Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Blog Resmi DPC PKS Beringin Deli Serdang - Provinsi Sumatera Utara. www.pks-beringin.blogspot.com. Jika ada pertanyaan dan saran harap di kirimkan ke Email DPC PKS Beringin di.. pks.beringin.deliserdang@gmail.com

Kamis, 29 Maret 2012

Kamis, 29 Maret 2012

Air Mata Saya Menetes di Rumah Dr Hidayat Nur Wahid


Bismilaahhir Rahmaanir Rahiim,
Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk ikut dalam acara buka bersama dengan Ketua MPR-RI, DR Muhammad Hidayat Nurwahid, MA di rumah dinasnya, kompleks Widya Chandra dengan beberapa ikhwah. Ketika saya masuk ke rumah dinas beliau tsb, maka dalam hati saya bergumam sendiri: Alangkah sederhananya isi rumah ini.
Saya melihat lagi dengan teliti, meja, kursi2, asesori yg ada, hiasan di dinding. SubhanaLLAH, lebih sederhana dari rumah seorang camat sekalipun. Ketika saya masuk ke rumah tsb saya memandang ke sekeliling, kebetulan ada disana Ketua DPR Agung Laksono, Wk Ketua MPR A.M Fatwa, Menteri Agama, dan sejumlah Menteri dari PKS (Mentan & Menpera) serta anggota DPR-RI, serta pejabat-pejabat lainnya.
Lagi-lagi saya bergumam: Alangkah sederhananya pakaian beliau, tidak ada gelang dan cincin (seperti yang dipakai teman-teman pejabat yangg lain disana). Ternyata beliau masih ustadz Hidayat yg saya kenal dulu, yang membimbing tesis S2 saya dengan judul: Islam & Perubahan Sosial (kasus di Pesantren PERSIS Tarogong Garut). Terkenang kembali saat-saat masa bimbingan penulisan tesis tersebut, dimana saya pernah diminta datang malam hari setelah seharian aktifitas penuh beliau sebagai Presiden PKS, dan saya 10 orang tamu yang menunggu ingin bertemu.
Saya kebagian yg terakhir, ditengah segala kelelahannya beliau masih menyapa saya dengan senyum : MAA MAADZA MASAA’ILU YA NABIIL? Lalu saya pandang kembali wajah beliau, kelihatan rambut yang makin memutih, beliau bolak-balik menerima tamu, saat berbuka beliau hanya sempat sebentar makan kurma dan air, karena setelah beliau memimpin shalat magrib terus banyak tokoh yg berdatangan, ba’da isya & tarawih kami semua menyantap makanan, tapi beliau menerima antrian wartawan dalam & luar negeri yang ingin wawancara.
Tidak terasa airmata ana menetes, alangkah jauhnya ya ALLAH jihad ana dibandingkan dengan beliau, saya masih punya kesempatan bercanda dengan keluarga, membaca kitab dsb, sementara beliau benar-benar sudah kehilangan privasi sebagai pejabat publik, sementara beliaupun lebih berat ujian kesabarannya untuk terus konsisten dalam kebenaran dan membela rakyat. Tidaklah yang disebut istiqamah itu orang yang bisa istiqamah dalam keadaan di tengah-tengah berbagai kitab Fiqh dan Hadits seperti ana yang lemah ini.
Adapun yang disebut istiqamah adalah orang yg mampu tetap konsisten di tengah berbagai kemewahan, kesenangan, keburukan, suap-menyuap dan lingkungan yang amat jahat dan menipu. Ketika keluar dari rumah beliau saya melihat beberapa rumah diseberang yang mewah bagaikan hotel dengan asesori lampu-lampu jalan yg mahal dan beberapa buah mobil mewah, lalu ana bertanya pada supir DR Hidayat : Rumah siapa saja yg diseberang itu? Maka jawabnya : Oh, itu rumah pak Fulan dan pak Fulan Menteri dari beberapa partai besar. Dalam hati saya berkata: AlhamduliLLAH bukan menteri PKS. Saat pulang saya menyempatkan bertanya pada ustadz Hidayat: Ustadz, apakah nomor HP antum masih yang dulu?
Jawab beliau: Benar ya akhi, masih yg dulu, tafadhal antum SMS saja ke ana, cuma afwan kalo jawabannya bisa beberapa hari atau bahkan beberapa minggu, maklum SMS yang masuk tiap hari ratusan ke saya. Kembali airmata saya menetes. alangkah beratnya cobaan beliau & khidmah beliau untuk ummat ini, benarlah nabi SAW yang bersabda bahwa orang pertama yang dinaungi oleh ALLAH SWT di Hari Kiamat nanti adalah Pemimpin yang Adil. Sambil berjalan pulang saya berdoa : Ya ALLAH, semoga beliau dijadikan pemimpin yang adil dan dipanjangkan umur serta diberikan kemudahan dalam memimpin negara ini. Aaamiin ya RABB.
Penulis: Ust Nabil Almusawa
Sumber : http://www.jalanpanjang.web.id/2009/09/air-mata-saya-menetes-di-rumah-dr.html

Posted By : PKS Beringin DS

Yang tak Terliput dari Pak Dayat


Siang yang terik tak mengurangi antusiasme warga Pleret Bantul berkumpul di lapangan Pleret. Duka akibat goncangan gempa dua pekan lalu yang menewaskan ribuan orang juga belum hilang. Apa yang membuat mereka begitu antusias mendatangi lapangan?
Hari ini, ada tamu istimewa yang hadir ke desa mereka di Pleret Bantul. Tamu itu adalah Hidayat Nur Wahid, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pak Dayat, begitu beliau dipanggil akan berkunjung ke desa yang terkena dampak gempa sangat parah di Jogya sekaligus peletakan batu pertama pembangunan rumah bantuan dari donatur. Masyarakat begitu merindukan kehadiran pejabat negara yang memang juga berasal dari daerah yang dekat dengan lokasi mereka. Menurut berita, Pak Dayat keluarga Pak Dayat di Klaten juga terkena musibah gempa.
Siang makin terik, masyarakat tak juga melihat ada tanda-tanda seorang pejabat negara datang. Tiba-tiba saja, bunyi mikrophone dari tengah lapangan berbunyi.
“Yang Terhormat, Ketua MPR, Bapak Hidayat Nur Wahid selamat datang di desa kami.”
Suara pembawa acara sudah bergema sampai terdengat sekitar 25 m dari tempat acara yang berada di tengah lapangan.
“Loh, sudah datang, toh. Kapan datangnya?”
“Sudah lima belas menit lalu, Pak” saya menimpali pertanyaan seorang bapak tua yang dari tadi menunggu kedatangan Ketua MPR itu.
“Loh, biasanya ada sirine dan banyak polisi toh. Lah, ini seperti tidak ada apa-apa.”
Bapak tua itu heran karena biasanya selalu ada kehebohan kendaraan pengawal dan rombongan pejabat lainnya yang mengiringi. Ternyata Pak Dayat menaiki mobil biasa tanpa pengawalan. Bahkan Camat Pleret sampai tergopoh-gopoh mengejar Pak Dayat karena keduluan ketua MPR datangnya.
Acara diadakan di tengah lapangan. Para pejabat disediakan kursi empuk sementara warga hanya duduk lesehan beralaskan tikar. Ketika giliran Pak Dayat member sambutan, beliau kemudian turun dari kursinya dan duduk lesehan.
“Maaf bapak Ibu, bukannya saya tidak menghargai, supaya kita lebih dekat. Saya duduk nggih.” Begitulah perkataan yang saya tangkap dari obrolan beliau dengan warga dalam bahasa jawa yang sangat halus. Akhirnya pejabat dan tokoh masyarakat yang mendampingi Pak Dayat ikut lesehan. Jadilah kursi empuk yang disediakan panitia jadi kosong melompong.
Saya kagum dengan sikap sederhana beliau. Datang tidak mau merepotkan dan ketika diberi fasilitas beliau memilih fasilitas yang sama dengan warga.
Setelah acara peletakan batu pertama pembangunan rumah bantuan untuk korban gempa yang difasilitasi oleh Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT), Pak Dayat dikerumuni oleh warga untuk bersalaman. Beliau menyambut uluran tangan warga dengan senyum sambil menyempatkan berbincang walau sejenak.
“Assalamu’alaikum, Pak Dayat.” Saya memberanikan diri menyapa beliau.
“Wa’alaikum salam. Apa Kabar Mas. Terima kasih ya sudah bantu.”
Terkesiap saya menerima uluran tangan dan kata-kata yang indah ini. Kata-kata beliau memberi energi baru bagi saya untuk menjalani tugas kemanusiaan sebagai relawan di Jogja saat itu, Juni 2006. Keletihan saya selama sepekan mendadak sirna oleh sapaan hangat dan rendah hati dari seorang pejabat tinggi negara.
Saya menjadi saksi atas pengakuan banyak orang tentang kesederhanaan dan kerendahan hati Dr. Hidayat Nur Wahid yang saat ini mencalonkan diri menjadi Calon Gubernur Jakarta. Warga Jakarta kini memiliki banyak pilihan untuk mengangkat pemimpin daerahnya dan Hidayat Nur Wahid memberikan pilihan bagi warga yang ingin pemimpin berkarakter sederhana, rendah hati serta dekat dengan rakyat.


Achmad Siddik | @achmadsiddik
Relawan Gempa Jogja | Perawat Komunitas Pohon Inspirasi


Sumber : http://politik.kompasiana.com/2012/03/22/kisah-yang-tak-terliput-dari-hidayat-nur-wahid/


Posted By : PKS Beringin DS

Selasa, 20 Maret 2012

Selasa, 20 Maret 2012

“Neomodernisme Itu Dulu, Kini, Islamisasi Ilmu”



Oleh: Dr. Adian Husaini
RUANG anggrek di Arena Islamic Book Fair (IBF) Jakarta, Sabtu (10/3/2012) siang, berubah menjadi semarak. Sekitar 400 hadirin, peserta Peluncuran buku Rihlah Ilmiah Wan Mohd Nor memadati ruangan. Selama hampir dua jam mereka mengikuti pemaparan tentang pendidikan Islam dan dialog pemikiran Islam dengan pakar internasional Prof. Dr. Wan Mohd Nor. Hadir juga sebagai pembicara dalam acara tersebut Direktur Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Prof. Dr. Didin Hafidhuddin yang menguraikan tujuan pendidikan menurut al-Quran.
Usai acara yang dipandu oleh Dr. Nirwan Syafrin (peneliti INSISTS), itu, Prof Wan dikerubuti peserta diskusi yang meminta tanda tangan dan foto bersama. Fenomena seperti itu menarik. Sebab, Wan Mohd Nor bukanlah Siti Nurhaliza yang sempat popular di Indonesia. Acara saat itu pun bukan sejenis pentas seni atau panggung sulap. Acara itu, utamanya, membedah buku terbaru Prof. Wan Mohd Nor yang berjudul Rihlah Ilmiah Wan Mohd Nor Wan Daud: Dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer – selanjutnya kita sebut RIHLAH.
Sebagai pewawancara dan editor “RIHLAH”, saya bisa menyatakan, bahwa ini buku serius. “RIHLAH” mengajak umat Islam untuk memahami dan memperjuangkan gagasan Islamisasi Ilmu – yang kini terus melaju. Buku setebal 482 halaman ini diterbitkan atas kerjasama Center for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilization – Universiti Teknologi Malaysia (CASIS-UTM) bekerjasama dengan Institute for the Study of IslamicThought and Civilizations (INSISTS).
Liku-liku seorang ilmuwan besar yang berhijrah pemikiran dari satu paham ke paham lain, tentu bukan perkara kecil. Mengapa? Sebab, biasanya tidak mudah seorang yang punya reputasi internasional dan bergelar professor menyebut dirinya murid dari ilmuwan lain. Tapi, ini tidak berlaku bagi Prof. Wan. Ia menerapkan konsep adab dalam dirinya dalam soal keilmuan. Meskipun berbagai karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa: Inggris, Turki, Indonesia, Rusia, Bosnia, dan lain-lain – ia tetap mengaku sebagai murid dari ilmuwan besar: Prof. Fazlur Rahman dan Prof. Naquib al-Attas.
Kisah hijrah dari neo-modernisme ke Islamisasi ilmu itu hanya bisa dituturkan oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Sebab, hanya dialah satu-satunya ilmuwan Muslim di muka bumi ini yang sempat berguru secara intensif kepada Fazlur Rahman dan Naquib al-Attas — dua ilmuwan yang menjadi sumber dua gagasan yang kemudian menjadi dua arus besar dalam pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia: yaitu aliran neomodernisme dan Islamisasi ilmu.
Publik di Indonesia sudah terlanjur mengenal nama-nama ilmuwan popular seperti Prof. Nurcholish Madjid dan Prof. A. Syafii Maarif sebagai murid Fazlur Rahman. Di Indonesia, keduanya dikenal sebagai pendukung gagasan neomodernisme. Nurcholish Madjid bahkan sudah sejak awal 1970-an sudah mencetuskan gagasan sekularisasi yang kemudian berlanjut pada perjumpaannya dengan Fazlur Rahman, saat dia menimba ilmu di Chicago University.
Dalam disertasinya doktornya di UIN Jakarta — yang kemudian diterbitkan dengan judul, 
Dari Neomodernisme ke Islam Liberal; Jejak Fazlur Rahman dalam Wacana Islam di Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 2003) — Dr. Abd. A’la, dosen IAIN Surabaya, mengaitkan erat pemikiran pembaruan Islam Nurcholish Madjid dengan gagasan “neo-modernisme” Islam Fazlur Rahman.
Bahkan, disertasi Dr. Greg Barton di Monash University, tentang pemikiran tokoh-tokoh neo-modernisme di Indonesia, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Paramadina dengan judul Gagasan Islam Liberal di Indonesia (Jakarta: Paramadina: 1999). Yang dimaksud dengan gagasan “Islam Liberal” oleh Barton, tak lain adalah gagasan neo-modernisme yang diusung oleh sejumlah tokoh di Indonesia, termasuk Nurcholish Madjid. Menurut Greg Barton ada empat gagasan pokok gerakan neo-modernisme Islam, yaitu: (a) Pentingnya konstekstualisasi ijtihad, (b) Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan, (c) Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama, (d) Pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara.
Gagasan “kontekstualisasi ijtihad” memang merupakan salah satu ide penting yang diusung oleh Prof. Fazlur Rahman. Neo-modernisme Fazlur Rahman mengajukan perlunya perubahan metodologi penafsiran al-Quran yang biasa dikenal umat umat Islam sebagai Ilmu Tafsir. Fazlur Rahman dikenal sebagai pelopor penggunaan hermeneutika dalam penafsiran al-Quran. Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Memahami Rahman: Kesaksian Seorang Murid”, Ahmad Syafii Maarif menulis:
“Neomodernisme yang ditawarkan Rahman, pada dasarnya adalah modernisme Islam plus metodologi yang mantap dan benar dalam memahami al-Quran dan Sunnah Nabi dalam perspektif sosio-historis. Bagi Rahman, tanpa suatu metodologi yang tepat dalam menangkap pesan-pesan Islam, orang akan sulit memahami secara jernih kaitan organis antara dasar-dasar teologis Islam dan persoalan serta nilai-nilai praktis dalam kehidupan. Al-Quran, dengan demikian, seperti telah ditegaskan di atas, harus dijadikan pedoman utama dan pertama dalam memahami Islam.” (Pengantar Ahmad Syafii Maarif untuk terjemahan buku Fazlur Rahman, Kontroversi Kenabian dalam Islam, (Bandung: Mizan, 2003).
Memang, dalam bukunya, Islam and Modernity, Fazlur Rahman berpendapat bahwa al-Quran adalah “literally God’s response through Muhammad’s mind to a historic situation.” Menurut Rahman, “the Quran is entirely the words of God and, in ordinary sense, also entirely the words of Muhammad.” (Dikutip dari Disertasi Dr. Ahmad Bazli bin Syafie di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur yang berjudul A Modernist Approach to the Qur’an: A Critical Study of the Hermeneutics of Fazlur Rahman, 2005).
Kritik seorang murid
Metodologi Fazlur Rahman dalam memahami al-Quran yang menekankan aspek sosio-historis itulah yang memicu kontroversi luas di kalangan cendekiawan Muslim. Adalah menarik, bahwa salah satu pengkritik utama penggunaan metode hermeneutika tersebut adalah Prof. S.M.N. al-Attas dan Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud – sahabat dan murid Fazlur Rahman. Dalam bukunya The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998), Wan Mohd Nor menulis satu judul sub bab, “Tafsir is not Hermeneutics”.
Ia menulis dalam bukunya tersebut: “Al-Attas is perhaps the first contemporary Muslim scholar who has understood the unique nature of the Islamic science of tafsir and distinguishes it from the Western concept and practice of hermeneutics, whether on Biblical sources or other texts. In this respect al-Attas differs substantively from Fazlur Rahman and other modernist or post modernist Muslims like Arkoun, Hassan Hanafi and A. Karim Shoroush.”
Dalam kasus inilah tampak keunikan posisi Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Meskipun bergaul akrab dan sangat menghormati Fazlur Rahman, yang diakuinya sebagai guru dan ilmuwan besar di abad ke-20, Wan Mohd Nor tidak segan-segan memberikan kritik yang sangat tajam terhadap pemikiran Fazlur Rahman. Wan Mohd Nor menyatakan sependapat dengan pemikiran Naquib al-Attas, bahwa tafsir “benar-benar tidak identik dengan hermeneutika Yunani, juga tidak identik dengan hermeneutika Kristen, dan tidak juga sama dengan ilmu interpretasi kitab suci dari kultur dan agama lain.”
Lebih lanjut Wan Mohd Nor menulis: “Konsekuansi dari pendekatan hermeneutika ke atas sistem epistemologi Islam termasuk segi perundangannya sangatlah besar dan saya fikir agak berbahaya. Yang paling utama saya kira ialah penolakannya terhadap penafsiran yang final dalam sesuatu masalah, bukan hanya masalah agama dan akhlak, malah juga masalah-masalah keilmuan lainnya. Keadaan ini dapat menimbulkan kekacauan nilai, akhlak dan ilmu pengetahuan; dapat memisahkan hubungan aksiologi antar generasi, antar agama dan kelompok manusia.” (Lihat, artikel Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud di Majalah Islamia terbitan INSISTS edisi 1, tahun 2004 dan wawancara dengan beliau di majalah yang sama pada edisi 2, tahun 2004. Kajian komprehensif tentang hermeneutika dapat disimak pada Islamia edisi 1 dan 2 tersebut).
Kritik Wan Mohd Nor terhadap penggunaan hermeneutika terhadap al-Quran sangat mendasar. Sebab, dampak hermeneutika dalam penafsiran al-Quran berujung kepada relativisme Tafsir; tidak ada penafsiran final, dalam masalah agama, akhlak, dan masalah keilmuan lainnya. Dengan tegas, dikatakannya: “Keadaan ini dapat menimbulkan kekacauan nilai, akhlak dan ilmu pengetahuan; dapat memisahkan hubungan aksiologi antar generasi, antar agama dan kelompok manusia.”
Padahal, bagi penganut neomodernisme atau liberalisme, penggunaan hermeneutika untuk al-Quran dipandang sebagai satu keharusan. Bahkan, Prof. Hamim Ilyas, guru besar di UIN Yogya, menulis, bahwa orang yang menolak hermenetika untuk al-Quran bisa dicap sebagai salah satu ciri kaum fundamentalis. (Lihat CAP Adian Husaini ke-217).
*****
Saat berceramah di sejumlah kampus Indonesia, Prof. Wan Mohd Nor ditanya, mengapa sebagai murid Fazlur Rahman, pemikirannya berbeda dengan gurunya? Secara diplomatis, Prof. Wan menjawab: “Fazlur Rahman sendiri mengajarkan muridnya bersikap kritis.”
Nah, buku “RIHLAH” ini memaparkan kisah-kisah menarik – disertai dengan dokumen-dokumen otentik — bagaimana persahabatan yang sangat erat antara Wan Mohd Nor dengan Amien Rais dan Syafii Maarif, dan lain-lain. Tapi, pada saat yang sama, kita bisa memahami bagaimana perbedaan pemikiran antara Wan Mohd Nor dengan sejumlah sahabatnya itu. Beberapa dokumen dan foto kebersamaan dan persahabatan Wan Mohd Nor dengan Syafii Maarif, Amien Rais, dan sejumlah tokoh dari Indonesia bisa dinikmati dalam RIHLAH.
Saya menuliskan kata pengantar untuk RIHLAH ini dengan judul “Satria Digdaya dari Kelantan”. Judul ini kurang disetujui Prof. Wan Mohd Nor. Tapi, saya tetap bertahan. Alasannya, Wan Mohd Nor memang orang Kelantan yang telah tercebur ke dalam “kawah-panas” berbagai jenis pemikiran sekular-liberal, dan kemudian menjasi satria digdaya yang kritis terhadap paham-paham modernism dan neo-modernisme. Bahkan, buku RIHLAH ini, ditutupnya dengan sebuah bait puisi tentang Imam al-Ghazzali:
“Wahai cendekia modernis dan ulama keliru
Kenapa helang Muhammadi difitnah melulu?
Sekian lama kau menghuni sarangnya di takhta bangsa
Masih gagal membimbing bangsa mencapai cita.
Sebuah contoh menarik adalah persentuhannya dengan kaum Syiah. Di buku ini, Mohd Nor pun memaparkan kunjungannya sebanyak dua kali ke Iran dan pertemuannya dengan banyak pejabat serta cendekiawan Iran. Namun, dalam RIHLAH, diungkapkannya sebuah sikap yang tegas sebagai seorang Muslim Sunni, melalui sebuah puisi tentang Imam Khomeini, yang ditutup dengan bait berikut ini:
“Kita harus setia kepada Mustafa dan Tuhannya nan baqa
Apa untungnya terus bertengkar siapa berhak menjadi Raja?
Jika ‘Bu Bakar, Umar, Uthman, A’isyah diragui kalian
Bolehkah kami, yang lebih adna, lebih hina, dibuat kawan?
Dalam dunia pemikiran Islam, nama Prof Wan sudah dikenal di berbagai penjuru dunia. Ia telah menulis lebih dari 16 buah buku dan monograf yang diantaranya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Diantara karyanya yang terkenal ialah, “The Concept of Knowledge in Islam: Its Implications for Education in a Developing Country” (New York and London, 1989); “The Beacon on the Crest of a Hill” (ISTAC, 1991); “Penjelasan Budaya Ilmu” (Dewan Bahasa dan Pustaka, 1990); edisi keduanya diterbitkan Pustaka Nasional Singapura, 2003; “The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas : An Exposition of the Original Concept of Islamization” (ISTAC, 1998).
Dibandingkan dengan buku-bukunya yang lain, buku RIHLAH ILMIAH ini memiliki keunikan tersendiri, sebab buku ini bukan hanya menjelaskan isi dan makna suatu konsep, tetapi juga latar belakang kehidupan dan perilaku tokoh-tokoh yang mengusung suatu konsep tertentu, khusus Fazlur Rahman dan Naquib al-Attas.
Prof. Naquib al-Attas adalah ilmuwan besar yang memelopori gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Dalam RIHLAH, Prof. Wan menguraikan banyaknya kesalahpahaman terhadap gagasan Islamisasi Ilmu. Padahal, ia mencatat: “Islamisasi ilmu pengetahuan sebenarnya ialah Islamisasi fikiran, jiwa dan akhlak manusia. Islamisasi ilmu pengetahuan harus melahirkan manusia Muslim beradab tinggi. Proses Islamisasi ilmu pengetahuan tidak terpisah dengan proses penyucian jiwa (tazkiah al-nafs) dan pengindahan peribadi (tahzibul akhlak).”
Sementara Fazlur Rahman menolak gagasan Islamisasi Ilmu. Al-Attas banyak mengkritik pemikiran Fazlur Rahman. Tetapi, UNIKNYA, buku ini mencatat komentar Fazlur Rahman yang menyatakan, al-Attas adalah “ilmuwan genius”, dan Wan Mohd Nor diminta secara khusus oleh Fazlur Rahman untuk menemani al-Attas selama dia melakukan penelitian University of Chicago. Al-Attas juga mengundang Fazlur Rahman untuk mengajar di ISTAC. Tetapi, Fazlur Rahman “keburu” wafat, dipanggil Allah SWT. Akhirnya, seluruh koleksi perpustakaan pribadi Fazlur Rahman diserahkan ke ISTAC atas permintaan al-Attas kepada keluarga Rahman.
Walhasil, selamat membaca sendiri buku RIHLAH ILMIAH ini. Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita di jalan-Nya yang lurus. Amin.*/ PP Gontor Kediri, 11 Maret 2012
Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com
Sumber : http://hidayatullah.com/read/21637/12/03/2012/%E2%80%9Cneomodernisme-itu-dulu,-kini,-islamisasi-ilmu%E2%80%9D-.html

Posted By : PKS Beringin DS

3 Modal Hidayat untuk Lawan Foke & Jokowi


PKS mantap mengusung Hidayat Nurwahid dan Didik J Rachbini. PKS pun yakin figur Hidayat bisa mengalahkan sosok Fauzi Bowo yang digadang Partai Demokrat (PD) dan Joko Widodo atau Jokowi yang diusung PDIP-Gerindra.
“Pertama, figur Hidayat yang berkarakter dan terbukti laku dijual. Kedua, jaringan struktur di DKI yang sudah sampai ke koordinator RW. Ketiga, semangat. Kader di DKI akan turun semua,” jelas juru bicara PKS, Mardani, saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (20/3/2012).
Selain sosok Hidayat, PKS juga yakin dengan sang pendamping, Didik J Rachbini. Kapasitasnya sebagai ekonom bisa diandalkan untuk membangun perekonomian Jakarta.
“Kita ingin indikator ekonomi Jakarta, khususnya masalah pekerja informal, UMKM dan pelaku bisnis merasakan PKS bisnis friendly,” jelasnya.
Figur Didik diyakini bisa mem-back up dan memberi dukungan untuk bisnis friendly di Jakarta. “Kita yakin itu,” tuturnya.
Ada 6 pasang kontestan yang akan berlaga di DKI Jakarta. Hidayat-Didik diusung PKS, Alex Noerdin-Nono Sampono diusung Golkar, PPP, dan PDS. Kemudian Jokowi-Ahok diusung PDIP-Gerindra, dan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli diusung PD, PAN, PKB, PBB, dan sejumlah partai lainnya.
Juga 2 pasang calon independen yakni Faisal Basri-Biem Benyamin dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria. Calon independen ini masih membutuhkan dukungan KTP. Mereka mendapat waktu hingga 9 April untuk memenuhi persyaratan.
Sumber : http://news.detik.com/read/2012/03/20/102642/1871693/10/3-modal-hidayat-untuk-lawan-foke-jokowi

Posted By : PKS Beringin DS

Kuasailah Harta, Jangan Dikuasai!










HAMPIR setiap orang berharap memiliki harta yang berlimpah. Apalagi di zaman semua serba uang. Semua kebutuhan dan keinginan harus diperoleh dengan uang.
Sayangnya orang banyak lupa, gara-gara harta, tidak sedikit yang nestapa. Lihatlah di negara-negara berteknologi maju dan melimpah materi, justru merebak empat penyakit akibat stres: jantung, kanker, radang sendi, dan pernapasan. Inilah gambaran nestapa peradaban materi. Harta yang dicari dan dibangga-banggakan ternyata membawa sengsara. Tak bisa menjamin hidup bahagia.
Agar harta tak sia-sia, kita harus bijak menggunakannya. Jika tidak, kita sama saja lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. Miskin menderita, kaya pun sengsara.
Nah, bagaimana seharusnya kita menyikapi harta benda ini?
Orientasi Tauhid
Apa orientasi dasar hidup kita? Bagaimana kita memandang materi yang kita cari dan kita punyai? Untuk apa semua harta yang kita miliki?
Banyak orang, tanpa sadar, belum memiliki orientasi dasar yang benar terhadap harta. Cara pandangnya kabur, terombang-ambing oleh situasi dan kondisi.
Cara pandang seseorang terhadap harta menunjukkan lurus tidaknya orientasi hidupnya. Seorang yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan harta menunjukkan orientasi dasarnya adalah kekayaan. Ia menjadikan harta itu sebagai tujuan tertinggi. Sehingga ia rela mengorbankan waktu, kejujuran, dan harga diri demi mendapatkan kekayaan.
Bahkan, berdoanya kepada Tuhan pun tidak ada yang diminta kecuali harta dunia. Nasib di akhirat pun terabaikan. Inilah yang disyinyalir oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Firman-Nya:
فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ
Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”; dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (Al Baqarah [2]: 200)
Jika itu yang dilakukan, tidak perlu menunggu di akhirat, di dunia pun pasti akan menuai banyak masalah. Ia telah menebar energi negatif. Dan siapa yang menebar angin, ia pasti menuai badai.
Niat dan tindakan yang tidak benar akan berbuah pahit. Konflik dengan keluarga dan kolega, berurusan dengan hukum, sampai ancaman pembunuhan dari mereka yang merasa dizalimi.
Cara-cara seperti itu jelas tidak mengundang berkah dan ridha Allah Ta’ala. Mungkin bisa saja ia berkelit dari jeratan hukum karena kelicinannya. Tapi, tanpa rahmat Allah Ta’ala, kehidupannya tak akan berkah.
Seorang yang telah bersyahadat mestinya menjadikan tauhid sebagai orientasi dasar dalam hidupnya dan menjadikan ridha Allah Ta’ala sebagai tujuan hidupnya. Adapun harta hanya menjadi alat, bukan tujuan. Maka ia akan menggunakan harta sebesar-besarnya untuk mencapai tujuan mulia itu.
Bernilai Ibadah
Bekerja mencari harta, bila berorientasi benar, bisa memuliakan kita. Meski bekerja terlihat hanya sebagai amalan dunia, tapi jika berbingkai tauhid, semuanya menjadi bernilai ibadah.
Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada anak muda yang kuat dan perkasa. Suatu hari, pagi-pagi sekali, ia sudah keluar rumah untuk bekerja mencari harta.
Kemudian ada orang yang berkomentar, “Kasihan sekali orang itu. Andai kata masa mudanya serta kekuatannya digunakan untuk fi sabilillah, alangkah baiknya.”
Mendengar komentar itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meluruskannya. Kata beliau, ”Janganlah kamu mengatakan begitu. Sebab kalau keluarnya orang itu dari rumah untuk bekerja demi mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha fi sabilillah. Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun fi sabilillah. Tetapi bila ia bekerja karena untuk berpamer atau untuk bermegah-megahan maka itu fi sabilisy syaithan (karena mengikuti jalan setan).” (Hadits Riwayat Thabrani).
Dengan semangat fi sabilillah harta menjadi berkah. Harta akan mendatangkan kebaikan karena di sana ada rahmat Allah Ta’ala. Kalau ada kelebihan, insya Allah, bukan untuk kesombongan dan bermegahan, tetapi untuk diberikan kepada orang lain sebagai zakat, infak, dan sedekah. Harta yang baik adalah harta yang ada di tangan orang yang baik, yang digunakan untuk beramal shaleh.
Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada juga yang berharta banyak. Salah seorang di antaranya adalah Abdurrahman bin Auf. Dia pernah menyedekahkan 700 ekor unta beserta muatannya berupa kebutuhan pokok dan barang perniagaan kepada kaum Muslim. Ia juga pernah membeli tanah senilai 40 ribu dinar atau setara Rp 55 miliar untuk dibagi-bagikan kepada para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan fakir miskin. Ia juga pernah menginvestasikan tak kurang 500 ekor kuda perang dan 1.500 ekor unta untuk jihad fi sabilillah.
Ketika wafat ia pun masih sempat mewasiatkan 50 ribu dinar untuk diberikan kepada veteran perang Badar. Masing-masing pahlawan mendapat jatah 400 dinar atau setara Rp 560 juta.
Tidak semestinya kelebihan harta menghalangi kita untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Harta yang dicari dengan jalan tidak halal jelas hanya akan mempersulit perjalanan menuju Allah Ta’ala. Harta yang dicari dengan jalan halal tetapi belum digunakan di jalan Allah, juga masih belum bernilai di sisi-Nya.
Harta yang telah disedekahkan di jalan Allah Ta’ala, itulah investasi abadi yang akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah Ta’ala. Sementara harta yang tersimpan, saat maut menjemput, pasti akan kita tinggalkan di dunia ini. Hanya amal yang akan menyertai kita menghadap Allah Ta’ala kelak.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdabda, ”Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya, dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Zuhud Sejati
Banyak orang kaya yang merasa seolah-olah menguasai harta, padahal dialah yang dikuasai harta. Orang yang menjadikan harta sebagai tujuan dan melakukan segala cara untuk mendapatkannya adalah orang yang telah diperbudak oleh harta dan kesenangan dunia.
Seorang yang punya orientasi dasar tauhid dan istiqamah dengan prinsipnya, akan memiliki mental yang tercerahkan. Kaya bukan semata pada harta, tetapi pada hati. Rasa berkecukupanlah yang membuat orang bisa berdaya memberi dan berbagi.
Sebaliknya, seseorang yang secara materi kaya, tetapi mentalnya masih berkekurangan dan tamak, tak akan mampu mengeluarkan hartanya di jalan Allah Ta’ala. Ia malah ingin menyimpan sebanyak-banyaknya lagi. Mengambil dan mengambil. Orang demikian telah diperalat oleh hartanya.
Seorang yang bertauhid, hanya menjadi hamba Allah Ta’ala, bukan hamba selain-Nya. Ia hanya rela dikuasai oleh Allah Ta’ala, bukan selain-Nya. Orang seperti Abdurrahman bin Auf mampu memberikan hartanya sampai sekian banyak bukan karena ia kaya raya, tetapi karena ia mampu menguasai hartanya.
Sehingga, meski kaya raya, penampilan Abdurrahman bin Auf tetap sederhana. Ia tidak menyombongkan diri. Pakaiannya sama dengan pakaian pelayannya. Di badannya ada dua puluh bekas luka perang. Cacat pincang dan giginya yang rontok sehingga berakibat cadel, adalah tanda jasa di perang itu.
Harta seharusnya hanya menempel di tangan saja, bukan di pikiran, apalagi di hatinya. Itulah zuhud. Zuhud bukan karena tidak ada harta tetapi karena idealisme tauhidnya. Orang seperti inilah yang akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana doa yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah Ta’ala yang termaktub dalam Al Baqarah [2]: 201.
وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Wallahu a’lam bish-shawab.*
Sumber : http://hidayatullah.com/read/21791/20/03/2012/kuasailah-harta,-jangan-dikuasai!.html

Posted By : PKS Beringin DS

 

"Terima Kasih Atas Kunjungannya dan Sebelumnya Meminta Maaf, Apabila ada Kesalahan dan Kekhilafan dalam Menyajikan Informasi Serta terdapat Link-Link yang belum Aktif". Jazzaakallah Khairan Katsiran, Assalamu'alaikum Wr, Wb. ^_^

Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates