Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Blog Resmi DPC PKS Beringin Deli Serdang - Provinsi Sumatera Utara. www.pks-beringin.blogspot.com. Jika ada pertanyaan dan saran harap di kirimkan ke Email DPC PKS Beringin di.. pks.beringin.deliserdang@gmail.com

Jumat, 14 September 2012

Jumat, 14 September 2012

3 Hal yang Membuat Kita Bersatu






Beda! Ya, setiap orang punya perbedaan. Baik beda warna kulit, beda suku, beda bahasa dan beda bangsa dan beda-beda lainnya. Namun walaupun demikian perbedaan yang ada tidak membuat kita berpecah meskipun pada realitanya kita terlalu banyak berdebat pada masalah-masalah furu’(cabang). Sebab kita ini adalah satu ummah, satu batang tubuh. Dimana jika satu bagian merasakan sakit, maka yang lain juga turut merasakan sakit begitu sabda junjungan Nabi Saw.
Sobat muslim muda, ada tiga hal yang menjadi titik persamaan kita. Dan tiga point inilah yang seharusnya mampu dan selalu menyatukan langkah kita, sehingga menjadi satu barisan yang kokoh tak terkalahkan.

Pertama: Kita disatukan oleh satu "Akidah". Kita mempunyai akidah yang sama. Allah tujuan kita, Rasulullah adalah tauladan kita, Al Qur'an kitab suci kita yang menjadi pedoman dalam hidup kita.
Nah, akidah inilah yang mampu menyatukan kabilah-kabilah Arab yang dulunya suka berperang menjadi satu saudara. Begitu juga dengan orang kulit hitam, kulit kuning bersaudara dengan orang yang kulit putih. Mereka disatukan dan diikat dalam satu akidah.
Bahkan terkadang persaudaraan seakidah lebih kuat dibanding persaudaraan sedarah. Makanya salah satu nikmat yang paling besar adalah nikmat ukhuwah. Karena dengan ukhuwah ini kita menjadi saling membantu sesama saudara. Bisa kita katakan ikatan yang paling kuat itu adalah ikatan akidah bukan ikatan nasab atau keluarga.
Kita pasti masih ingat dengan cerita Nabi Nuh yang berdoa kepada Allah agar anaknya diselesamatkan dari banjir bandang. Akan tetapi Allah mengatakan bahwa si kan'an bukanlah termasuk dari keluarganya dikarenakan anaknya tidak mau memenuhi ajakan ayahnya untuk bertauhid kepada Allah.

Kedua: Kita disatukan dalam satu "Risalah" yaitu risalah Islam. Dari dulu sampai sekarang Al Qur'an yang kita baca sama dengan Al Qur'an yang dulu dibawa oleh Rasulullah. Tak ada yang beda. Rukun Islam dan rukun iman tidak ada yang bertambah ataupun berkurang dengan kemajuan zaman. Semuanya tsabit (tetap).
Allah mengatakan dalam Al Qur'an bahwasanya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Tidak jauh beda memang dengan point sebelumnya. Karena akidah atau iman lebih bersifat keyakinan dalam hati sedangkan Islam adalah amal-amal perbuatan.
Di sini, di negeri Kinanah tempat saya menimba ilmu. Saya punya banyak saudara dari berbagai benua. Ada yang dari Afrika, Eropa, Asia dan lain sebagainya. Meskipun berbeda warna kulit dan bahasa. Tapi kami saling akrab dan saling bantu-membantu. Tak ada yang menyatukan hati-hati kami selain satu risalah yaitu al Islam.

Ketiga: Kita disatukan oleh satu "Qodhiah" atau satu permasalahan yaitu Qodhiah al Filastiniah. Permasalahan Palestina bukan sekedar permasalah perebutan wilayah. Tapi ia lebih dari itu. Ini adalah salah satu PR umat yang masih belum terselesaikan. Masalah Palestina adalah masalah kita bersama.
Dulu ketika negara zionis Israel mendeklarisakan berdirinya di bumi Palestina. Saudara-saudara arabnya bersatu untuk melawan Zionis Israel. Akan tetapi beberapa kali perang melawan Zionis Israel tetap saja kalah. Dr. Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya "Al Islam wal Qadhiah Filastiniah" mengatakan bahwa peperangan Arab-Israel selama ini lebih kepada perang atas dasar nasionalisme dan kefanatikan bukan atas dasar dan niat ingin meninggikan kalimat Allah sedangkan kemenangan itu datangnya dari Allah.
Lalu bagaimana dengan masalah revolusi Suriah yang sudah menelan dua puluh tiga ribu syuhada'. Masalah etnis Rohingya yang diusir dari negerinya Arakan. Somalia yang masih perang saudara. Serta masih banyak lagi bumi Islam lainnya yang masih butuh perhatian. Penulis buku "Ahadits Musthafa fi Ghirsi Hubbil Al Aqsha" mengatakan bahwa apa yang terjadi di dunia Islam sekarang ini adalah akibat kita menyia-nyiakan qodhiah yang sangat penting yaitu "Qodhiah Filastin". Beliau menambahkan bagaimana kita bisa membantu saudara di belahan bumi lainnya sedangkan masalah yang paling penting saja kita sia-siakan.  
Wallahua’lam.

Penulis: Akhrie Robbani
Menjelang Zuhur - 10th District, Cairo, 12 Agustus 2012

Posted BY : PKS Beringin DS

Peradaban Islam Akankah Bangkit Kembali?




Menjelang keruntuhan kekhalifahan Islam terakhir di Eropa (Spanyol) dan Timur tengah. Semua aspek kekayaan Islam telah diadopsi oleh bangsa yang bahkan tidak mengenal cara mandi sebelumnya, bangsa Eropa. Kaum feodal ini menjamah seluruh kekayaan, ilmu pengetahuan Islam dan menjarahnya hingga menjadi lampu penerang bagi mereka dalam menuju sebuah pencapaian akhir.
Dengan tidak mengindahkan aturan agama dan nilai sosial, inti sari dari peradaban Islam diserap sahabis-habisnya. Tidak dikenal silsilah keilmuan (amanah ilmu) dalam sejarah barat sebagaimana Ilmu Islam yang memiliki sanad (ilmu riwayat) dan dirayatnya, hal ini membawa pendekatan bahwa keilmuan itu hasil peradaban lain yang sudah tidak otentik lagi alias adopsi dari peradaban lain.
Lahirnya kaum filosofis yang membawa perubahan besar dalam tatanan beragama dan bernegara adalah salah awal kebangkitan mereka. Pemikiran mereka dijadikan tumpuan dalam bertindak dan bangkit dari keterpurukan di abad pertengahan.

Sekularisme
                      Dimulai dari sepak terjang kaum sekuler semenjak abad pertengahan di Eropa membuat pengaruh yang sangat besar terhadap konsep pemerintahan dan pemikiran sosial masyarakat hari ini yang disebut sebagai era modern. Sementara zaman dimana Islam berjaya mereka namakan dengan The Dark Ages, padahal tanpa Islam kaum feodal tak akan pernah bangkit. Pemisahan antara negara dan agama adalah salah satu ciri penerapan konsep sekuler. Sekularisme atau Sekulerisme dalam penggunaan masa kini yang secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan tertentu.
                     Prinsip utama pemisahan gereja di AS, revolusi di Perancis, dan industrialisasi Inggris adalah berdasarkan ide sekularisme. Pergerakan menuju pemisahan antara negara dan agama dapat berupa pengurangan keterikatan antara pemerintahan dengan agama negara, menghapuskan hukum keagamaan dengan hukum sipil dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil pada dasar agama. Hal ini dianggap menunjang demokrasi dan melindungi hak-hak kalangan beragama yang minoritas. Beberapa negara yang telah menerapkan prinsip ini adalah Kanada, India, Perancis, Turki dan Korea Selatan. Namun ternyata tidak semua dari negara tersebut yang berhasil menerapkan prinsip kesetaraan dalam sekularitas, seperti Skandinavia yang dianggap tidak becus membela kaum minoritas, hingga Perancis yang melarang penggunaan atribut agama tertentu saja .

Pluralisme Demokratis, Naturalisme dan Liberalisasi
                       Makna kaum agamis dan hukum-hukumnya yang sering dianggap sebagai kalangan konservatif, cenderung mengalami peyorasi di mata kaum sekular. Mereka dikesankan sebagai kalangan fanatik. Ide dasar prinsip ini adalah untuk menyudutkan hukum agama dari sistem bernegara hingga bermuara pada Pluralisme yang menganggap bahwa semua agama samawi maupun ardhi mempunyai ajaran yang sama. Tujuannya satu, yaitu untuk mengangkat sebuah ide Demokrasi yang berdasarkan pada pencerahan, ilmu pengetahuan dan rasionalisme hingga menjauh dari agama yang dianggap doktrin takhayul belaka. Tak ayal ide ini pula yang mengantarkan sebagian besar orang-orang pintar dan jenius pada “prinsip hidup” yang dinamakan Naturalisme. Sebuah prinsip dan keyakinan bahwa manusia, alam dan seluruh isinya adalah hasil proses alamiah begitu saja tanpa pencipta.
                     Mulai dari ide naturalisme dalam teori-teori Darwinisme yang mengatakan bahwa manusia itu mengalami evolusi hingga menafikan keberadaan Tuhan , sampai pada prinsip hidup ala barat hari ini yang membebaskan cara berfikir manusia sebebas-bebasnya. Tidak ada sekat yang membedakan antara manusia dengan binatang dalam cara berbusana misalnya. “Seorang manusia bebas untuk membuka bagian mana saja dari tubuhnya karena ia mempunyai hak untuk itu”. Salah satu alasan yang akhirnya membawa pada konsep Liberalisme. Sebuah ide yang membebaskan pikiran anak manusia. Tidak ada lagi aturan dari nilai moral sosial atau agama yang mampu menghalangi keinginan manusia. Akhirnya prinsip ini akan menghapuskan inti ajaran agama dan moral sosial yang ada.

Hegemoni Barat
Dan untuk menggapai tujuan tersebut banyak cara digunakan oleh “sang dalang utama”. Sistem ekonomi Kapitalisme yang bertujuan merauk keuntungan sebanyak-banyaknya. Semangat pasar bebas (globalisasi market) yang merupakan semangat Neo Kolonialisme melalui liberalisme ekonomi. Perusahaan besar asing tidak dapat dihalangi oleh pihak manapun untuk menanam investasi sebesar-besarnya dan akhirnya tidak sepersenpun keuntungan mengalir ke tangan pribumi. Mayoritas kebutuhan primer dunia pada sumber daya alam dan manusianya saat ini tengah berada di tangan yang salah. Hingga dengan mudah mereka mengatur jalur perputaran market dunia dan membuat sebuah negara menjadi jatuh miskin adalah hal yang sangat logis dengan alibi krisis moneter.
                    Kantor-kantor berita yang memegang kendali isu yang berkembang pun tengah berada di tangan yang salah. Akses informasi dunia digiring pada satu arah dan tidak berimbang. Menyudutkan musuh dan menutupi kebobrokan sistem. Hingga dengan mudah pula mereka membuat sebuah isu menjadi fakta dan realita yang akan dipercayai oleh orang banyak. Mulai dari jejaring sosial Facebook hingga Twitter yang hari ini terbukti dipakai untuk melacak kegiatan yang dinilai “terorisme” oleh CIA. Begitu pula Reuters, CNN, Haretz, NYTimes, Wikileaks (Australia) dan lain sebagainya yang sudah dijadikan standar dalam prosedur terbaik dan teraktual dalam berita internasional. Namun kenyataannya membawa kepentingan politik.
              Gaya hidup Hedonisme menjamur di kalangan jetset dan menengah ke atas yang mempertajam kecemburuan sosial. Hegemoni barat dalam siklus informasi global tidak dapat dibendung oleh adat dan norma masyarakat setempat. Mengarahkan opini rakyat dengan menyebarkan provokasi yang akan menelurkan sentimen negatif terhadap agama tertentu. Propaganda barat yang meletakkan Islam sebagai agama Terorisme, para pejuang pembela tanah air ( Taliban dan Hamas) adalah teroris. Sementara teror terbesar yang sebenarnya adalah mengintervensi negara lain dengan mengirimkan pasukan dalam jumlah yang besar untuk membombardir rakyat negara lain atas nama misi perdamaian tanpa melindungi sipil dan anak-anak. Fakta dan realita siapa teroris yang sebenarnya diputarbalikkan dengan sekejap mata.
              Negara-negara yang berpenduduk muslim pecah, penempatan Israel di jazirah Arab sebagai sebuah momok dalam daging bagi bangsa Arab yang sudah lama bermusuhan satu sama lain. Arab adalah korban dalam pencapaian misi anti-semit Eropa di abad pertengahan. Provokasi Sunni dan Syiah yang belum jelas juntrungannya siapa yang memihak siapa. Hingga semangat Bangsa Arab yang membara untuk meruntuhkan pelbagai rezim Diktatorisme yang pecah dalam semangat The Arab Spring. Semua permasalahan ini bercampur baur menjadi satu kesatuan yang bermuara pada kejayaan kaum feodal yang bersembunyi di balik “peradaban nan berkilau” di abad ke 21. Padahal bobrok.
Dunia Islam dan seluruh aspeknya sudah diserang secara diam-diam sejak berakhirnya perang salib. Perang yang bertujuan menghancurkan sistem nilai, norma dan moral sudah berlangsung sejak lama tanpa kita sadari. Ghazwul Fikr merupakan perang terindah dan terlembut dalam sejarah konspirasi anak manusia. Meracuni raja adalah sebuah tindakan yang bodoh, tapi mempangaruhi massa untuk menyerang dan merampok ke dalam istana adalah ide brilian.

Phobia Islam
Islam adalah istana yang sedang dijarah. Ilmu pengetahuan dan semua ajaran kebenarannya tengah dirampok, dan nama baiknya tengah diputarbalikkan. Konotasi negatif terhadap Islam ini akhirnya berbuah pada penyakit akut sentimen masyarakat dunia pada Islam yang dinamakan Phobia Islam. Takut akan kejayaan Islam yang dahulu akan kembali lagi. Takut akan kebenaran yang dibawa Islam. Hingga takut akan terhalangnya Hak Asasi Manusia (HAM) yang selama ini menjadi alasan bagi mereka dalam menegakkan hawa nafsu belaka. Hak dan kebatilan sudah ditukar dengan kepingan emas.
Sebuah ajaran menyeluruh yang memberikan panduan kebenaran dalam menata kehidupan manusia mulai dari dalam janin hingga liang lahat, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur lagi. Semua aturan ini tidak dapat dipisahkan dengan negara (sekularisme), tidak bisa pula ditambah dan dikurangi ataupun dipilah pilih (liberalisme), apalagi disamakan dengan aturan manusia (pluralisme) yang berujung pada penafian (Atheisme). Alqur’an dan sunnah Nabi SAW berlaku sepanjang zaman. Yang membedakannya hanyalah cara pemahaman dan penafsiran mutaakhhirin (baca : orientalis) yang sering dipandu oleh hawa nafsu dan kepentingan sepihak tanpa keilmuan yang memadai dan penilaian yang objektif berdasarkan tuntunan para salaf.

Pemikiran Reflektif
Untuk mengembalikan keditjayaan Islam kembali, butuh pemikiran Reflektif. Yaitu refleksi untuk mengetahui sejauh mana perbuatan umat muslim dapat dapat mempengaruhi naiknya peradaban Islam. Refleksi itu diambil dari bagaimana umat Islam mengambil peran kepemimpinan dari level apa saja. Kita harus bertanya pada diri sendiri, perbuatan apa yang bisa ditunjukkan sebagai muslim yang baik. Dan tiga aspek militer, ekonomi, dan keilmuwan (pendidikan) adalah faktor utama yang menentukan sebuah peradaban itu kuat atau lemah.
Adalah keniscayaan setiap individu muslim hari ini untuk menegakkan kembali kebenaran dalam agama Islam pada dirinya dan masyarakat sekitarnya. Tanpa kesadaran dan aksi yang berarti, Islam akan sulit menaiki lagi tangga kejayaannya. Persatuan umat adalah kuncinya. Dan hal itu dapat dimulai dari diri kita sendiri.
Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis : Muhammad Zakaria Darlin
Mahasiswa Univ. Al-Azhar, Mesir, Fakultas Bahasa Arab, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab.

Posted By : PKS Beringin DS

Jangan Menyepi dari Dakwah








Hati-hati dengan kesepian. Inilah salah satu penyakit yang mampu menggerogoti semangat berkarya, beramal dan berdakwah. Dulu ada sebagian kaum berilmu yang menyepikan diri dari pergaulan bersama umat karena ingin fokus dalam beribadah kepada Allah SWT. Tidak mau disibukkan dengan aktivitas lain yang akan mengganggu konsentrasi ibadahnya.
Benarkah pendapat seperti diatas? Saya hanya ingin memberikan penegasan bahwa berpendapat seperti diatas sebenarnya sangat tidak salah saat umat semuanya sadar menjalankan syariat agama? Namun sekarang masih banyak kita dapati umat yang antipati menjalankan ajaran agamanya. Masih banyak orang mengaku Islam tapi tak pernah patuh menjalankan ajarannya. Lalu kalau banyak orang sholeh yang tergoda untuk menyepi dan meninggalkan kebisingan dunia, siapa yang akan menyadarkan orang-orang yang mengaku beragama tapi tak mau menjalankan syariat agamanya itu? Siapa yang memberikan pencerahan bagi umat yang semangat beribadahnya memburam? Siapa yang bangkit melawan tontonan kemaksiatan yang memerihkan mata? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Saudaraku, mari hentikan aktivitas menyepi kita. Menyepi dari urusan umat. Menyepi dari aktivitas dakwah. Sesungguhnya dakwah adaah urusan kita yang sudah tersinari dengan cahaya hidayah. Mengapa kita berhenti dari aktivitas mulia ini. Biarlah yang lain berhenti dari aktivitasnya karena godaan-godaan dunia yang tak mampu dilawannya. Tapi pastikan kau bukan dibarisan orang-orang yang tergoda itu. Biarlah yang lain menyepi karena virus merah jambu yang membuat nyali berjuangnya mati. Tapi pastikan itu bukan engkau. Biarlah yang lain pergi asalkan kau tetap berada dibarisan ini.
Kita amat tahu godaan-godaan untuk menyepi itu sangat banyak menyapa. Memanggil kita dengan sangat kerasnya untuk menghampirinya. Tapi jangan pernah tergoda. Keindahan surga dan kenikmatan bersaudara terlalu sayang untuk kita tinggalkan.
Saudaraku, kenapa panggilan untuk menyepi itu semakin kuat godaannya? Jawabannya karena kita telah kehilangan kenikmatan beribadah kepada Allah. Coba periksa tilawah Qur’an kita. Apakah tilawah itu mampu meresap dalam sanubari kita? Coba cek sholat kita, apakah sudah kita kerjakan dengan khusyuK? Coba amati sholat dhuha dan tahajud kita, sudahkah mampu kita kerjakan dengan rutin? Coba cek kedekatan kita dengan saudara-saudara seperjuangan, semakin renggang atau semakin erat?
Ketika sholat tak mampu lagi khusyuk, ketika tilawah Qur’an tak lagi menenangkan jiwa. Ketika dhuha dan Qiyamullail sudah semakin sering ditinggalkan. Ketika kita semakin jauh dari saudara-saudara seperjuangan. Waspadalah, itulah yang menyebabkan virus untuk menyepi dari jalan dakwah berkembang biak. Ketika virus-virus keinginan menyepi itu tak segera dibasmi maka dia akan menjadi penyakit dakwah yang mematikan.
Hampir dapat dipastikan pengidapnya akan meninggalkan jalan menuju surga yang pernah dilaluinya selama ini. Ketika pengidapnya telah berjamaah maka akan dipastikan kapal jemaah dakwah itu akan hancur berkeping-keping. Selanjutnya kehancuran kapal jemaah dakwah akan menghancurkan jati diri umat terbaik. Dan hancurnya jati diri umat terbaik akan menghancurkan kehidupan.
Sesungguhnya dunia ini belum berakhir karena masih banyak orang beriman yang menjalani aktivitas dakwahnya dengan penuh keikhlasan dan ketundukan. Regenerasi orang beriman hanya tercipta dari kemauan para pendakwah mengorbankan waktunya, hartanyanya dan bahkan hidupnya dalam mengajarkan syariat-syariat Allah. Mari waqafkan kehidupan kita untuk menghadirkan generasi-generasi orang beriman yang patuh pada perintah Allah SWT. Jangan tergoda untuk menyepi karena bagi kita dakwah adalah nafas kehidupan yang membuat usia hidup kita masih bertahan lama.

Sardini Ramadhan

Posted By : PKS Beringin DS

Cara Memandang 'Kegagalan' Di Medan Dakwah

Oleh Abdullah Haidir

Kita seringkali begitu enteng menilai sebuah kegagalan sebagai 'kegagalan', lengkap dengan komentar-komentar yang meremehkan. Padahal, umumnya kegagalan terjadi setelah terwujudnya sebuah amal. Atau bahkan, kegagalan terjadi setelah teraihnya sekian langkah keberhasilan.

Contoh sederhana, sebuah kesebelasan sepakbola yang dikatakan gagal masuk final, atau gagal menjuarai kejuaraan piala dunia, atau seorang atlit yang dianggap gagal meraih emas di arena olympiade, lalu orang-orang dengan mudah mencibirnya. Sesungguhnya mereka telah melewati keberhasilan yang sangat jarang mampu dilewati oleh tim atau orang selevel mereka, apalagi orang yang bukan level mereka. Maka, meskipun raut kesedihan itu terbayang diwajah mereka karena kegagalan saat itu, sebetulnya mereka telah melewati sekian banyak kebahagiaan dari sekian panjang perjalanan hingga berhasil masuk dalam even bergengsi tersebut.

Agenda dakwah, jika dipandang dari sisi target-target yang diharapkan, sering berujung pada penilaian 'gagal', atau paling tidak, dinilai 'tidak memuaskan atau belum sesuai harapan'. Hanya saja, kita sering hanya melihat dari satu sisi saja, padahal, banyak point yang dapat diambil dari sebuah usaha yang belum mencapai target yang diharapkan. Jika kita perhatikan, dibalik apa yang dikatakan kegagalan pada sejumlah masyru' (proyek) dakwah pada level tertentu, sesungguhnya kita telah melewati sekian banyak capaian dakwah yang sekian puluh tahun lalu masih merupakan khayalan dan impian. Jika obyektif, anda bisa jadi sulit menghitung banyaknya capaian-capaian dakwah yang cukup membanggakan jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

Memang, sisi buram selalu saja ada dalam perjalanan dakwah dan tidak boleh pula diingkari. Hanya saja, jika ada sebagian orang begitu fasih menyebutkan satu persatu keburukan dalam agenda dakwah sehingga berpengaruh melemahkan langkah perjalanan, seharusnya kita lebih fasih lagi menyebutkan capaian-capaian dakwah yang dapat menyemangati langkah dalam perjalanan dan menerbitkan optimisme lebih besar.

Layak kita ingat, titik tekan dalam dakwah adalah 'amal' bukan 'hasil' (At-Taubah: 105). Sebab kalau titik tekannya adalah hasil, maka Nabi Nuh dapat dianggap 'gagal', karena cuma segelintir saja yang bersedia ikut beriman bersamanya setelah 950 tahun berdakwah, bahkan termasuk anak isterinya tidak ikut beriman. Nabi Zakaria juga dapat dianggap 'gagal' karena justeru dibunuh oleh kaumnya yang dia dakwahi. Ashahbul Ukhdud adalah kelompok yang 'gagal', karena perjuangan mereka berujung di kobaran api membara. Namun nyatanya, Allah mengabadikan mereka dalam barisan pioner dakwah yang menjadi inspirasi para dai berikutnya.

Maka, ketika seorang dai selalu berada dalam arena 'amal' dan 'kerja nyata' sesungguhnya itulah kerbehasilannya dalam dakwah. Perkara hasil, itu wewenang Allah yang menetapkan kapan dan dimana dia diberikan. Sering terjadi dalam arena dakwah, kemenangan, Allah tentukan pada tempat dan waktu yang tidak diperkirakan. Namun yang pasti, Allah telah janjikan kemenangan bagi mereka yang berusaha dan beramal. Yang pasti, kemenangan tidak akan Allah berikan kepada mereka yang tidak beramal. Juga yang pasti, orang yang berhasil, adalah orang yang pernah gagal dan orang yang gagal sesungguhnya adalah orang yang tidak pernah berusaha!

Kegagalan yang membuat kita terus bekerja dengan sabar untuk mencari peluang dan berharap kemenangan, jauh lebih mulia ketimbang kemenangan yang membuat kita sombong dan menghentikan langkah. Bisa jadi, kegagalan merupakan cara Allah agar kita terus berada dalam kebaikan dan kemuliaan beramal seraya terus bersandar kepada-Nya.

Maka, langkah ini tidak boleh berhenti. Tak kan surut kaki melangkah, begitu kata sebait syair nasyid. Medan amal begitu beragam dan luas terbentang menanti aksi kita. Sebab, surut melangkah karena sebuah agenda yang dianggap gagal, justeru lebih buruk dari kegagalan itu sendiri. Lebih buruk lagi dari itu adalah, mereka yang senang dan tersenyum puas melihat usaha dan amal saudaranya yang dia anggap gagal…!


Riyadh, Syawwal 1433 H 


Posted By : PKS Beringin DS

Kamis, 13 September 2012

Kamis, 13 September 2012

Mursi Memang Beda


           al-ikhwan.net - Tulisan ini bukan maksud ingin memuji-muji Presiden mesir terpilih yang baru Mohammad Moursi.
Tapi sekedar ingin sedikitnya mengambil teladan dari Mohammad Moursi.            Moursi memang beda.
Hari-hari pertamanya setelah diumumkan kemenangannya secara resmi sebagai Presiden, Beliau tidak melupakan tetangga-tetangganya dan membuka lebar pintu rumahnya untuk bersapa ramah tamah bertahniah mengucapkan selamat. Bahkan setelah diketahui kemenangannya melalui penghitungan cepat timsesnya Beliau langsung turun ke maidan tahrir.            Moursi memang beda.
Di mata rakyat kini, bagi seorang Presiden, istana kepresidenan menjadi sebuah istana yang keramat dan sakral serta istimewa untuk seorang Presiden. Istana yang pintu-pintunya seakan tertutup untuk rakyat. Yang jendela-jendelanya tak mampu ditembus oleh rintihan payahnya hidup rakyat. Bahkan ketika satu saja pintunya terbuka, rakyat pun masih tetap diberikan syarat dan ketentuan berlaku dan terbuka hanya di open house tahunan.          Moursi memang beda.
Bukan tidak disediakan istana kepresidenan untuknya. Tapi Beliau lebih senang memilih untuk tidak tinggal di istana kepresidenan dan tetap tinggal di rumah kontrakannya semasa menjabat sebagai ketua partai Hurriyah wal ‘adalah, yang pintunya tidak jauh dari tetangganya dan rakyatnya. Beliau senang rakyatnya dengan mudah mengetuk pintunya meski hanya sekedar ingin curhat tentang anak dan istri mereka. Dan sampai saat ini belum ada kabar apakah Beliau tetap akan tinggal di rumah kontrakannya atau akan tinggal di istana kepresidenan.           Moursi memang beda.
Bukan ingin menyusahkan pengawalnya untuk selalu terjaga sepanjang jalan menuju masjid di setiap waktu sholatnya. Tapi hanya sekedar ingin taat menjalani ibadah sebagai hamba Allah swt. Setelah resmi menjadi seorang Presiden pun, Beliau tetep ngotot ingin melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Bahkan dalam sebuah surat kabar mesir dikabarkan Beliau selalu didapati sebagai imam ketika sholat di masjid. Bukan karena Beliau Presiden lalu orang segan lantas Beliau diminta menjadi imam.
Tapi bahkan memang Beliau telah hafal al-qur’an. Mungkin ini salah satunya sebab Beliau masih tetap tinggal di rumah kontrakannya; ingin tetap bertatap muka dengan rakyatnya dan bersama-sama taat sebagai seorang hamba. Akhirnya, penjagaan dari pengawalnya pun Beliau minta untuk tidak terlalu ketat.         Moursi memang beda.
Bukan karena tidak senang ada pengawal pribadi sebagai seorang Presiden. Tapi karena keyakinan yang kuat bahwa Allah swt lah sebaik-baiknya penjaga.
Pengawal kepresidenan yang menurutnya berlebih dan mengganggu kebebasan rakyatnya pun diminta untuk dikurangi personelnya. Seperti pada saat Beliau hendak melangsungkan sholat jum’at di masjid al-azhar.
Dengan paswalpres yang tidak terlalu banyak personelnya hampir dan bahkan tidak mengganggu lalu lintas yang menyebabkan kemacetan hanya sebab iring-iringan Presiden pada umumnya.
Lintasan jalan pada lokasi kunjungan yang sangat dekat dan satu arah dengan pasar tidak di tutup sama sekali. Bus dan angkutan umum masih tetap berlalu lalang di sekitar lokasi kunjungan Presiden. Bahkan pasar yang sangat dekat dan satu arah dengan lintasan lokasi kunjungan masih tetap aktif.
Persis sama sekali seperti tidak ada kunjungan Presiden yang biasanya jalanan mendadak sepi karena ditutup. Kejadian seperti itu pun di ulangi ketika Mohammad Moursi hendak mengikrarkan sumpah di Mahkamah Konstitusi Agung.         Moursi memang beda.
Keyakinannya bahwa Allah swt lah sebaik-baik penjaganya, dibuktikan lagi dengan aksinya di panggung maidan tahrir saat menyampaikan pidato dan sumpah Presiden di hadapan rakyatnya secara langsung. Sumpah dan teriakan lantang untuk rakyatnya bahwa ia tidak takut kecuali kepada Allah swt membuat seluruh rakyat tak mampu lagi membendung air mata mereka. Maidan tahrir pun bukan hanya dipenuhi ratusan juta rakyatnya tapi juga dibanjiri dengan air mata haru dan bangga dari rakyatnya.         Moursi memang beda.
Bukan hanya sesosok Beliau saja yang bisa diteladani. Anggota keluarganya pun ia berikan teladan yang sangat baik. Ibunda Najlaa, istri Mohammad Moursi yang begitu anggun dan bersahaja dengan jilbab lebarnya yang teramat sederhana, enggan untuk diberikan gelar Ibu Negara. Ia lebih suka dipanggil ummu Ahmad. Panggilan yang disandarkan kepada putra pertamanya Ahmad Mohammad Moursi. Ia berpendapat bahwa tidak ada yang namanya ibu negara yang ada adalah pelayan negara.
Ahmad Mouhammad Moursi, putra pertama Mohammad Moursi. Baginya, kemenangan orang tuanya sebagai Presiden adalah hal yang wajar dan merupakan karunia Allah swt yang diberikan kepada orang tuanya.
Dan itu tidak akan mengubah pola kehidupan atau profesinya yang kini sebagai seorang dokter. Ia akan tetap menjalani hidupnya dan berusaha belajar hidup lebih baik dan mandiri tanpa terpengaruh oleh jabatan ayahnya.
Dan bahkan salah satu putra Mohammad Moursi yang lain melayangkan surat kepada nya untuk menyampaikan bahwa dirinya akan menaati ayahnya sebagai seorang Presiden jika ayahnya menaati Allah SWT dan memperhatikan hak-hak rakyatnya dan akan menentang ayahnya sebagai seorang Presiden jika menentang Allah swt dan tidak memenuhi hak-hak rakyatnya.
Semoga kita bisa mengambil teladan dari Presiden Mohammad Moursi;
        Bahwa ketaqwaan kepada Allah adalah segalanya dalam hidup.
        Bahwa tidak ada yang harus ditakuti kecuali Allah semata.
        Bahwa kesederhanaan keharusan bagi seorang pemimpin.
        Bahwa bukan aib bila seorang pemimpin hidup sehari-hari berbaur dengan rakyat  atau                      bawahannya.
       Bahwa semestinya tidak ada sekat antara pemimpin dan rakyatnya.
       Dan banyak dari teladan yang bisa diambil dari sepak terjang Mohammad Moursi
.

Abu Bakar el-Shidqi

Posted By : PKS Beringin DS

 

"Terima Kasih Atas Kunjungannya dan Sebelumnya Meminta Maaf, Apabila ada Kesalahan dan Kekhilafan dalam Menyajikan Informasi Serta terdapat Link-Link yang belum Aktif". Jazzaakallah Khairan Katsiran, Assalamu'alaikum Wr, Wb. ^_^

Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates