Hamasah di Jalan Da'wah
Perjalanan dakwah masih panjang. Salah satu faktor yang membuat kita dapat bertahan dan terus eksis di jalan dakwah adalah adanya hamasah (semangat) dan iradah (kehendak) kuat yang tertanam dalam jiwa kita.
Jama'ah Penuh Berkah
Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.
Bekerja Untuk Indonesia
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9:105)
Inilah Jalan Kami
Katakanlah: "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik". (12:108)
Biduk Kebersamaan
Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah di antara kita yang tersayat atau terluka ? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.
Kamis, 29 Maret 2012
Kamis, 29 Maret 2012
Air Mata Saya Menetes di Rumah Dr Hidayat Nur Wahid
Yang tak Terliput dari Pak Dayat
Selasa, 20 Maret 2012
Selasa, 20 Maret 2012
“Neomodernisme Itu Dulu, Kini, Islamisasi Ilmu”
Oleh: Dr. Adian Husaini
RUANG anggrek di Arena Islamic Book Fair (IBF) Jakarta, Sabtu (10/3/2012) siang, berubah menjadi semarak. Sekitar 400 hadirin, peserta Peluncuran buku Rihlah Ilmiah Wan Mohd Nor memadati ruangan. Selama hampir dua jam mereka mengikuti pemaparan tentang pendidikan Islam dan dialog pemikiran Islam dengan pakar internasional Prof. Dr. Wan Mohd Nor. Hadir juga sebagai pembicara dalam acara tersebut Direktur Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Prof. Dr. Didin Hafidhuddin yang menguraikan tujuan pendidikan menurut al-Quran.
Usai acara yang dipandu oleh Dr. Nirwan Syafrin (peneliti INSISTS), itu, Prof Wan dikerubuti peserta diskusi yang meminta tanda tangan dan foto bersama. Fenomena seperti itu menarik. Sebab, Wan Mohd Nor bukanlah Siti Nurhaliza yang sempat popular di Indonesia. Acara saat itu pun bukan sejenis pentas seni atau panggung sulap. Acara itu, utamanya, membedah buku terbaru Prof. Wan Mohd Nor yang berjudul Rihlah Ilmiah Wan Mohd Nor Wan Daud: Dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer – selanjutnya kita sebut RIHLAH.
Sebagai pewawancara dan editor “RIHLAH”, saya bisa menyatakan, bahwa ini buku serius. “RIHLAH” mengajak umat Islam untuk memahami dan memperjuangkan gagasan Islamisasi Ilmu – yang kini terus melaju. Buku setebal 482 halaman ini diterbitkan atas kerjasama Center for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilization – Universiti Teknologi Malaysia (CASIS-UTM) bekerjasama dengan Institute for the Study of IslamicThought and Civilizations (INSISTS).
Liku-liku seorang ilmuwan besar yang berhijrah pemikiran dari satu paham ke paham lain, tentu bukan perkara kecil. Mengapa? Sebab, biasanya tidak mudah seorang yang punya reputasi internasional dan bergelar professor menyebut dirinya murid dari ilmuwan lain. Tapi, ini tidak berlaku bagi Prof. Wan. Ia menerapkan konsep adab dalam dirinya dalam soal keilmuan. Meskipun berbagai karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa: Inggris, Turki, Indonesia, Rusia, Bosnia, dan lain-lain – ia tetap mengaku sebagai murid dari ilmuwan besar: Prof. Fazlur Rahman dan Prof. Naquib al-Attas.
Kisah hijrah dari neo-modernisme ke Islamisasi ilmu itu hanya bisa dituturkan oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Sebab, hanya dialah satu-satunya ilmuwan Muslim di muka bumi ini yang sempat berguru secara intensif kepada Fazlur Rahman dan Naquib al-Attas — dua ilmuwan yang menjadi sumber dua gagasan yang kemudian menjadi dua arus besar dalam pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia: yaitu aliran neomodernisme dan Islamisasi ilmu.
Publik di Indonesia sudah terlanjur mengenal nama-nama ilmuwan popular seperti Prof. Nurcholish Madjid dan Prof. A. Syafii Maarif sebagai murid Fazlur Rahman. Di Indonesia, keduanya dikenal sebagai pendukung gagasan neomodernisme. Nurcholish Madjid bahkan sudah sejak awal 1970-an sudah mencetuskan gagasan sekularisasi yang kemudian berlanjut pada perjumpaannya dengan Fazlur Rahman, saat dia menimba ilmu di Chicago University.
Dalam disertasinya doktornya di UIN Jakarta — yang kemudian diterbitkan dengan judul, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal; Jejak Fazlur Rahman dalam Wacana Islam di Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 2003) — Dr. Abd. A’la, dosen IAIN Surabaya, mengaitkan erat pemikiran pembaruan Islam Nurcholish Madjid dengan gagasan “neo-modernisme” Islam Fazlur Rahman.
Bahkan, disertasi Dr. Greg Barton di Monash University, tentang pemikiran tokoh-tokoh neo-modernisme di Indonesia, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Paramadina dengan judul Gagasan Islam Liberal di Indonesia (Jakarta: Paramadina: 1999). Yang dimaksud dengan gagasan “Islam Liberal” oleh Barton, tak lain adalah gagasan neo-modernisme yang diusung oleh sejumlah tokoh di Indonesia, termasuk Nurcholish Madjid. Menurut Greg Barton ada empat gagasan pokok gerakan neo-modernisme Islam, yaitu: (a) Pentingnya konstekstualisasi ijtihad, (b) Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan, (c) Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama, (d) Pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara.
Gagasan “kontekstualisasi ijtihad” memang merupakan salah satu ide penting yang diusung oleh Prof. Fazlur Rahman. Neo-modernisme Fazlur Rahman mengajukan perlunya perubahan metodologi penafsiran al-Quran yang biasa dikenal umat umat Islam sebagai Ilmu Tafsir. Fazlur Rahman dikenal sebagai pelopor penggunaan hermeneutika dalam penafsiran al-Quran. Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Memahami Rahman: Kesaksian Seorang Murid”, Ahmad Syafii Maarif menulis:
“Neomodernisme yang ditawarkan Rahman, pada dasarnya adalah modernisme Islam plus metodologi yang mantap dan benar dalam memahami al-Quran dan Sunnah Nabi dalam perspektif sosio-historis. Bagi Rahman, tanpa suatu metodologi yang tepat dalam menangkap pesan-pesan Islam, orang akan sulit memahami secara jernih kaitan organis antara dasar-dasar teologis Islam dan persoalan serta nilai-nilai praktis dalam kehidupan. Al-Quran, dengan demikian, seperti telah ditegaskan di atas, harus dijadikan pedoman utama dan pertama dalam memahami Islam.” (Pengantar Ahmad Syafii Maarif untuk terjemahan buku Fazlur Rahman, Kontroversi Kenabian dalam Islam, (Bandung: Mizan, 2003).
Memang, dalam bukunya, Islam and Modernity, Fazlur Rahman berpendapat bahwa al-Quran adalah “literally God’s response through Muhammad’s mind to a historic situation.” Menurut Rahman, “the Quran is entirely the words of God and, in ordinary sense, also entirely the words of Muhammad.” (Dikutip dari Disertasi Dr. Ahmad Bazli bin Syafie di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur yang berjudul A Modernist Approach to the Qur’an: A Critical Study of the Hermeneutics of Fazlur Rahman, 2005).
Kritik seorang murid
Metodologi Fazlur Rahman dalam memahami al-Quran yang menekankan aspek sosio-historis itulah yang memicu kontroversi luas di kalangan cendekiawan Muslim. Adalah menarik, bahwa salah satu pengkritik utama penggunaan metode hermeneutika tersebut adalah Prof. S.M.N. al-Attas dan Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud – sahabat dan murid Fazlur Rahman. Dalam bukunya The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998), Wan Mohd Nor menulis satu judul sub bab, “Tafsir is not Hermeneutics”.
Ia menulis dalam bukunya tersebut: “Al-Attas is perhaps the first contemporary Muslim scholar who has understood the unique nature of the Islamic science of tafsir and distinguishes it from the Western concept and practice of hermeneutics, whether on Biblical sources or other texts. In this respect al-Attas differs substantively from Fazlur Rahman and other modernist or post modernist Muslims like Arkoun, Hassan Hanafi and A. Karim Shoroush.”
Dalam kasus inilah tampak keunikan posisi Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Meskipun bergaul akrab dan sangat menghormati Fazlur Rahman, yang diakuinya sebagai guru dan ilmuwan besar di abad ke-20, Wan Mohd Nor tidak segan-segan memberikan kritik yang sangat tajam terhadap pemikiran Fazlur Rahman. Wan Mohd Nor menyatakan sependapat dengan pemikiran Naquib al-Attas, bahwa tafsir “benar-benar tidak identik dengan hermeneutika Yunani, juga tidak identik dengan hermeneutika Kristen, dan tidak juga sama dengan ilmu interpretasi kitab suci dari kultur dan agama lain.”
Lebih lanjut Wan Mohd Nor menulis: “Konsekuansi dari pendekatan hermeneutika ke atas sistem epistemologi Islam termasuk segi perundangannya sangatlah besar dan saya fikir agak berbahaya. Yang paling utama saya kira ialah penolakannya terhadap penafsiran yang final dalam sesuatu masalah, bukan hanya masalah agama dan akhlak, malah juga masalah-masalah keilmuan lainnya. Keadaan ini dapat menimbulkan kekacauan nilai, akhlak dan ilmu pengetahuan; dapat memisahkan hubungan aksiologi antar generasi, antar agama dan kelompok manusia.” (Lihat, artikel Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud di Majalah Islamia terbitan INSISTS edisi 1, tahun 2004 dan wawancara dengan beliau di majalah yang sama pada edisi 2, tahun 2004. Kajian komprehensif tentang hermeneutika dapat disimak pada Islamia edisi 1 dan 2 tersebut).
Kritik Wan Mohd Nor terhadap penggunaan hermeneutika terhadap al-Quran sangat mendasar. Sebab, dampak hermeneutika dalam penafsiran al-Quran berujung kepada relativisme Tafsir; tidak ada penafsiran final, dalam masalah agama, akhlak, dan masalah keilmuan lainnya. Dengan tegas, dikatakannya: “Keadaan ini dapat menimbulkan kekacauan nilai, akhlak dan ilmu pengetahuan; dapat memisahkan hubungan aksiologi antar generasi, antar agama dan kelompok manusia.”
Padahal, bagi penganut neomodernisme atau liberalisme, penggunaan hermeneutika untuk al-Quran dipandang sebagai satu keharusan. Bahkan, Prof. Hamim Ilyas, guru besar di UIN Yogya, menulis, bahwa orang yang menolak hermenetika untuk al-Quran bisa dicap sebagai salah satu ciri kaum fundamentalis. (Lihat CAP Adian Husaini ke-217).
*****
Saat berceramah di sejumlah kampus Indonesia, Prof. Wan Mohd Nor ditanya, mengapa sebagai murid Fazlur Rahman, pemikirannya berbeda dengan gurunya? Secara diplomatis, Prof. Wan menjawab: “Fazlur Rahman sendiri mengajarkan muridnya bersikap kritis.”
Nah, buku “RIHLAH” ini memaparkan kisah-kisah menarik – disertai dengan dokumen-dokumen otentik — bagaimana persahabatan yang sangat erat antara Wan Mohd Nor dengan Amien Rais dan Syafii Maarif, dan lain-lain. Tapi, pada saat yang sama, kita bisa memahami bagaimana perbedaan pemikiran antara Wan Mohd Nor dengan sejumlah sahabatnya itu. Beberapa dokumen dan foto kebersamaan dan persahabatan Wan Mohd Nor dengan Syafii Maarif, Amien Rais, dan sejumlah tokoh dari Indonesia bisa dinikmati dalam RIHLAH.
Saya menuliskan kata pengantar untuk RIHLAH ini dengan judul “Satria Digdaya dari Kelantan”. Judul ini kurang disetujui Prof. Wan Mohd Nor. Tapi, saya tetap bertahan. Alasannya, Wan Mohd Nor memang orang Kelantan yang telah tercebur ke dalam “kawah-panas” berbagai jenis pemikiran sekular-liberal, dan kemudian menjasi satria digdaya yang kritis terhadap paham-paham modernism dan neo-modernisme. Bahkan, buku RIHLAH ini, ditutupnya dengan sebuah bait puisi tentang Imam al-Ghazzali:
“Wahai cendekia modernis dan ulama keliru
Kenapa helang Muhammadi difitnah melulu?
Sekian lama kau menghuni sarangnya di takhta bangsa
Masih gagal membimbing bangsa mencapai cita.
Sebuah contoh menarik adalah persentuhannya dengan kaum Syiah. Di buku ini, Mohd Nor pun memaparkan kunjungannya sebanyak dua kali ke Iran dan pertemuannya dengan banyak pejabat serta cendekiawan Iran. Namun, dalam RIHLAH, diungkapkannya sebuah sikap yang tegas sebagai seorang Muslim Sunni, melalui sebuah puisi tentang Imam Khomeini, yang ditutup dengan bait berikut ini:
“Kita harus setia kepada Mustafa dan Tuhannya nan baqa
Apa untungnya terus bertengkar siapa berhak menjadi Raja?
Jika ‘Bu Bakar, Umar, Uthman, A’isyah diragui kalian
Bolehkah kami, yang lebih adna, lebih hina, dibuat kawan?
Dalam dunia pemikiran Islam, nama Prof Wan sudah dikenal di berbagai penjuru dunia. Ia telah menulis lebih dari 16 buah buku dan monograf yang diantaranya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Diantara karyanya yang terkenal ialah, “The Concept of Knowledge in Islam: Its Implications for Education in a Developing Country” (New York and London, 1989); “The Beacon on the Crest of a Hill” (ISTAC, 1991); “Penjelasan Budaya Ilmu” (Dewan Bahasa dan Pustaka, 1990); edisi keduanya diterbitkan Pustaka Nasional Singapura, 2003; “The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas : An Exposition of the Original Concept of Islamization” (ISTAC, 1998).
Dibandingkan dengan buku-bukunya yang lain, buku RIHLAH ILMIAH ini memiliki keunikan tersendiri, sebab buku ini bukan hanya menjelaskan isi dan makna suatu konsep, tetapi juga latar belakang kehidupan dan perilaku tokoh-tokoh yang mengusung suatu konsep tertentu, khusus Fazlur Rahman dan Naquib al-Attas.
Prof. Naquib al-Attas adalah ilmuwan besar yang memelopori gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Dalam RIHLAH, Prof. Wan menguraikan banyaknya kesalahpahaman terhadap gagasan Islamisasi Ilmu. Padahal, ia mencatat: “Islamisasi ilmu pengetahuan sebenarnya ialah Islamisasi fikiran, jiwa dan akhlak manusia. Islamisasi ilmu pengetahuan harus melahirkan manusia Muslim beradab tinggi. Proses Islamisasi ilmu pengetahuan tidak terpisah dengan proses penyucian jiwa (tazkiah al-nafs) dan pengindahan peribadi (tahzibul akhlak).”
Sementara Fazlur Rahman menolak gagasan Islamisasi Ilmu. Al-Attas banyak mengkritik pemikiran Fazlur Rahman. Tetapi, UNIKNYA, buku ini mencatat komentar Fazlur Rahman yang menyatakan, al-Attas adalah “ilmuwan genius”, dan Wan Mohd Nor diminta secara khusus oleh Fazlur Rahman untuk menemani al-Attas selama dia melakukan penelitian University of Chicago. Al-Attas juga mengundang Fazlur Rahman untuk mengajar di ISTAC. Tetapi, Fazlur Rahman “keburu” wafat, dipanggil Allah SWT. Akhirnya, seluruh koleksi perpustakaan pribadi Fazlur Rahman diserahkan ke ISTAC atas permintaan al-Attas kepada keluarga Rahman.
Walhasil, selamat membaca sendiri buku RIHLAH ILMIAH ini. Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita di jalan-Nya yang lurus. Amin.*/ PP Gontor Kediri, 11 Maret 2012
Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com
Sumber : http://hidayatullah.com/read/21637/12/03/2012/%E2%80%9Cneomodernisme-itu-dulu,-kini,-islamisasi-ilmu%E2%80%9D-.html
Posted By : PKS Beringin DS
3 Modal Hidayat untuk Lawan Foke & Jokowi
PKS mantap mengusung Hidayat Nurwahid dan Didik J Rachbini. PKS pun yakin figur Hidayat bisa mengalahkan sosok Fauzi Bowo yang digadang Partai Demokrat (PD) dan Joko Widodo atau Jokowi yang diusung PDIP-Gerindra.
“Pertama, figur Hidayat yang berkarakter dan terbukti laku dijual. Kedua, jaringan struktur di DKI yang sudah sampai ke koordinator RW. Ketiga, semangat. Kader di DKI akan turun semua,” jelas juru bicara PKS, Mardani, saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (20/3/2012).
Selain sosok Hidayat, PKS juga yakin dengan sang pendamping, Didik J Rachbini. Kapasitasnya sebagai ekonom bisa diandalkan untuk membangun perekonomian Jakarta.
“Kita ingin indikator ekonomi Jakarta, khususnya masalah pekerja informal, UMKM dan pelaku bisnis merasakan PKS bisnis friendly,” jelasnya.
Figur Didik diyakini bisa mem-back up dan memberi dukungan untuk bisnis friendly di Jakarta. “Kita yakin itu,” tuturnya.
Ada 6 pasang kontestan yang akan berlaga di DKI Jakarta. Hidayat-Didik diusung PKS, Alex Noerdin-Nono Sampono diusung Golkar, PPP, dan PDS. Kemudian Jokowi-Ahok diusung PDIP-Gerindra, dan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli diusung PD, PAN, PKB, PBB, dan sejumlah partai lainnya.
Juga 2 pasang calon independen yakni Faisal Basri-Biem Benyamin dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria. Calon independen ini masih membutuhkan dukungan KTP. Mereka mendapat waktu hingga 9 April untuk memenuhi persyaratan.
Sumber : http://news.detik.com/read/2012/03/20/102642/1871693/10/3-modal-hidayat-untuk-lawan-foke-jokowi
Posted By : PKS Beringin DS
Kuasailah Harta, Jangan Dikuasai!
HAMPIR setiap orang berharap memiliki harta yang berlimpah. Apalagi di zaman semua serba uang. Semua kebutuhan dan keinginan harus diperoleh dengan uang.
Sayangnya orang banyak lupa, gara-gara harta, tidak sedikit yang nestapa. Lihatlah di negara-negara berteknologi maju dan melimpah materi, justru merebak empat penyakit akibat stres: jantung, kanker, radang sendi, dan pernapasan. Inilah gambaran nestapa peradaban materi. Harta yang dicari dan dibangga-banggakan ternyata membawa sengsara. Tak bisa menjamin hidup bahagia.
Agar harta tak sia-sia, kita harus bijak menggunakannya. Jika tidak, kita sama saja lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. Miskin menderita, kaya pun sengsara.
Nah, bagaimana seharusnya kita menyikapi harta benda ini?
Orientasi Tauhid
Apa orientasi dasar hidup kita? Bagaimana kita memandang materi yang kita cari dan kita punyai? Untuk apa semua harta yang kita miliki?
Banyak orang, tanpa sadar, belum memiliki orientasi dasar yang benar terhadap harta. Cara pandangnya kabur, terombang-ambing oleh situasi dan kondisi.
Cara pandang seseorang terhadap harta menunjukkan lurus tidaknya orientasi hidupnya. Seorang yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan harta menunjukkan orientasi dasarnya adalah kekayaan. Ia menjadikan harta itu sebagai tujuan tertinggi. Sehingga ia rela mengorbankan waktu, kejujuran, dan harga diri demi mendapatkan kekayaan.
Bahkan, berdoanya kepada Tuhan pun tidak ada yang diminta kecuali harta dunia. Nasib di akhirat pun terabaikan. Inilah yang disyinyalir oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Firman-Nya:
فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ
Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”; dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (Al Baqarah [2]: 200)
Jika itu yang dilakukan, tidak perlu menunggu di akhirat, di dunia pun pasti akan menuai banyak masalah. Ia telah menebar energi negatif. Dan siapa yang menebar angin, ia pasti menuai badai.
Niat dan tindakan yang tidak benar akan berbuah pahit. Konflik dengan keluarga dan kolega, berurusan dengan hukum, sampai ancaman pembunuhan dari mereka yang merasa dizalimi.
Cara-cara seperti itu jelas tidak mengundang berkah dan ridha Allah Ta’ala. Mungkin bisa saja ia berkelit dari jeratan hukum karena kelicinannya. Tapi, tanpa rahmat Allah Ta’ala, kehidupannya tak akan berkah.
Seorang yang telah bersyahadat mestinya menjadikan tauhid sebagai orientasi dasar dalam hidupnya dan menjadikan ridha Allah Ta’ala sebagai tujuan hidupnya. Adapun harta hanya menjadi alat, bukan tujuan. Maka ia akan menggunakan harta sebesar-besarnya untuk mencapai tujuan mulia itu.
Bernilai Ibadah
Bekerja mencari harta, bila berorientasi benar, bisa memuliakan kita. Meski bekerja terlihat hanya sebagai amalan dunia, tapi jika berbingkai tauhid, semuanya menjadi bernilai ibadah.
Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada anak muda yang kuat dan perkasa. Suatu hari, pagi-pagi sekali, ia sudah keluar rumah untuk bekerja mencari harta.
Kemudian ada orang yang berkomentar, “Kasihan sekali orang itu. Andai kata masa mudanya serta kekuatannya digunakan untuk fi sabilillah, alangkah baiknya.”
Mendengar komentar itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meluruskannya. Kata beliau, ”Janganlah kamu mengatakan begitu. Sebab kalau keluarnya orang itu dari rumah untuk bekerja demi mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha fi sabilillah. Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun fi sabilillah. Tetapi bila ia bekerja karena untuk berpamer atau untuk bermegah-megahan maka itu fi sabilisy syaithan (karena mengikuti jalan setan).” (Hadits Riwayat Thabrani).
Dengan semangat fi sabilillah harta menjadi berkah. Harta akan mendatangkan kebaikan karena di sana ada rahmat Allah Ta’ala. Kalau ada kelebihan, insya Allah, bukan untuk kesombongan dan bermegahan, tetapi untuk diberikan kepada orang lain sebagai zakat, infak, dan sedekah. Harta yang baik adalah harta yang ada di tangan orang yang baik, yang digunakan untuk beramal shaleh.
Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada juga yang berharta banyak. Salah seorang di antaranya adalah Abdurrahman bin Auf. Dia pernah menyedekahkan 700 ekor unta beserta muatannya berupa kebutuhan pokok dan barang perniagaan kepada kaum Muslim. Ia juga pernah membeli tanah senilai 40 ribu dinar atau setara Rp 55 miliar untuk dibagi-bagikan kepada para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan fakir miskin. Ia juga pernah menginvestasikan tak kurang 500 ekor kuda perang dan 1.500 ekor unta untuk jihad fi sabilillah.
Ketika wafat ia pun masih sempat mewasiatkan 50 ribu dinar untuk diberikan kepada veteran perang Badar. Masing-masing pahlawan mendapat jatah 400 dinar atau setara Rp 560 juta.
Tidak semestinya kelebihan harta menghalangi kita untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Harta yang dicari dengan jalan tidak halal jelas hanya akan mempersulit perjalanan menuju Allah Ta’ala. Harta yang dicari dengan jalan halal tetapi belum digunakan di jalan Allah, juga masih belum bernilai di sisi-Nya.
Harta yang telah disedekahkan di jalan Allah Ta’ala, itulah investasi abadi yang akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah Ta’ala. Sementara harta yang tersimpan, saat maut menjemput, pasti akan kita tinggalkan di dunia ini. Hanya amal yang akan menyertai kita menghadap Allah Ta’ala kelak.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdabda, ”Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya, dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Zuhud Sejati
Banyak orang kaya yang merasa seolah-olah menguasai harta, padahal dialah yang dikuasai harta. Orang yang menjadikan harta sebagai tujuan dan melakukan segala cara untuk mendapatkannya adalah orang yang telah diperbudak oleh harta dan kesenangan dunia.
Seorang yang punya orientasi dasar tauhid dan istiqamah dengan prinsipnya, akan memiliki mental yang tercerahkan. Kaya bukan semata pada harta, tetapi pada hati. Rasa berkecukupanlah yang membuat orang bisa berdaya memberi dan berbagi.
Sebaliknya, seseorang yang secara materi kaya, tetapi mentalnya masih berkekurangan dan tamak, tak akan mampu mengeluarkan hartanya di jalan Allah Ta’ala. Ia malah ingin menyimpan sebanyak-banyaknya lagi. Mengambil dan mengambil. Orang demikian telah diperalat oleh hartanya.
Seorang yang bertauhid, hanya menjadi hamba Allah Ta’ala, bukan hamba selain-Nya. Ia hanya rela dikuasai oleh Allah Ta’ala, bukan selain-Nya. Orang seperti Abdurrahman bin Auf mampu memberikan hartanya sampai sekian banyak bukan karena ia kaya raya, tetapi karena ia mampu menguasai hartanya.
Sehingga, meski kaya raya, penampilan Abdurrahman bin Auf tetap sederhana. Ia tidak menyombongkan diri. Pakaiannya sama dengan pakaian pelayannya. Di badannya ada dua puluh bekas luka perang. Cacat pincang dan giginya yang rontok sehingga berakibat cadel, adalah tanda jasa di perang itu.
Harta seharusnya hanya menempel di tangan saja, bukan di pikiran, apalagi di hatinya. Itulah zuhud. Zuhud bukan karena tidak ada harta tetapi karena idealisme tauhidnya. Orang seperti inilah yang akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana doa yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah Ta’ala yang termaktub dalam Al Baqarah [2]: 201.
وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Wallahu a’lam bish-shawab.*
Sumber : http://hidayatullah.com/read/21791/20/03/2012/kuasailah-harta,-jangan-dikuasai!.html
Posted By : PKS Beringin DS


_Home
2:27 PM
Unknown







