politik, agar semua komponen bangsa lebih cerdas dan lebih perduli terhadap kemajuan bangsa ke sepan.
“Di dalam Undang-undang Partai Politik telah ditegaskan dana yang diberikan pemerintah kepada parpol yang keterwakilannya ada di DPRD maka 60 persen harus digunakan untuk pendidikan politik,” ujar Eddy Syofian.

Dicerdaskan
Oleh sebab itu menghadapi tahun politik 2013 maka rakyat perlu lebih dicerdaskan karena tahun 2013 bagi masyarakat Sumut bukan hanya berarti memilih Gubernur dan Wakil Gubernur masa bakti 2013-2018 saja melainkan juga memilih anggota legislatif dan selanjutnya akan memilih Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014.
Artinya, lanjut dia, pendidikan politik perlu terus dilakukan baik oleh parpol maupun pemerintah mulai dari pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten dan kota. Misalnya melakukan sosialisasi pendidikan politik menghadapi Pemilu Gubsu dan Wagubsu (Pilgubsu) 2013, Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014.
“Jadi jelas bahwa rakyat harus terus diberikan pencerdasan tentang arti pentingnya belajar politik dan memahami politik yang beretika, santun, berbudaya dan bermartabat,” kata Eddy Syofian.

Bela Negara
Terkait dengan bela negara, Eddy Syofian mengemukakan sehubungan akan lahirnya Undang-Undang tentang Keamanan Nasional dimana salah satu peranannya yaitu bagaimana agar rakyat ikut bertanggung jawab dalam keselamatan dan keutuhan NKRI.
Kedaulatan negara ini katanya harus kita pertaruhkan sehingga seluruh rakyat Indonesia harus ikut dalam bela negara. Oleh sebab itu Undang-Undang yang mengatur tentang bela negara ini sangat penting apalagi sistem pertahanan negara kita adalah sistem Hankamrata yakni pertahanan dan keamanan rakyat semesta yang melibatkan seluruh rakyat Indonesia.
“Sejarah telah mencatat bahwa keberhasilan Indonesia mencapai gerbang kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 adalah karena kemanunggalan Tentara Nasional Indonesia dengan rakyat Indonesia. Perang gerilya yang digagasi oleh Jenderal Besar Abdul Haris Nasution sebagai bukti nyata kerlibatan rakyat Indonesia untuk ikut menjaga Negara kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Oleh sebab itu, kata Eddy Syofian, bela negara di kalangan generasi muda sudah harus dilakukan dan seluruh bangsa Indonesia perlu diberikan pemahaman tentang ini mulai dari tingkat pelajar hingga mahasiswa sehingga mereka ke depan menjadi cadangan-cadangan negara dalam menjaga keutuhan NKRI.
“Pengertian menjaga keutuhan NKRI tidak semata-mata dalam arti fisik yakni infiltrasi pihak asing tetapi juga menjaga nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, nilai cinta tanah air, nilai tentang mengetahui seluk beluk NKRI, memahami keberagaman, menjaga keamanan dan ketertiban umum adalah merupakan bagian dari upaya bela negara,” ujarnya.
Itulah sebabnya, lanjut Eddy Syofian, segala hal tentang empat pilar bangsa, pendidikan politik dan bela negara harus terus diketuktularkan melalui berbagai jalur antara lain melalui kerjasama program Badan Kesbangpol Linmas Sumut dengan LSM, ormas dan lembaga nirlaba lainnya melalui berbagai kegiatan seperti seminar, workshop, outbond,diskusi-diskusi politik dan diskusi publik maupun kegiatan-kegiatan nyata lainnya yang langsung berhadapan dengan masyarakat.
“Mudah-mudahan dengan kerjasama program ini akan terwujud apa yang kita harapkan. Itulah sebabnya kerjasama program yang dibangun atas prakarsa Bapak Plt Gubsu H Gatot Pujo Nugroho ST ini adalah bagian penting untuk terus dikembangkan di tahun 2013 mendatang nanti,” ujarnya.
“Inilah salah satu langkah strategis, sehingga masyarakat Sumut akan tertanam pada jiwanya empat pilar bangsa, pemahaman di dalam dadanya tentang pendidikan politik yang benar, santun dan beretika serta pemahaman di hati nuraninya tentang keinginan dan kecintaannya untuk bela negara, membela simbol-simbol negara, membela Merah Putih, menghormati pemimpin,” kata Eddy Syofian.

Lulus Verifikasi
Eddy Syofian menjelaskan Permendagri Nomor 39 Tahun 2011 mengamanahkan kerjasama dimaksud adalah kerjasama Kemendagri, Pemprov dan Pemkab/Pemko dengan ormas dan lembaga nirlaba lainnya di bidang kesatuan bangsa dan politik yang terdaftar di pemerintah, Pemprov dan Pemkab/Pemko.
Ormas, LSM dan lembaga nirlaba lainnya yang melakukan kerjasama berkewajiban menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan dan berkoordinasi dengan lembaga atau unit kerja terkait dalam pelaksanaan kegiatan.
“Organisasi kemasyarakatan dan lembaga nirlaba lainnya penerima kerjasama yang tidak menyampaikan laporan pertanggungjawaban secara lengkap dan sah bertanggungjawab secara formil dan materil terhadap seluruh uang yang telah diterima,” jelas Eddy Syofian.
Untuk melaksanakan kerjasama dimaksud dibentuk Tim Verifikasi yang bertugas melakukan penilaian terhadap perencanaan dan kelengkapan administrasi yang diajukan oleh LSM, orkemas dan atau lembaga nirlaba lainnyan serta menilai pelaporan pertanggungjawaban administrasi dan keuangan yang disampaikan oleh LSM, ormas dan lembaga nirlaba dimaksud.
Eddy Syofian mengemukakan menjadi tanggung jawab Pemda juga untuk menyosialisasikan 4 Pilar, pendidikan politik dan bela negara apalagi pimpinan MPR pada November lalu telah melakukan MoU dengan para Gubernur se Indonesia di Gedung MPR agar Pemda dapat mengalokasikan anggaran di APBDnya untuk bersama menyosialisasikan hal tersebut.
“Bapak Plt Gubsu telah merespon dengan cepat tentang hal tersebut dan Kabupaten serta Kota diharapkan juga melakukan hal yang sama,” ujar Eddy Syofian. (dmp)

Posted By : PKS Beringin DS

Kamis, 03 Januari 2013

Kamis, 03 Januari 2013

Kisah Kasih Gatot - Sutias (Bagian 1)

 
Islamedia - Saling Setia Menghadapi Cobaan 

SAAT bertutur kisah perkawinannya dengan Sutias Handayani, Gatot Pujo Nugroho benar-benar beda. Hampir dua jam, kami melihat sisi lain seorang Pelaksana tugas Gubernur Sumatera Utara.

Padahal saat memenuhi sesi wawancara ini, Gatot baru mendarat dari Jakarta setelah diberi penghargaan oleh Presiden SBY. Didampingi Sutias, kami pun membuka percakapan di ruang tamu rumah dinas kompleks Taman Setia Budi Indah. Sementara jam dinding mulai tunjuk pukul 23.30 WIB. Wajah Gatot dan Sutias sontak tersenyum simpul saat kami todong membeberkan perihal pernikahan mereka.

Pernikahan yang menghasilkan lima anak perempuan: Fifah Radhiyatullah, Fauzia Dinny Hanif, Rumaisho Hanny Muti’ah, Maryam Balqis Saliimah, dan Aisyah Nailah Rabbaniy. Gatot mengawali penuturannya dengan cerita saat dirinya aktif di Masjid Dakwah Kampus Universitas Sumatera Utara (USU) pada 1988-1989.

Di tahun itu Sutias baru pulang ke Medan menyelesaikan studi D3 di Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Jakarta. Meski tidak begitu akrab, namun keduanya sudah pernah bertemu dalam kegiatan-kegiatan dauroh (pesantren kilat).

Gatot pernah sekali datang ke rumah Sutias ketika diajak salah seorang ustaz untuk mengajak Sutias ikut aktif dalam pengajian yang mereka gelar. Gatot yang berusia 28 tahun dan dianggap yang paling tua diantara aktivis pengajian lainnya diminta Ustaz Adriano Rusfi untuk segera menikah. Saat itu pula Gatot meminta untuk dicarikan calon pasangan hidup dengan menyampaikan beberapa kriteria yang diinginkan.

Ustaz Aad-sapaan akrab Adriano Rusfi- saat itu mencoba menjodohkan Gatot dengan Sutias. Karena saat itu Gatot dan Sutias dianggap yang paling senior. Ketika ditunjukkan foto, Gatot langsung menyetujuinya.

“Karena saya sudah tau sebelumnya. Jadi saya pilih Sutias,” ujar Gatot sambil merapatkan duduknya ke Sutias yang mendampinginya. Waktu Sutias ditanya apakah langsung menerima perjodohan tersebut saat ditujukin foto, Gatot pun langsung nyeletuk. “Pasti langsung (mau),” kata Gatot sambil cubit Sutias. Sutias pun membalas dengan menyentuh lembut pipi Gatot. “Kita langsung menerima karena pilihan guru tentu yang terbaik. Apalagi saat itu memang sudah waktunya,” ujar Sutias.

Saat ditanya apakah tertarik juga dengan kegantengan Gatot, Sutias malah balik bertanya ke wartawan. Gatot pun kembali nyeletuk bahwa saat itu banyak yang tertarik dengannya. “Waktu itu banyak yang minat lho,” ujarnya penuh percaya diri sambil menyentuh lembut pipi Sutias. Sejurus kemudian, Sutias membalas mencubit Gatot karena geram dengan celetukan tersebut.Mereka lalu tersenyum.

Karena sudah ada persetujuan diantara keduanya, Gatot pun langsung meminang Sutias ke rumah orangtuanya di Pematangsiantar. Hingga akhirnya pada Mei 1990 keduanya melangsungkan pernikahan. “Itu pernikahan pertama yang digelar di Medan yang mempelai pria dan perempuannya duduk terpisah,” kenang Gatot sambil tersenyum ke arah Sutias. Mas kawinnya saat itu sejadah dan pakaian muslim. “Nggak ada emasnya ya waktu itu?” tanya Gatot sambil menggoda Sutias. “Ya masnya kan yang ini,” balas Sutias sambil memegang pipi Gatot yang mulai kelihatan malu-malu.

Suasana tengah malam yang dingin saat itu seakan mulai berubah penuh keakraban. Ketika ditanya apakah setiap hari keduanya tetap menjaga hubungan yang harmonis, Sutias pun mengatakan bahwa kemesraan itu cukup ditunjukkan di rumah. Tidak perlu di bawa ke ruang publik. Karena itu pula Sutias mengaku jarang mau pergi sama dengan suaminya jika diajak ke suatu acara.

Karena terkadang suka diminta untuk bernyanyi. “Saya ini kan bukan penyanyi, tapi pendakwah. Kalau yang mesra-mesra di rumah aja,” katanya. Kini, pasangan aktivis dakwah tersebut telah dikarunia lima orang anak perempuan yang mulai beranjak dewasa. Sutias pun mengakui, selama Gatot menjadi Plt Gubernur Sumut, banyak cobaan yang datang. Namun semua bisa dilalui karena keluarga ini saling support, saling mencintai dan saling mengingatkan untuk selalu lurus berjalan di muka bumi yang hanya sebentar.

Cobaan serupa juga muncul saat isu poligami dihembuskan lawan-lawan politik jelang Pilgubsu. Dengan tenang dan tersenyum Gatot dan Sutias mengaku tidak risau dengan isu tersebut. Sutias sendiri baru menanyakan isu poligami ini ke suaminya lebih kurang sebulan setelah isu itu bergulir beberapa bulan silam. “Sebulan berikutnya baru ditanya. Ya saya hanya bilang percaya saya atau orang lain?” kata Gatot sembari menepis isu itu. “Setelah gagal isu poligami di Medan, baru-baru ini isunya diubah jadi saya poligami di Jakarta. Padahal lihat saja, waktu saya lebih banyak di sini (Medan.red),” kata Gatot.

Bagi Sutias, Gatot sampai hari ini masihnya kekasih sejatinya. Bapak dari lima anak perempuan mereka yang kian beranjak dewasa. Dan yang membuat Sutias percaya isu tersebut tak mendasar, karena hingga detik ini lelaki kelahiran Magelang, 11 Juni 1962 itu masih tetap hangat dan mesra dalam keluarga mereka. Kebersamaan dalam keluarga juga tetap tak ada perubahan.

Gatot masih suka nonton bersama anak-anak dan Sutias di rumah untuk mengisi waktu luang. “ Jika ada poligami sudah pasti ada perubahan sikap dan waktu untuk keluarga. Alhamdulillah sejauh ini sikap dan waktu Pak Gatot masih sama hangatnya untuk kami semua,” tutur Sutias.

Menurut Sutias, isu poligami itu hanya bagian dari resiko jabatan yang diamanahkan saat ini. “Biasa saja tidak terlalu khawatir. Kalau cemburu-cemburu juga biasa, namanya cinta,” ujar Sutias disambut cubitan oleh Gatot. Suasana perbincangan saat itu benar-benar berbeda. Gatot yang selama ini cukup menjaga image jika berbicara, kali ini ceplas-ceplos sambil menunjukkan sikap manja kepada istrinya tercinta. (bersambung…….) 

Sumber : Islamedia


Posted By : PKS Beringin DS

Gatot Rayakan Detik-detik Tahun Baru Bersama Warga Kampung Madras


Laporan Wartawan Tribun Medan/ Feriansyah Nasution

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - 
Dalam rangka menyambut detik-detik pergantian tahun baru 2013, Pelaksana tugas Gubernur Sumatera Utara (Plt Gubsu) H Gatot Pujo Nugroho ST menghadiri pesta rakyat yang digelar spontan olah warga  Kampung Madras, Senin (31/12/2012) di sepanjang Jalan Zainul Arifin Medan.
Acara penyambutan seperti ini bukan pertama kalinya diselenggarakan, akan tetapi sudah merupakan bagian dari kegiatan rutin tahunan warga Parisada Hindu Dharma Indonesia Sumut dalam merayakan pergantian tahun baru masehi.

Kehadiran Plt Gubsu pada acara tersebut menjadi keistimewaan tersendiri khususnya bagi warga kampung Madras yang mayoritas keturunan India ini.

Kedatangan H Gatot Pujo Nugroho ST yang lebih dikenal Ganteng ini tentu menyita perhatian para warga yang sudah hadir memadati lokasi depan kantor Parisada Hindu Dharma Indonesia Sumut tersebut.

Kedatangan sosok Pemimpin yang merakyat dengan penampilan sederhana membuat heboh masyarakat sekitar, tak ayal lagi warga pun berbondong-bondong mengerumuni Gatot yang muncul tiba-tiba ini.

Meskipun diantara warga ada yang sekedar ingin melihat wajah Gubernur yang Ganteng  mereka juga ada yang bertekad ingin bersalaman langsung dengan Gubernur serta ada yang langsung meminta untuk berfoto.

"Wah memang bapak Gubernur kita memang Ganteng ya, pak salaman dong," teriak ibu-ibu yang mengajak anaknya untuk bersalaman.

Bahkan ada juga yang menahan sakit akibat terijak kakinya. Namun tak mengurung niatnya menembus keramaian untuk langsung bersalaman dengan Plt Gubsu.

"Pak Ganteng, pak Ganteng foto bersama dong," desak salah satu warga dari ujung jalan Zainul Arifin.

Di hadapan ribuan massa yang hadir Plt Gubsu dalam sambutan meminta kepada warga apa yang telah dilakukan pada tahun 2012 baik itu suka dan duka menjadi motivasi untuk menempuh tahun 2013 yang akan kita hadapi.

"2012 sudah selesai kita isi lembaran yang masih putih di tahun 2013  dengan berbagai prestasi. kita songsong tahun 2013 dengan hari yang lebih baik lagi," himbaunya.

Dalam kesempatan itu, Plt Gubsu juga bersama warga mengakhiri tahun 2012 dengan meniup terompet dan memasang kembang api tanda dimulainya lembaran baru tahun 2013.

Suara gemuruh petasan dan kembang api pun menggema dan menghiasi langit Kota Medan. Acara semakin meriah ketika para warga juga dihibur penampilan para warga yang menyanyikann lagu india. Mereka berjoget bersama saat Plt Gubsu juga ikut menyumbangkan lagu pada pergantian tahun baru itu.

"Selamat tahun baru, semoga tahun 2013 lebih baik lagi dari tahun sebelumnya," katanya kepada warga yang hadir.

(fer*/tribun-medan.com)

Penulis : Feriansyah
Editor : Raden Armand Firdaus
Sumber : Tribun Medan
 
Posted By : PKS Beringin DS

Kamis, 13 Desember 2012

Kamis, 13 Desember 2012

Gatot Pemimpin Yang Bijaksana



Plt Gubernur Sumatera Utara, H Gatot Pujo Nugroho harus diakui punya keistimewaan.
Berbeda dengan gubernur-gubernur terdahulu, Gatot harus diakui menjadi Gubernur yang rajin menemui para pendemo. Sejak menjadi Plt Gubsu, beberapa kali mantan Dosen Politeknik Negeri Medan ini meladeni aksi ribuan pendemo.
Mulai dari aksi petani penggarap, aksi tolak kenaikan BBM hingga yang paling aktual aksi-aksi buruh mendesak UMP Rp 2,2 juta.
Meski dicaci-maki dan dihujat, namun Gatot Pujo Nugroho tetap membuka ruang diskusi dengan massa aksi. Hujatan yang tak sopan dan kerap tak sesuai adat ketimuran (yang di telinga jurnalis sendiri bikin risih), tak membuat Gatot menutup diri.
Saat dialog dengan perwakilan buruh yang menuntut UMP Rp 2,2 juta pekan lalu di kantor Gubernur, Gatot disuguhi aksi gebrak meja dan makian dari para buruh. Gatot sendiri tetap berkepala dingin, meski para ajudannya sontak menghardik balik para buruh agar lebih sopan menyampaikan pendapat.
Menentukan UMP 2013 harus diakui menjadi ujian berat bagi seorang Gatot Pujo Nugroho.
Memuaskan semua pihak tidaklah mudah, namun kasat mata terlihat Gatot sangat ingin melindungi buruh secara jangka panjang. Dia tak ingin buruh Sumatera Utara terkena imbas PHK massal akibat UMP tak terjangkau dunia usaha! (*)


Psted By ; PKS Beringin DS

 

"Terima Kasih Atas Kunjungannya dan Sebelumnya Meminta Maaf, Apabila ada Kesalahan dan Kekhilafan dalam Menyajikan Informasi Serta terdapat Link-Link yang belum Aktif". Jazzaakallah Khairan Katsiran, Assalamu'alaikum Wr, Wb. ^_^

Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates