Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Blog Resmi DPC PKS Beringin Deli Serdang - Provinsi Sumatera Utara. www.pks-beringin.blogspot.com. Jika ada pertanyaan dan saran harap di kirimkan ke Email DPC PKS Beringin di.. pks.beringin.deliserdang@gmail.com

Kamis, 15 Maret 2012

Kamis, 15 Maret 2012

PKS Mau Siaran Televisi Mendidik dan Bermoral



Kewenangan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tidak kuat dan tegas. Sehingga sering merasa kesulitan ketika berhadapan dengan industri media, termasuk televisi.
Menyikapi hal ini, anggota Komisi I dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Syahfan Badri Sampurno, menyatakan bahwa Fraksi PKS sangat peduli terhadap siaran televisi ini. PKS mau siaran televisi yang mendidik, bermoral, baik, dan bermanfaat untuk saat ini maupun yang akan datang.
Karena itu, ungkap Syahfan, beberapa saat lalu (Kamis, 15/3), Fraksi PKS akan bekerjasama dengan pihak manapun, termasuk KPI, untuk menegaskan hak rakyat akan penyiaran yang baik dan bermoral.
“Kami punya misi mengokohkan keluarga sebagai basis pengokohan bangsa. Bagaimanapun isu penyiaran akan menjadi salah satu standing position Fraksi PKS,” demikian Syahfan. [ysa]
Sumber : http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2012/03/15/57602/PKS-Mau-Siaran-Televisi-Mendidik-dan-Bermoral-

Posted By : PKS Beringin DS

Mengapa Mereka Risau Dengan Syariat?


Prolog: Di tulisan sebelumnya, PW Muhammadiyah Aceh berpandangan, hadirnya "pengganggu" Syariat di Aceh karena khawatir, sukses di Aceh akan ditiru di daerah lain.

Mengubah Pola Pikir

Hidayatullah.com-- Kampanye dan aksi-aksi LSM liberal menolak penerapan Islam di Aceh ini sedikit mempengaruhi dan mengubah pola pikir masyarakat Aceh.


“Aksi LSM liberal ini membuat banyak masyarakat yang merasa takut akan syariat Islam, khususnya hukuman rajam. Padahal, kan pada prakteknya tidak mudah menghukum seseorang dengan hukuman rajam,” kata Hasanuddin.

Hukuman rajam bagi pezina, jelas Hasanuddin, harus menghadirkan empat saksi yang melihat pelaku melakukan hal tersebut.


“Makanya di zaman Nabi pun tidak ada orang yang dirajam karena kesaksian dari orang orang bahwa ia telah berzina. Justru di zaman Nabi lebih banyak orang dirajam karena ikrar, karena memang pengakuan langsung dan kesadaran mereka,” ungkap Hasanuddin kepad hidayatullah.com.

Lebih lanjut Hasanuddin mengatakan untuk memuluskan penyebaran faham liberalisme, banyak LSM-LSM liberal merekrut masyarakat Aceh sebagai tenaga kerjanya. 

Setali Tiga Uang

Munarman, mantan aktivis HAM, memaparkan maraknya gangguan penerapan syariat Islam di Aceh yang dilakukan oleh LSM liberal ini memang tidak bisa lepas dari unsur bisnis.


“Kampenye toleransi, kebhinekaan, HAM, maupun kesetaraan gender adalah program yang banyak diminati lembaga donor internasional,” terangnya.

Bahkan, jelas Munarman, pasca Tsunami 2004 banyak bermunculan LSM yang menyuarakan keseteraan gender. Di antara LSM-LSM gender itu adalah: Jaringan Perempuan Untuk Keadilan (JARI), Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan (RpuK), Mitra Sejati Perempuan Indonesia (MISPI), Solidaritas Perempuan Aceh, Serikat ureung Inong Aceh (SeIA), Gugus Kerja Aceh (GKA), Flower Aceh, Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSUIA), Yayasan Titah Madani Aceh (YTMA), Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), dan Kelompok Kerja Transformasi Gender Aceh (KKTGA).  

Tahun 2010 sebuah LSM bernama Gerakan Perempuan Aceh sukses menyelenggarakan pemberian penghargaan bagi perempuan Aceh (Perempuan Aceh Award -red).


Hidayatullah.com ketika berkunjung ke Banda Aceh sempat melihat papan iklan perhelatan itu masih terpasang di beberapa sudut kota. 

“Program maupun aksi yang mereka lakukan tujuannya ya untuk mencari uang,” tegas Munarman.

Pengalaman Munarman yang pernah menjadi Koordinator KontraS Aceh tahun 1999 ini memang membuatnya sedikit banyak tahu tentang asal dana LSM-LSM liberal.


“Ya, paling-paling dananya dari Kedubes AS, Yayasan TIFA milik Goerge Soros, dan Asia Foundation. Mereka itu setali tiga uang, satu guru satu ilmu. Saya tahu itu,” ungkapnya. 

Akan tetapi, KontraS Aceh membantah jika sumber dana yang diperoleh untuk menunjang  programnya berasal dari Amerika Serikat (AS). Kepada Hidayatullah.com, Hendra Fadil, Koordinator KontraS Aceh mengatakan jika sumber dana yang selama ini diperoleh lembaganya berasal dari negara-negara Uni Eropa. 

“Sumber dana kami adalah yang tidak mengikat,” ujar Hendra.

Pasang-Surut 

Sepuluh tahun formalisasi syariat bukanlah waktu yang singkat. Banyak pihak yang menilai penerapan syariat Islam di Aceh selama kurun waktu tersebut mengalami kemunduran.

Indikasi dari kemunduran itu, kata Teungku Muslim Ibrahim, dilihat dari masih sedikitnya qanun syariah yang diterbitkan. Sampai saat ini baru ada tujuh qanun yang disahkan. “Indikator lainnya adalah belum disahkannya Qanun Jinayat dan Qanun Hukum Acara Jinayat,” kata Muslim.

Meski demikian, mantan Kepala Dinas Syariat Provinsi Aceh, Al Yasa’ Abu Bakar menilai ada beberapa kemajuan.  “Bidang zakat yang diatur dalam qanun Baitul Maal Aceh merupakan bidang yang mengalami kemajuan. Sekarang anak-anak yatim terjamin, biaya kesehatan masyarakat juga gratis,” kata Al Yasa. 

Meski demikian, ia tidak memungkiri jika di bidang hudud, yakni hukuman bagi pelaku tindak pidana, mengalami kemunduran. * bersambung


Posted By : PKS Beringin DS

Selingkuh Pasti Menghancurkan Keluarga Anda


Antonio (99 tahun), pria Italia, sangat terkejut. Pasalnya, ia baru mengetahui bahwa istrinya, Rosa (96 tahun), pernah mengkhianatinya sekian waktu yang lalu. Kakek yang memiliki 5 anak, 12 cucu, dan 1 buyut ini menemukan surat-surat cinta yang dikirim kekasih istrinya saat membuka sebuah laci di lemari tua. Walaupun perselingkuhan Rosa dilakukan pada tahun 1940-an, lebih dari tujuhpuluh tahun lalu, Antonio sangat marah dan terluka.
Saat dikonfrontasi, Rosa mengakui semua perbuatannya. Perempuan kelahiran Napoli itu pun meminta maaf dan memohon sang suami memaafkannya. Namun Antonio sudah terlanjur merasa sangat dalam terluka. Sulit baginya memaafkan Rosa, perempuan yang telah dia nikahi selama 77 tahun. Selama ini ia demikian percaya dan tidak pernah menyangka Rosa mengkhianatinya.
Antonio langsung menggugat cerai sang istri. Keluarga yang sudah dibina selama tujuhpuluh tujuh tahun, rusak kebahagiaannya. Hancur kehangatannya. Pudar ikatannya. Karena perselingkuhan.
Jangan Pernah Selingkuh
Banyak orang bergurau, dengan gurauan yang jahat. Katanya selingkuh itu “selingan keluarga utuh”, atau plesetan lain semacam itu. Ini tentu saja gurauan yang berlebihan, dan menyesatkan. Kadang, dari gurauan itu berkembang menjadi “pengomporan”, saling mengejek teman yang tidak mau selingkuh. Lelaki yang tidak mau selingkuh dikatakan “takut isteri”. Perempuan yang tidak mau selingkuh dikatakan “dipenjara suami”.
Ayolah sahabat, jangan bergurau dengan hal-hal yang akan berdampak menyemangati orang melakukan kesalahan. Seakan-akan kalau berhasil selingkuh dengan aman, itu adalah lelaki yang hebat. Kalau berhasil selingkuh dengan banyak lelaki, itu adalah perempuan yang hebat. Saling mengejek kesetiaan, dengan menganggap “sok alim” bagi lelaki dan perempuan yang tidak mau mengikuti gaya hidup selingkuh.
Seorang suami mengatakan kepada saya, “Orang yang paling jahat adalah isteri kita”. Saya kaget dengan pernyataannya. “Mengapa?” tanya saya. “Nanti kamu akan tahu sendiri jawabannya, kalau kamu punya selingkuhan”, jawabnya.
Wah, saya semakin yakin dengan kejahatan selingkuh. Maka, jangan sekali-kali berpikir untuk selingkuh, atau berniat untuk selingkuh. Apalagi kalau sampai selingkuh, itu akan menghancurkan keluarga anda. Sudah terlalu banyak contohnya.
Menyakitkan Hati dan Perasaan
Kisah Antonio di atas memberikan gambaran betapa perselingkuhan membuat sakit hati dan perasaan. Sangat menyakitkan bagi pasangan. Tidak ada orang yang berbahagia ketika pasangannya melakukan perselingkuhan. Selalu, selingkuh menyakitkan hati dan perasaan pasangan.
Seorang isteri bertutur kepada saya, “Kalau saya sih terserah saja suami saya mau selingkuh atau tidak. Saya tidak mau tahu, dan itu bukan urusan saya. Yang penting tidak ketahuan oleh saya”. Kalimat ini tampak pasrah, menyerah, dan tidak memiliki daya. “Namanya laki-laki, walaupun kita sudah berdandan paling cantik dan menarik, kalau melihat daging mentah tetap saja ditubruk”, katanya.
Sepertinya sang isteri memberi izin kepada suami, karena “terserah kamu”. Namun tetap saja memendam bara, “yang penting tidak ketahuan oleh saya”. Artinya, jika perselingkuhan itu ketahuan, tetap akan merusak kebahagiaan keluarga.
Jika ada suami atau isteri yang tidak peduli pasangannya selingkuh, menandakan sedikitnya rasa cinta di antara mereka. Apalagi jika perselingkuhan tidak lagi membuat rasa sakit hati pasangan, ini menandakan keluarga tersebut sudah diambang kerusakan dan kehancuran.
Okey sahabat, mari kita pupuk dan kita rawat kesetiaan kepada pasangan. Jangan mengkhianati keluarga dengan perselingkuhan. Yakinlah, perselingkuhan pasti menghancurkan kebahagiaan keluarga.
Selamat pagi, selamat menikmati kesetiaan kepada pasangan.

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/15/selingkuh-pasti-menghancurkan-keluarga-anda/

Posted By : PKS Beringin DS

Pailit Minyak Negeri Otopilot


Peraih nobel ekonomi, Joseph E. Stiglitz di dalam bukunya Making Globalization Work (2006), mengilustrasikan sumber daya alam (SDA) yang berubah menjadi kutukan (resource curse) layaknya seseorang menemukan “berlian” di tengah ruangan. Rasa berkelimpahan mengkooptasi imajinasi, kreatifitas dan inovasi sehingga ia tak mampu mengolah apa yang dimilikinya. Tak mampu memberi nilai tambah (add value) menjadi perhiasan yang lebih berharga dan eksklusif. Dan itulah yang dipergunakan terus menerus.
Ilustrasi tersebut sangat relevan dengan bangsa kita. Melimpah sumber-sumber energi dengan beragam varian seperti gas alam, panas bumi, batu bara, uranium, dan minyak, namun tak mampu menyelamatkan Indonesia dari krisis energi, utamanya bahan bakar. Bahan baku yang kita miliki telah dieksploitasi, dilelang kepada asing tanpa diberi nilai tambah hingga dihargai murah. Indonesia menjadi negeri yang hampir pailit.
Indonesia dan beberapa negara berkembang di Asia serta Afrika, menurut Stiglitz tak menikmati kekayaan alam negaranya. Dalam perspektif berbeda, Ian Bremmer (2011) menuding kapitalisme negara (state capitalism) sebagai biang keroknya. Karena negara dikelola layaknya korporasi (korporatokrasi), semua kebijakan berpatron pada termin bisnis. Logika untung dan rugi yang bermuara pada kepentingan kapital penguasa. Artinya, kekayaan sumber daya alam dilihat sebagai komoditas.
Penulis berkeyakinan, jika rencana menaikkan harga BBM (utamanya premium) sebesar Rp1.500 per liter benar-benar direalisasikan, maka mudharat yang dituai akan lebih besar dari pada manfaatnya yang diraih. Untuk jangka panjang, hanya akan membebani ekonomi masyarakat.
Telah menjadi cerita klasik setiap kali kenaikan harga BBM, maka semua harga kebutuhan masyarakat ikut tergerek naik. Baik itu karena memang kebutuhan tersebut berkorelasi dengan kenaikan biaya transportasi, ataupun hanya ulah nakal para spekulan yang memanfaatkan kesempatan meraup untung. Naiknya harga BBM berdampak ganda (multiple effect).
Dalam kalkulasi ekonomi, meminjam data Reforminer Institute, kenaikan BBM bisa menyebabkan tambahan inflasi hingga 2,14 persen (menjadi sekitar 7 persen). Inflasi sudah barang tentu menggangu performance ekonomi nasional. Daya beli masyarakat menurun sebagai akibat dari naiknya harga-harga barang. Permintaan (demand) pasti ikut terkoreksi sehingga income industry barang dan jasa terkait, mengalami penurunan. Efeknya, untuk efisiensi dan menghindari over stock, industri terpaksa menurunkan produksi mereka. Hal ini tentu menyebabkan berkurangnya kebutuhan dan permintaan tenaga kerja sehingga bisa berakibat pada pemutusan hubungan kerja (PKH) dan moratorium penerimaan tenaga kerja yang berarti masalah sosial baru, pengangguran. Lebih jauh, menurunnya income perusahaan juga berpengaruh pada penerimaan kas negara dari sektor pajak.
Angka kemiskinan juga semakin bertambah seiring limitasi akses masyarakat pada faktor-faktor produksi yang menyebabkan produktifitas mereka menurun. Kelompok penduduk kategori hampir miskin yang berjumlah 27,8 juta jiwa akan terseret ke jurang kemiskinan. Selama ini kelompok penduduk hampir miskin bertahan dari jerat kemiskinan dengan mengandalkan pekerjaan pada sektor non formal. Padahal, kenaikan harga BBM justru akan memukul sektor non formal ini (selain menyebabkan harga-harga naik). Menurut BPS, pangan dan rokok berperan besar dalam memengaruhi kemiskinan di Indonesia. Kenaikan harga beras menyebabkan penduduk miskin bertambah sebesar 25,45% untuk perkotaan dan 32,81% di pedesaan. Artinya akan ada orang miskin baru di negeri ini yang diakibatkan oleh kebijakan tak pro rakyat, menaikkan harga BBM.
Sementara kompensasi dalam skema bantuan langsung tunai, tidak efektif untuk meringankan beban rakyat. Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sifatnya jangka pendek, tak mungkin terus menerus diterapkan. Pemberian kompensasi bahkan justru menjadi sketsa paradoks kebijakan kenaikan BBM yang tujuan awalnya untuk menyelamatkan anggaran dari pembengkakan. Berikut penjelasannya.
Dari hasil simulasi Society Research and Humanity Development (SERUM) Institute Jika kompensasi kenaikan BBM diberikan kepada 29,89 juta jiwa penduduk miskin dan 27,8 juta jiwa penduduk hampir miskin masing-masing sebesar Rp150.000,00, per bulan sebagaiamana dikatakan Menteri ESDM, maka negara harus merogoh aggaran sebesar Rp8,65 triliun setiap bulan atau sebesar Rp103,8 triliun setiap tahun. Jikapun pemerintah hanya memberikan per kepala keluarga, sangat tidak masuk akal Rp150.000,00 cukup memenuhi kebutuhan 4 orang anggota keluarga dalam sebulan.
Salah seorang rekan yang menjadi petugas lapangan di daerah Depok dalam pendataan dan penyaluran BLSM mengatakan bahwa pemerintah menemukan data, jika di daerah Depok untuk kebutuhan non pangan seperti transportasi, listrik dan pemukiman standarnya sekitar Rp56,000 perhari. Sementara untuk kebutuhan makanan pokok sebesar Rp6.000 per hari per orang. Artinya setiap orang membutuhkan Rp62.000 per hari atau Rp1.860.000 perhari.
Jikapun pemerintah memberi kompensasi dengan hitungan per kepala sebesar Rp150.000, selain tidak rasional memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, juga akan lebih boros ketimbang mempertahakan harga (subsidi) BBM pada harga saat ini. Karena menaikkan harga minyak sebesar Rp. 1.500,00 per liter hanya menghemat Rp57,45 triliun.
Tidak efektifnya kebijakan kompensasi juga disebabkan oleh potensi korupsi yang membayangi karena buruknya birokrasi kita. Bahkan, kompensasi tersebut juga hanya menjadi alat pencitraan politik penguasa jelang pemilu 2014. Partai berkuasa memanfaatkan mencitrakan diri sebagai partai pro rakyat. Kebijakan tersebut juga tak menyelesaikan akar persoalan.
Ketika kali ini pola serupa masih ditempuh, maka tak menutup kemungkinan di waktu-waktu mendatang kita akan kembali bergelut dengan masalah serupa karena kebijakan yang diambil tidak solutif dan tidak menyentuh akar masalah. Kebijakan menaikkan harga dan kompensasi sifatnya jangka pedek (short term policy).
Solusi Kongkrit
Oleh karena itu, pemerintah seharusnya membaca persoalan BBM ini secara komprehensif dan menawarkan solusi jangka panjang (long term policy). Ada beberapa tawaran solusi yang sifatnya jangka panjang.

Pertama, diversifikasi bahan bakar. Data dari BP Migas mengatakan bahwa cadangan minyak bumi Indonesia hanya 4 miliar barel dan akan habis dalam jangka 12 tahun kedepan. Artinya jika masih bergantung pada BBM, maka pada tahun 2024 Indonesia 100 persen menggunakan BBM impor yang pasti akan sangat mahal karena mengacu pada harga pasar minyak internasional
Pemerintah seharusnya mengoptimalkan sisa waktu untuk mendorong riset pengembangan bahan bakar non minyak. Banyak alternatif sumber energi, seperti panas bumi (geothermal), gas alam, bioetanol, biodiesel, panel surya, bahkan dengan menggunakan air seperti temuan siswa SMK Langsa, Aceh.

Untuk memanfaatkan energi alternatif tersebut, tentu butuh SDM yang handal. Salah satu cara melahirkan SDM kompetitif di bidang energi adalah dengan menggalakkan riset agar ada temuan-temuan baru atau mematangkan temuan yang telah ada. Namun hasanya, ternyata anggaran riset juga tidak mendukung. Hanya 0,08 persen dari PDB. Maka anggaran riset yang sangat sangat kecil tersebut harus diungkit.
Kedua, pemerintah harus tegas kepada pengguna mobil pribadi yang selama ini menikmati 45,72 persen dari 99,40 persen konsumsi BBM bersubsidi angkutan darat (Data BP Migas dan Pertamina, 2011). Para pengguna mobil pribadi yang umumnya berasal dari kelas menengah atas ini perlu dibuatkan regulasi yang mewajibkan penggunaan BBM non subsidi.
Ketiga, untuk mengurangi konsumsi BBM kendaraan roda dua yang banyak digunakan masyarakat ekonomi menengah bawah beraktifitas sehari-hari, maka perlu disiapkan sarana transportasi umum (massal) yang cepat, nyaman dan murah. Pengguna sepeda motor dengan konsumsi BBM sebesar 38,76 persen adalah akibat tidak tersedianya sarana transportasi yang memadai sehingga masyarakat menggunakan kendaraan roda dua.
Pada akhirnya, rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang merupakan kebutuhan mendasar masyarakat, harus dipertimbangkan kembali. Jangan sampai pemerintah mengelolah negara dengan mindset bisnis. Sama dengan cara mengelola perusahaan (korporatokrasi).
Subsidi kepada rakyat jangan dipandang merugikan sehingga menjadi apologi pemerintah untuk lepas tangan, hanyut oleh mainstream ekonomi neoliberal dengan mengikuti trend harga minyak dunia yang terus melonjak. Karena mengorbankan rakyat sama saja jika negara tak dirasakan kehadirnnya. Tak mampu mengintervensi sektor ekonomi sesuai hajat hidup bersama. Artinya, kita hidup bagai di negeri otopilot. Dimana rakyat berjuang sendiri untuk survive.

Jusman Dalle
Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

Posted By : PKS Beringin DS

Politik · Hukum · Peristiwa · Kriminal · Opini Anda · Info Anda · Forum · Foto · TV * detikNews * Berita Upaya PKS Duetkan Foke dan Sani Terganjal Demokrat



Jakarta Upaya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menduetkan kadernya, Triwisaksana, dengan gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo untuk maju di Pilkada DKI Jakarta terganjal sejumlah masalah. Salah satunya, faktor Partai Demokrat .

"Masalah sekarang di Foke dan Demokrat. Kuncinya di Foke. Sedangkan Foke dengan kita tidak ada masalah," ujar Wakil Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah Banten, Jakarta, dan Jawa Barat, Yudi Widiana Adia kepada detikcom, Kamis (15/3/2012). 

Yudi mengatakan, sejauh ini PKS tetap optimistis jika skenario Foke-Sani akan terus berlanjut dalam Pilkada DKI Jakarta. Sebabnya, komunikasi antara PKS dengan Foke terus terjalin secara intensif dan berlangsung sejak lama. 

Meski demikian, apapun hasil perkembangan politik yang terjadi, anggota Komisi V DPR RI ini menegaskan, PKS siap dengan berbagai skenario. PKS, kata dia, tetap akan maju di Pilkada DKI dengan atau tanpa Foke, karena hal itu amanah dari seluruh kader. 

"Dan PKS kan partai pemenang kedua dalam pemilu (2009) lalu. Jadi PKS harus tetap maju. Amanah dari kader adalah tetap maju dengan memajukan Bang Sani baik sebagai cagub ataupun cawagub," kata Yudi. 

Tarik menarik Foke di antara PKS dan gabungan Partai Demokrat-PDIP menjelang penutupan pendaftaran cagub-cawagub peserta Pilkada DKI Jakarta 19 Maret 2012 mendatang makin panas. Sebelumnya Wakil Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah Banten, Jakarta dan Jawa Barat, Yudi Widiana tetap optimis bisa mengusung duet Fauzi Bowo (Foke)-Sani di pilkada DKI. Sementara anggota Dewan Pembina Partai Demokrat (PD) Achmad Mubarok juga mengungkapkan duet Foke-Adang Ruchiatna hanya tinggal ketuk palu. PD menurutnya sudah memantapkan diri maju bersama PDIP.

Posted By : PKS Beringin DS

 

"Terima Kasih Atas Kunjungannya dan Sebelumnya Meminta Maaf, Apabila ada Kesalahan dan Kekhilafan dalam Menyajikan Informasi Serta terdapat Link-Link yang belum Aktif". Jazzaakallah Khairan Katsiran, Assalamu'alaikum Wr, Wb. ^_^

Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates